Sekjen Seknas Jokowi, Dedy Mawardi (1)

Jangan Tanya Militansi M Yamin

publicanews - berita politik & hukumDedy Mawardi. (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, KABAR duka kepulangan Ketua Umum Seknas Jokowi, Muhammad M Yamin, mengentak rekan-rekannya. Loyalis dan pendukung Joko Widodo itu meninggal pada Jumat (22/3) dalam perjalanan darat dari Jakarta ke Yogyakarta untuk mengikuti Deklarasi Alumni Perguruan Tinggi se-Yogyakarta di Stadion Kridosono.

Presiden Joko Widodo yang melayat di rumah duka mengatakan, Wakil Direktur Relawan TKN paslon 01 itu sebagai sosok yang rajin dan pekerja keras.

Sekjen Seknas Jokowi, Dedy Mawardi, mengatakan rasa kehilangan besar akan ketokohan Yamin yang selalu gigih mendukung Jokowi.

M Yamin berpulang di tengah kampanye seolah menunjukkan sisi militansi dalam memperjuangkan kepemimpinan nasional di bawah sosok sipil Joko Widodo. Berikut perbicangan Dedy Mawardi dengan Edi Hartanto dari Publicanews.

Meninggalnya Yamin terasa mendadak, apa kesan utama Anda dari sosok Ketua Umum Seknas Jokowi?
Yamin salah satu dari aktivis pro demokrasi yang paling gigih untuk mencalonkan Jokowi tahun 2013. Dan memperjuangkan dengan loyalitas, dedikasi, militan, dan konsisten untuk memenangkan dan menjaga Jokowi selama periode satu dan menuju periode keduanya.

Saat ini bagaimana militansi Seknas Jokowi di tengah mepetnya waktu kampanye?
Militansi kita jangan ditanya. Kadang saya malah kasihan pada para relawan. Ada yang berhari-hari nggak pulang, hari Sabtu-Minggu juga digunakan untuk turun ke kampung-kampung, pasar, kumpul dengan warga.

Tapi dari pemberitaan kok relawan kubu Prabowo-Sandi terkesan lebih tangguh?
Militansi saya kira sama. Hanya bedanya, kita incumbent di sana kan penantang. Di situ saja. Semangat dan militansi sama. Kawan kami banyak yang masuk rumah sakit. Saya sampai sakit, kena stroke. Itu contoh saja. Bahkan, ada yang meninggal karena tidak mau istirahat. Jadi kalau ada yang ngomong militansi kita berkurang, ayuk ikut jalan.

Bagaimana kondisi di lapangan, apa kubu 01 juga ada penolakan?
Temen-temen yang melakukan door to door ada juga yang ditolak mentah-mentah. Mereka bilang jangan masuk wilayah kami, ini wilayah 02. Kita tidak mau bertengkar. Tapi, kita bilang kalau polisi bolehin ya kami masuk. Kami hindari clash fisik, tapi kalau hanya omongan ya tetap jalan. Namanya Pemilu kenapa enggak boleh sosialisasi. Nggak boleh ada dominasi ini wilayah 01 atau 02.

Berdasar survei Kompas, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf mengalami penurunan sebaliknya Prabowo-sandi naik. Apa yang bisa dibaca dari fenomena ini?
Namanya survei itu berbeda-beda. Kompas itu bukan lembaga survei. Kalau mengeluarkan data itu ya, saya kira masih wajar saja. Nah, karena Litbang Kompas bukan lembaga survei jadi wajar saja berbeda. Kita tahu bahwa metodologi Kompas berbeda jauh dengan metodologi lembaga survei resmi yang lain. Apalagi Pemred Kompas bilang kami bukan lembaga survei.

Bagaimana menanggapi hasil survei itu
Hasil survei itu tidak membuat kita bereaksi tetapi sebagai bahan evaluasi saja. Kita tidak panik meski kubu sebelah sana sudah kayak eforia kemenangan. Hasil survei itu untuk bahan evaluasi langkah-langkah yang sudah dilakukan dan yang akan diterapkan.

Ada yang janggal dalam survei itu?
Kita tidak menyalahkan Kompas. Namun, pertanyaannya apakah mungkin kenaikan itu karena pendukung Jokowi beralih ke Paslon 02. Kan tidak mungkin, karena 95 persen yang memilih Jokowi sudah mantap pilihan.

Hasil survei berbeda-beda. Apa yang menjadi patokan bukti kemenangan Jokowi-Ma'ruf?
Kami melihatnya antusiasme masyarakat saja. Dimana-mana penyambutan Jokowi luar biasa dari masyarakat. Di daerah yang kita sudah menang di atas kertas, kita lakukan sosialisasi tidak mengebu-gebu. Tapi, di Jakarta yang banyak disebut kita kalah kita optimalkan.

Bagaimana dengan isu-isu seperti PKI, anti-Islam terhadap Jokowi di lapangan?
Sebenarnya isu-isu itu hanya muncul di Jawa. Di luar tidak ada itu. Di Sumatera lebih aneh. Berdasarkan survei kami di Lampung dan Sumatera Selatan alasan mereka tidak memilih Jokowi itu bukan PKI atau anti-Islam tetapi karena Pak Jokowi tampilannya tidak gagah. Ini mengagetkan kami.

Saat ini bergeser pada gestur tubuh. Milih Sandi ketimbang Ma'ruf Amin. Pemilih pemula lebih memilih 02 karena katanya nggak ngefek karena Jokowi nggak gagah.

Bagaimana mengatasi isu penampilan fisik itu?
Ya... itu mau bagaimana? Karena memang Pak Jokowi begitu. Tapi, kita jelaskan Jokowi itu seorang pengusaha bukan militer. Kita cerita sosok Jokowi yang bersih, jujur, juga agamis, puasa Senin-Kamis, rajin salat. Kita beberkan fakta. Tapi, kalau gestur dan penampilan, repot kita.

Bagaimana strategi kampanye Seknas Jokowi saat ini?
Kita mengembangkan model kampanye internal, mendekati orang-orang yang memang mendukung Jokowi. Kita temui dan kita kasih semua hal informasi tentang program paslon 01. Diharapkan mereka bisa mempengharuhi yang lain. Kita sudah tinggalkan model pengumpulan massa.

Dari mana sumber akomodasi dan pendanaan relawan?
Kita ada tradisi gotong royong dengan menyumbang. Kita juga banyak dibantu. Banyak yang tiba-tiba telepon memberi bantuan. Kita tidak perlu mewah-mewah.

Sejauh apa koordinasi dengan relawan Jokowi yang lain?
Bagusnya kita selalu berkoordinasi sehingga tidak terjadi benturan. Kalau kita sudah masuk di desa A maka relawan yang lain masuk di desa yang lain. Kita 12 organ relawan yang lama ini selalu berkoordinasi.

Bagaimana optimisme kemenangan Jokowi-Ma'ruf?
Saya kira pilihan orang tidak berubah lagi dalam waktu tersisa ini kecuali yang belum menentukan pilihan. Namun, andaikan 14 persen yang belum memilih kemudian mencoblos Prabowo kemenangan tetap Jokowi. Saya prediksikan kemenangan Jokowi di angka 55 hingga 57 persen. (Bersambung

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top