Muhammad Yamin (3 - Habis)

Kubu Jokowi Kumpulan Orang Baik

publicanews - berita politik & hukumKetua Umum DPN Seknas Jokowi, Muhammad Yamin. (Foto: Publicanews/Sutrisno)
PUBLICANEWS, PEMILIHAN Presiden 2019 merupakan tanding ulang alias rematch antara petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Prabowo Subianto. Ketua Umum DPN Seknas Jokowi, Muhammad Yamin, mengatakan untuk meraih kemenangan selalu ditekankan cara-cara yang baik. Ia menyebut, pihak yang kurang baik pasti akan terpental di kubu Jokowi.

"Di sini dijamin orang yang baik, kalau dia terbukti tidak baik maka pasti akan terpental," ujar Yamin.

Berikut perbincangan dengan Edi Hartanto dan Sutrisno Syahputra dari Publicanews yang dilakukan di Rumah Aspirasi, Jalan Proklamasi, Jakarta.

Sebenarnya target kemenangan Jokowi berapa persen dalam Pilpres 2019?
65 persen. Sudah ada survei yang menujukan 60 persen, tapi sebelum hari-H kita tidak bisa anggap enteng.

Pilpres 2019 merupakan rematch 2014. Bagaimana Seknas Jokowi melihat sosok Prabowo Subianto saat ini. Katanya sudah banyak perubahan?
Tidak, sama aja.

Tapi banyak orang yang mengatakan Prabowo sudah berubah
Apa yang berubah, pidatonya yang kemarin itu yang bilang 99 persen rakyat Indonesia hidupnya susah, menebar ketakutan, memberikan gambaran buruk, memanfaatkan situasi yang tidak baik. Misalnya yang di ungkit-ungkit itu dolar naik, masyarakat tambah miskin, Indonesia nggak ada harapan.

Semua yang diomongkan itu kebobrokan yang sudah ada sejak masa lalu yang coba diperbaiki (Jokowi). Korupsi dimana-mana sudah ada sejak zaman Soeharto dan dia ikut menikmatinya. Dari mana dia, masa dia punya pabrik kertas. Darimana kalau nggak... sama aja. Kemudian kalau dia ngomong asing-asing menguasai aset Indonesia, yang menjual Freeport pertama ayahnya.

Maksudnya?
Ya, ayahnya... Soemitro (Soemitro Djojohadikoesoemo) juga terlibat, itu kan perancang ekonomi Indonesia, ya kan. Jadi ayahnya dan ayah mertuanya, dan dia ikut menikmatinya. Dia ngomong apa.

Jadi, maksudnya kontradiktif?
Yaa... saya akan memperjuangkan nasib buruh, berapa buruhnya pabrik kertasnya yang gajinya belum dibayar. Indonesia ini sudah blang-belontang, apalah itu. Ekonomi sogok, penyelundupan ada.

Jadi banyak kasus yang terjadi?
Ada, apa kasus yang tidak menimpanya? Jadi, yang benar itu, di sana itu berkumpul orang jahat, di sini berkumpul orang baik.

Sampai seperti itu kesimpulannnya?
Reza (Chalid) di sana, siapa orang baik? Amien Rais di sana.

Kenapa bisa berkesimpulan seperti itu, apakah Anda bisa menjamin kelompok Anda orang baik semua?
Saya bisa menjamin. Kalau dia jahat maka akan terpental dengan sendirinya di sini. Mungkin ada orang yang mencoba berpura-pura sadar, pura-pura baik tapi dia akan terpental karena nggak mungkin orang jahat berkumpul dengan orang baik, dia akan terpental.

Apakah menteri-menteri yang di-reshufle juga termasuk tidak baik?
Iya, kalau dia terbukti baik ternyata ya tetap (di kabinet). Jadi kan seperti Jonan. Misalnya, apa yang sudah dilakukan Sudirman Said, BBM satu harga tidak dilakukan, Freeport tidak tercapai diambil alih, Rokan apalagi.

Ferry Mursidan Baldan, sertifikasi tidak tercapai, land reform tidak ada. Anies Baswedan, Rizal Ramli sekalipun yang ngomong doang dan malah bikin kisruh. Siapa lagi yang mau kau tunjuk, ya kan.

Bagaimana Anda membandingkan kubu Jokowi dibanding kubu Prabowo?
Jadi, pada intinya di sini berkumpul orang baik, di sana silakan nilai sendiri. Kalau ada pertanyaan, dijawab di sini dijamin orang yang baik. Kalau dia terbukti tidak baik maka pasti akan terpental.

Kampanye masih lima bulan. Banyak kemungkinan terjadi. Misalnya, kasus pembakaran bendera tauhid. Bagaimana, Seknas Jokowi menyikapi?
Semuanya itu akan mengalami dialetika, yang akan menemukan sintesanya. Tesa-antitesa-sintesa, selama apa yang kita lakukan itu on the track, kira-kira bener. Kalau dia track-nya benar, diserang orang, akan menjadi dialektika.

