Yudi Purnomo Harahap (3 - Habis)

Kalau Tak Bisa Ungkap Penyerang Novel, Presiden Harus Ambil Alih

publicanews - berita politik & hukumKetua Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo Harahap. (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, KAPOLRI telah membentuk tim gabungan untuk mengungkap kasus teror yang menimpa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Tim telah bekerja sejak 8 Januari dengan rentang masa kerja enam bulan. Diharapkan, Senin (8/7) nanti sudah ada hasil dari tim yang melibatkan banyak unsur itu.

Wadah Pegawai (WP) KPK mengarapkan tim gabungan berhasil mengungkap misteri kasus yang sudah terbenam sejak 11 April 2017. "Setidaknya, operator lapangan bisa berhasil terungkap," kata Ketua WPYudi Purnomo Harahap dalam perbincangannya dengan Hartati dan Edi Hartanto  dari Publicanews di Gedung KPK, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Andai belum ada titik terang, Yudi berharap Presiden Joko Widodo memenuhi janji untuk menuntaskan kasus ini dengan membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) di bawah presiden.

Bagaimana internal KPK menyikapai kasus teror terhadap Novel Baswedan?
Sebelum Bang Novel itu kan ada teror-teror kepada penyidik KPK juga. Mulai dari Bang Afif (penyidik Afif Julian) rumahnya ditaruh seperti bom, mobilnya disiram air keras, ada penyidik perempuan yang dirampas laptopnya. 

Kemudian ketiga Bang Novel. Seterusnya rumah Pak Laode (Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif) yang dilempar bom molotov, kemudian rumah Pak Agus (Ketua KPK Agus Raharjo) yang ditaruh benda seperti bom padahal bukan bom. 

Ini kan banyak kesamaan polanya ya, berlanjut dan belum ada satupun diproses pelakunya. Ini kan menarik, apakah pelaku-pelaku yang meneror KPK adalah orang yang profesional, orang yang canggih karena beberapa CCTV mereka berhasil kelabui. 

Bayangin rumah Ketua KPK dan Wakil ketua KPK itu kan simbol negara, simbol antikorupsi. Diteror itu kan enggak tertangkep, berarti bener-bener canggih ini pelakunya. 

Salah satu cara untuk menghentikan mereka ya 
mengungkap siapa pelaku terornya. Kalau gini kan enggak kapok-kapok, bisa jadi besok ada lagi-ada lagi. 

Jadi kami berharap yang bang Novel ya karena kan matanya udah hampir buta bahwa pelakunya cepat ditangkap. Apalagi kan sudah ada Komnas HAM memberikan rekomendasi, Ombudsman, juga ada tim gabungan.

Tim gabungan bentukan Kapolri apa sesuai yang diharap WP?
Wadah Pegawai maunya di bawah presiden, kalau ini kan di bawah Kapolri. Bang Novel bertepatan 800 hari juga sudah diperiksa juga. Kami berharap di akhir penghujung waktu tim pencari fakta ini --kita pikir tidak perlu diperpanjang-- langsung sampaikan bahwa ini tidak terungkap pelakunya.

Jadi istilahnya biar nanti presiden turun tangan, langsung di bawah beliau. Ini ada apa, kenapa tidak selesai. Karena kami berharap ada satulah yang tuntas teror-teror di KPK, kenapa teror di KPK tidak pernah selesai, ada lagi-ada lagi, pelakunya pun tidak pernah tertangkap.

Sejauh mana pimpinan KPK mendesak agar kasus ini segera terungkap?
Ya, saya pikir pimpinan juga punya satu kesamaan, apalagi kan mereka mau berakhir, istilahnya di tangan mereka, di zaman mereka. Mereka selesai ya, tapi kan beban moralnya akan terus berlanjut. Saya pikir dukungan dari pegawai KPK sudah sangat berlanjut. 

Pak Saut (Situmorang) sudah memberikan sepeda juga untuk bukti bahwa pimpinan mendukung apa yang dilakukan Wadah Pegawai untuk terus menyuarakan. 

