Muhammad Yamin (2)

Jokowi Unggul, Tinggal Menjaga Ombak Agar Tidak Ada Tsunami

publicanews - berita politik & hukumKetua Umum DPN Seknas Jokowi, Muhammad Yamin. (Foto: Publicanews/Sutrisno)
PUBLICANEWS, RELAWAN Seknas Jokowi menilai dalam kampanye 2019 posisi Joko Widodo sudah unggul secara survei. Saat ini yang terpenting, kata Ketua Umum DPN Seknas Jokowi, Muhammad Yamin, adalah menjaga ombak dan angin.

Artinya, ujar Wakil Ketua Relawan Tim Pemenangan Nasional pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin ini, jangan sampai ada kesalahan dilakukan oleh para pendukung Jokowi, tanpa terkecuali bagi relawan.

Berikut perbincangan Yamin dengan Edi Hartanto dan Sutrisno Syahputra dari Publicanews yang dilakukan di Rumah Aspirasi, Jalan Proklamas, Jakarta, Pekan lalu.

Bagaimana Anda melihat situasi kampanye 2019 dibanding 2014?
Ya, sebagai incumbent pasti kita banyak diserang. Beda dulu, dulu kan nggak ada incumbent. Perbedaannya paling di beberapa titik saja, ya toh. Dia gak bisa serang situasi ekonomi dan lainnya, dia hanya bisa serang PKI, hoaks, agama, ya kan.

Sekarang ini kan kalau isu agama pelan-pelan bisa diatasi karena wakilnya adalah Ma’ruf Amin. Itu berarti bahwa kompenen NU... apalagi kalau kita lihat dari berbagai survei 80 persen mendukung Jokowi-Ma’ruf. Nah, maka dari itu isu agama bisa ditepis, tetapi mereka menyerang hoaks lain seperti soal ekonomi.

Misalnya, 90 persen rakyatnya hidupnya susah, sekarang tempe udah semakin tipis seprti ATM, ya gak. Itu kan hoaks juga, itu kan menyerang juga, ya itu penuh kebohongan.

Sekarang dikatakan rakyat hidupnya tambah susah. Tapi, bagaimana dengan inflasi? Pendapatan masyarakat bagaimana? pendapatan masyarakat itu diukur salah satunya bagaimana itu UMP (Upah Minimum Provinsi). (Ternyata) UMP naik terus, inflasi turun, ya toh.

Tapi kan orang bisa menuduh secara hoaks rakyat tambah susah. Kalau pergi ke pasar bawa 100 ribu tidak bisa dapat apa-apa, misalnya, itu kan hoaks.

Makanya kita bikin ada panduanya, seperti tabloid, supaya pendukung kita ini membaca dan bisa melawan itu, ya toh?

Menghadapi situasi itu, apa yang dilakukan relawan?
Bagi kita, sebetulnya hanya tiga pokok saja yang kita lakukan. Pertama, tugas kita itu saat ini adalah jaga ombak, tidak perlu menyerang karena semua survei menunjukan kita di atas 20 persen selisihnya. Karena itu yang penting kita itu jangan ada kesalahan terutama oleh para pendukung. Jaga ombak, jaga angin.

Kedua, situasinya seperti ini maka kita beralih dari politik ke kemanusian, nah gitu loh. Perhatiannya lebih besar kita pada kemanusian terutama untuk Palu dan Lombok.

Ketiga, membantu relawan itu kerja terus supaya partai-partai politik koalisi naik kursinya. Kita membutuhkan parlemen yang kuat 60 persen minimum atau 65 persen, gitu loh. Kelompok koalisi ini dapat kursi 65 persen maka kita bisa menghadirkan pemerintahan yang kuat, gitu loh.

Anda ingin mengatakan Jokowi saat ini sudah di atas angin?
Bukan di atas angin, tapi menjaga angin. Kita ini posisinya menjaga angin agar tenang supaya tidak mendatangkan tsunami.

Beberapa waktu lalu isu PKI masih sering dikaitkan dengan Jokowi, bagaimana menanggapi ini?
Ya, selalu usaha walaupun dulu aja tidak berhasil apalagi sekarang.

Tapi dalam beberapa kesempatan Jokowi seolah mengatakan terzalimi soal isu PKI ini.
Iya, mereka memang masih di coba terus, di media sosial juga terus berkembang.

Jadi apa yang dilakukan untuk mengikis isu PKI ini?
Ya pak Jokowi menjawabnya dengan tiga hal, pertama dia menjawabnya dengan cara memilih calon wakilnya, ya toh. Kedua dia menjawabnya dengan kebijakan, ya toh, seperti Hari Santri, pendidikan pesantren, ya toh?

Ketiga dia menjawabnya dengan narasi, jadi narasi juga tetap harus ada walaupun itu bukan fokus dalam suatu pidato dia menyotir lagi, ya toh.