Contoh yang paling tepat, mereka bersekongkol mau menjatuhkan Jokowi dengan isu penyiksaan terhadap aktivis (Ratna Sarumpaet) yang pasti dilakukan oleh penguasa. Ya kau ulang lagi-lah nada-nada semuanya itu, menyalahkan pemerintah. Tetapi, pemerintah, polisi, menemukan bukti lain sehingga mereka mencoba mengubah skenario bukan menjadi baik lho ya, yang gagal lagi.

Saya selalu percaya begitu selama kita on the track. Nah itu ujian, bila kita tidak on the track ya sudah, ya selama ini tidak bisa.

Nah gitulah, jadi tidak bisa itu fitnah dan kebohongan. Saya merasa kan ada orang yang mengatakan kebohongan yang terus-menerus didengungkan akan menjadi pembenar akan mengubah seperti Hitler. Apa yang terjadi? Hitler berapa tahun, digulung oleh sejarah. Menang tapi singkat dan hasilnya buruk. Saya selalu percaya itu.

Kampanye Jokowi-Ma'ruf Amin juga tanpa noda. Misalnya, kasus videotron Jokowi yang sudah diputus oleh Bawaslu.
Menurutku itu masih bisa diperdebatkan semua. Itu kan oleh kelompok yang juga lagi kita selidiki, memang harus ada pengawasan internal dari kalangan relawan, harus sering melakukan konsolidasi.

Anda ingin mengatakan videotron itu dilakukan tidak resmi oleh pendukung Jokowi?
Lah iya, relawan itu kan... begini menurut aku, relawan itu harus teregister di TKN (Tim Kemenangan Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin), bukan di KPU gitu loh ya.

Jadi bagaimana menyikapinya?
Yang pertama kita harus tahu ini relawan ini apa maunya? Dan KPU tidak bisa menyalahkan TKN-nya karena itu kegiatan relawan.

Dalam sidang pelanggaran videotron itu, Bawaslu meminta kehadiran Jokowi-Ma'ruf Amin. Apa pendapat Anda?
Kan kamu harus sadar... begini KPU, Bawaslu, itu produk politik. Tahu artinya? Produk yang diproses di DPR. Di DPR itu ada dua, sebelah 'sana' sebelah 'sini'. Pasti ada juga sebelah sana, ya saya bilang Bawaslu ini saya kenal orangnya, bisa diukur nyalinya, kepinterannya, dedikasinya. Bisa diukur semua itu, saya kenal.

Bawaslu menyatakan ada pelanggaran kampanye dalam kasus videotron. Pendapat Anda
Lah nek wani (coba kalau berani) hahaha...

Bawaslu juga tetap pada sikapnya, misalnya eks koruptor boleh kembali nyaleg.
Ya, Bawaslu itu kan... Balik lagi, itu adalah produk politik. Yang paling banyak nyodorin caleg korupsi siapa, pasti dilihatnya dari situ dong. Gampang bae, walaupun secara hukum masih bisa diperdebatkan.

Apakah dalam hal ini sikap Bawaslu lebih berat kubu Prabowo?
Ya kita lihat saja keputusannya, kalau menurutku sih gak.

Anda sekarang juga menjadi Wakil Ketua untuk Relawan TKN. Lingkup kerja seperti apa?
Ya mengkosolidasikan semua kelompok relawan yang ada, sekitar 500-an. Itu besar dan kecil kan, ada yang kelompok kecil ada yang kelompok besar.

Setiap relawan kan punya program masing-masing, bagaimana Anda menghimpun gerak mereka?
Ya, dikonsolidasikan saja, coba dipetakan, coba di konsolidasikan, coba disinergikan. Dengan acara-acara seperti ini mereka kan sering bertemu.

Semua relawan harus masuk di TKN agar bisa konsolidasikan?
Gak lah, relawan kan gak bisa dikomando. Namanya juga relawan, mereka pakai dana sendiri, program sendiri. Tapi yang perlu diawasi oleh TKN adalah etiknya harus dijaga, regulasinya jangan dilanggar, gitu-gitu aja.

Bagaimana dengan sumber pendanaan para relawan itu?
Ya namanya juga relawan, mereka cari sendiri, mereka danai sendiri. Kalau sudah minta ke sini (TKN), maka itu bukan relawan lagi, tapi kontraktor.

Lu kontraktor apa relawan? Siapa yang nyuruh jadi relawan hahaha... (Habis)

Berita Terkait

Komentar(4)

Login
  1. sutrisno syahputra @sutrisno07 November 2018 | 09:44:22

    Hahaha disana kumpulan orang jahat dan disini kumpulan orang baik,,

    Kalau aku sih lebih tepatnya disana kumpulan orang gila dan haus kekuasaan dan disini kumpulan orang normal...

  2. Iis_osya @iis_osya06 November 2018 | 22:17:40

    Kl disuruh memilih, pasti pilihan nya pada yg baik lah.


    Jadi yg tidak baik, pasti terpental dan hancur berkeping2x.

  3. Tukang Komen @pemberiKomentar06 November 2018 | 14:04:52

    Wah...kalau gitu gubernur Jakarta sekarang tidak baik ya? apa rakyat Jakarta salah pilih? atau saat ini pak Anies sudah baik ya makanya terpilih :)

  4. Anak Gaul @gakasikah06 November 2018 | 11:47:39

    Mantab mas bro. Lanjutkan. Sudah di jalan yang benar.

Back to Top