Ya, ini memang saya pikir rasa kemanusiaan tentu sampai kapanpun kita tetap akan meminta. Pak Presiden juga sudah berjanji, apalagi yang dilakukan KPK juga sudah membantu Pak Jokowi dalam upaya melancarkan roda perekenomian, kemudian agar pemerintahan bersih efektif dan antikorupsi. 
Jika pak Jokowi ingin dikenang sebagai tokoh antikorupsi ya harus berani melindungi KPK.

Kalau misalnya hasil Tim Gabungan bentukan Kapolri masih samar, apa yang akan ditempuh WP?
Ya, tentu kami akan mendorong terus kali. Ini kan tim sudah berkerja selama enam bulan. Ada penetapan tersangka, bolehlah operatornya dulu, tapi ini kan pelakunya masih bebas berkeliaran di luar sana. Siapa yang membiayai dia.

Kalau tim pencari fakta di bawah Kapolri tidak berhasil berarti tinggal presiden ambil alih seperti awal-awal yang kami suarakan.

Sejauh apa keyakinan WP, tim gabungan bentukan Kapolri berhasil mengungkap pelaku? 
Kita lihat saja ya. Ini kan pertaruhan dari tim pakar terutama, isinya orang-orang yang reputasinya sudah baguslah di Indonesia, mulai dari mantan Ketua Komnas HAM, Pak Ifdhal Kasim, sudah mumpuni. Kami yakin mereka juga pengin tahu.

Kabar adanya ketelibatan jenderal dalam kasus Novel?
Kita percayakan sampai bulan Juli, kita pengin lihat konpersnya seperti apa, hasilnya ada. Kalaupun hasilnya tidak ada ya jangan minta diperpanjang. Ya langsung (dibentuk tim) di bawah Presiden, gitu kan. Mungkin ada akses-akses yang istilahnya lebih kuat dan sebagainya.

Presiden harus turun tangan sebagai bentuk komitmen memberantas korupsi?
Betul. Mungkin beliau ingin step by step ya. Kan ujung-ujungnya sama seperti yang kami minta, tim pencari fakta di bawah presiden.

Idealnya siapa yang akan mengisi di tim pencari fakta di bawah Presiden?
Orang-orang yang jelas tokoh-tokoh antikorupsi, kemudian tokoh-tokoh bangsa mungkin mereka punya pandangan-pandangan yang lain. orang-orang yang punya pengalaman ahli di investigasi, terutama dari penegak hukum, kemudian ahli-ahli dari komputer, pokoknya macam-macam ahli dari berbagai profesi yang berani, dia sudah menjadi negarawan. Tapi sekali lagi komitmen dari pak Presiden saja.

Novel pernah menyampaikan secara personal terkait kasusnya?
Sama seperti kita, ini akan terungkap kalau TGPF di bawah pak Presiden. Itu yang kami sepakat, makanya itu yang kami suarakan kemana-mana.

Baru-baru ini ada pernyataan mengenai KPK Radikal, apakah ini diembuskan untuk mengaburkan kasus Novel?
Bukan kasus bang Novel juga, salah satu upaya untuk melemahkan pemberantasan korupsi. Pak Saut sudah bantah, WP sudah bantah. Saya pikir janganlah melihat orang dari pakaiannya tapi apa yang dikerjakannya. Memangnya ketika dia memakai celana cingkrang, dia berjenggot, dia berjilbab bagi yang muslim apakah mengganggu pekerjaan? Kan enggak. 

Kalau memang ada teroris di KPK tangkap saja, tunjuk orangnya si ini teroris, laporkan saja ke BNPT.

Menurut kami ini (isu radikalisme) hanya memancing-mancing aja. Menurut saya enggak masalah apapun pakaian anda, pakai gamis tapi antikorupsi silakan. Tapi kalau anda pakai jas rapi kemudian Anda korup, ya itu yang kita lawan*** (Habis)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top