Jokowi pernah menggunakan kosa kata 'sontoloyo'. Meski kemudian diakuinya sebagai keseleo?
Pak Jokowi itu mau nunjukin sama 'orang sebelah' yang sering keseleo. Ya pak Jokowi sengaja, dia ingin mengetes saja.

Sama seperti kubu sebelah itu tidak keseleo ya, si anu lima kali loh minta maaf. Siapa itu? Ehm... Sandiaga Uno. Dia nyerang Ridwan Kamil kemudian dia minta maaf. Dia nyerang susi (Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti) dan dia minta maaf, ya kan? Banyak dia minta maaf.

Pak Jokowi hanya mengetes bila dirinya mengatakan hal seperti ini, minta maaf bagaimana reaksi lainnya. Ini menurut gua karena gua tahu Pak Jokowi.

Apakah itu tidak mengurangi nilai rasa hormat. Presiden kok bicara seperti itu.
Ya hanya mengetes saja dan bahasa yang dipakai Pak Jokowi juga bahasa yang sering dipakai orang seperti Bung Karno. Ya dia mau tahu seberapa jauh hatters akan memanfaatkan ini. Kalau salah, ya saya loh. Yang saya tahu ya Pak Jokowi orang yang besar hati.

Bagaimana relawan melihat kasus pembakaran bendera tauhid. Sejauh apa berdampak pada Jokowi, karena Banser merupakan pendukung Jokowi?
Kalau berlanjut ya bisa menjadi serangan, tapi kan pihak NU Banser terus melakukan penjelasan bahwa mereka menjaga Alquran itu bukan main. Dulu mengaji atau belajar baca Quran kalau sudah selesai disimpannya kemudian ada modernisasi.

Dulu digunakanlah kapur dan ditulis kemudian kalau sudah selesai kan dihapus. Nah itu terjadi perdebatan loh, menghapus ayat Alquran yang ditulis pada masa itu, betapa hati-hatinya loh. Itu ditulis, dihapus, kapurnya jatuh dan terinjak-injak. Apakah itu masih tulisan Alquran yang kita injak-injak pada zamannya, ini konteks zamannya ya.

Akhirnya mereka mencari dalil, jadi betapa kritisnya terhadap hal-hal yang demikian itu. Jadi NU pasti tidak bodoh. Dan itu memang dimanfaatkan bahwa itu kan (peringatan) Hari Santri, ribuan orang membawa bendera tulisan la ilaha illaha itukan HTI, dia kan marah, lu gila bawa bendera itu. Kalau kececer gimana dan itu kabarnya tercecer-cecer, yang megangnya juga belum tentu anak-anak yang tahu juga kan.

Kalau kita bikin seribu bendera merah putih dan kita bagikan, 500 pasti jatuh itu. Ya kalau kita punya bendera seharusnya tidak menggunakan itu.

Secara khusus apa yang akan menjadi strategi relawan dalam Pilpres 2019?
Jadi kami akan lakukan micro campaign namanya, kampanye pada penerima manfaat. Orang yang telah merasakan manfaat dari kekuasaan Jokowi, 93 juta orang telah merasakan manfaat Jokowi, seperti BPJS, ya toh, yang dibayari pemerintah loh yang saya maksudkan. Bukan kayak elo yang bayar BPJS baru diobati. Lu kan sendiri namanya, yang dibayar pemerintah

Ada 10 juta yang mendapatkan Kartu Pintar, 10 juta yang mendapatkan Keluarga Harapan, 7 juta yang mendapatkan sertifikat gratis, berapa ratus ribu hektar yang sudah didistribusikan.

Tapi itu tidak perlu kau tulis nanti ketahuan rahasia campaign ku... hahaha. Tapi yang pasti akan dilakukan campaign kepada penerima sasaran. (Bersambung)

Berita Terkait

Komentar(3)

Login
  1. Tukang Komen @pemberiKomentar02 November 2018 | 12:53:33

    Biasanya ombak-ombak (kecil) itu ada di dalam, oarng2 yang besar kepala karena merasa bagian dari petahana/penguasa jadi kadang suka bertindak bodoh, mgkin seperti kasus iklan atau tampilan videotron beberapa waktu lalu...jelas hal-hal kayak gini merugikan pak Jokowi. Jadi agar lebih berhati-hati lagi agar bisa 2 periode.

  2. Anak Gaul @gakasikah01 November 2018 | 20:06:11

    Mantab nih pak Seknas. Pak Jokowi pasti menang. Satu priode lagi pak.

  3. Iis_osya @iis_osya01 November 2018 | 19:29:39

    Semakin yakin lah ... Pak jokowi tetap jadi org no 1 di indonesia thn 2019.


Back to Top