Wakapolri Komjen Syafruddin (2)

Saya Dicurigai Mau Nginteli Masjid

publicanews - berita politik & hukumWakapolri Komjen Pol Syafruddin. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, WAKAPOLRI Komjen Syafruddin ditunjuk Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) periode 2017-2022.

Selain Syafruddin terdapat beberapa pejabat lain terlibat di DMI. Misalnya, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan didapuk menjadi Wakil Ketua Majelis Pakar. Ada pula Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Agraria Sofyan Djalil, dan Menkominfo Rudiantara.

Tak pelak bila penunjukkan pejabat ini sempat mengundang pertanyaan. Namun, Syafruddin menepis tudingan pemerintah hendak mencampuri urusan masjid. Pria kelahiran Mandar, Majene, Sulawesi Selatan, itu mengatakan keterlibatan dalam memakmurkan masjid sudah ia lakukan sejak usia 7 tahun.

Ia menegaskan kepada sementara ustad yang menaruh curiga atas keterlibatannya di DMI. "Kau kapan ngurus masjid? Setelah jadi ustad kan? Saya sejak 7 tahun," kata Syafruddin saat berbincang dengan Mursidi Hartono, Edi Hartanto, Bimo Putro Prihandono dari Publicanews, Rabu (18/4), di kantornya, Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Berikut petikannya:

Apa yang membuat Anda menerima amanah sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia?
Saya memang pengurus masjid dari umur 7 tahun. Jadi saya tidak menerima amanah. Saya mengembangkan sebuah amanah itu lebih besar. Tapi amanah itu sudah lama diterima.

Kalau orang membacanya ini Polri merangkul masjid kan tidak saya yang mau, kecuali saya yang mau. Saya kan ditunjuk, diperintah.

Jadi ini Tour of duty dari Kapolri atau dari Wapres?
Dari Wapres. Kan saya sendiri mengurus Yayasan Al-Markas bersama Wapres sudah 15 tahun. Terus yayasan orangtua saya kan dari usia 7 tahun. Jadi saya bukan kagetan mengurus masjid, dan sekarang orangtua saya masih hidup dia mempunyai yayasan dua tentang masjid.

Sejak Anda di DMI berita tentang Dewan Masjid makin mengemuka
Ya, iya. Oleh karenanya hanya satu yang saya kunci. Saya bilang kepada dewan pengurus masjid bahwa yang kita urus bukan orang tapi benda masjidnya itu.

Jargon Anda di DMI adalah memakmurkan masjid dan dimakmurkan masjid. Bisa dijelaskan?
Memakmurkan masjid itu kita membuat masjid itu sedemikian rupa supaya dia makmur, makmur itu orang beribadah banyak di sana, ada hope, ada harapan.

Oleh karena itu masjid itu harus diperbaiki, mulai dari estitikanya, kebersihannya, kenyamanannya, terus marbotnya, takmirnya supaya nyaman orang beribadahnya, dan tempat segala-galanya. Tempat penuh harapan. Harapan yang Rahmatan Lil Alamien.

Nah, kalau dimakmurkan. Setelah masjidnya makmur, orang di sekiitar ini bisa dimakmurkan oleh masjid ini dengan cara pemberdayaan ekonomi yang berbasis masjid, pemberdayaan ekonomi.

Contohnya konkret seperti apa?
Ini kan pasti dikelola oleh pengurus, yayasan-yayasan. Ini banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Ada Kajian-kajian, tausyiah, ada macam-macam.

Karena ini ramai orang berlebih-lebihan akan menyumbangkan sedekahnya ke sana. Sedekah itu pulalah yang dikelola untuk bisa berkembang untuk memakmurkan. Ini banyak terjadi, itu di Tebet, Masjid Intihad setiap orang shalat di sana makannya gratis. Kenapa? Itu tidak diadakan oleh masjid.

Hanya dua negara di dunia yang masjid tidak dikelola oleh pemerintah, yaitu di Indonesia dan Pakistan. Di negara lainnya dibiaya, dibangun, digaji imamnya. Indonesia semuanya sukarela, semua dari hati semua. Tidak ada biaya dari pemerintah tidak ada, dari donator saja, sama orang-orang yang bersedekah, seratus perak, ribuan sampai yang jutaan.

Apakah DMI juga mengurus aktivitas masjid, seperti gerakan shalat subuh.
No Problem, yes ok. Bukan urusan kita. Organisasi Islam yang saya pegang itu hanya mengurusi barang. Ngurusi gedung ini yang namanya masjid ini bukan orang. Adapun orang di dalam (yang kita urusi) hanya marbot, orang pembersih, yang muazin yang adzan, sama imam. Itu saja, paling lima orang. Diurusi dari sedekah itu tadi.

Jadi orang mau kajian, tausyiah, mau subuhan atau mau apa itu ada. Jadi isinya tidak menjadi wilayah DMI. Itu wilayah sendiri, namanya takmir masjid.

Jadi tidak akan ada pembatasan ceramah atau tausiyah dan lain-lain.
Tidak ada. Tidak ada urusannya dengan tausiyah.

Lalu apa yang Anda urus?
Kita lebih pada bendanya saja, ngurusi sound system-nya. Bendanya yang kita urus bukan orangnya. Kita tidak mengurus orang beribadah tapi terbatas pada fisiknya.

Kami hanya mengurusi ini (masjid) estitikanya kurang, sound system-nya kita bantu, hanya itu saja.

Makanya kami tidak bersengketa karena yang kami urusi itu benda, bukan orang. Bersengketa itu kalau ngurusi orang karena banyak maunya.

Tadi saya ngobrol dengan Ketua Dewan Gereja, teman saya, namanya Pendeta Richard bersengketa karena ngurusi orang. Dia mau nyontoh manajemennya Dewan Masjid. Tadi diskusi sama saya. Jangan ngurusi orang pendeta, ngurusi barang saja.

Anda pernah bicara DMI siap menjadi fasilitator, misalnya dalam kasus tausiyah Amien Rais.
Oh bukan. Dewan masjid hanya memfasilitasi, menyiapkan tempat orang yang datang yang mau beribadah. Perkara tidak untuk beribadah tapi untuk yang lain ya itu urusan dia. Itu bukan urusan kita. Kita tidak mungkin mengurusi orang datang bukan rumah kita. Itu Rumah Allah.

Jadi Anda bisa memisahkan sebagai Dewan Masjid dan urusan di dalam masjid, tidak tergoda urusi semuanya.
Ya, saya bisa. Kalau orang tergoda itu kan kalau kagetan. Saya umur 7 tahun sudah mengurus masjid. Dari masjid yang dibangun kakek-nenek saya, dari mereka menjadi imam dan imam besar masjid. Jadi, saya tahu semua.

Apa tidak ada kesan kecurigaan kok Anda urusi masjid
Saya masuk dalam Dewan Masjid dicurigai mau nginteli masjid. Saya bilang ke ustad-ustad, ‘kau kapan jadi ngurus masjid? Setelah jadi ustad kan? Saya sejak 7 tahun. Kalau tidak percaya Ibu saya masih hidup. Mereka (ustad) datang ke kampung saya, dia foto-foto saya usia 7 tahun sedang mompa air untuk masjid.

DMI mengurus berapa masjid?
Ada 800 ribu se Indonesia. (bersambung)

Berita Terkait

Komentar(3)

Login
  1. Tukang Komen @pemberiKomentar22 April 2018 | 17:52:32

    Jalan terus pak, gak usah pedulikan mereka yg berprasangka tdk baik. Mari membuat masjid tempat yg nyaman beribadah.

  2. WE_A @WandiAli22 April 2018 | 06:15:56

    Yang penting konsekwensinya, mohon untuk tidak dicampur aduk dg kepentingan pribadi ataupun kelompok.


    Justru bisa lebih bermanfaat dan meningkatkan keberadaan nya lebih dari sebelumnya.

  3. Cewek Kepo @ceweKepo21 April 2018 | 21:18:59

    Mari pak bikin mesjid netral. Jangan dukung jadi tempat ekstrim.

Back to Top