Wakapolri Komjen Syafruddin (1)

Lihat Saja, Satu-Dua Minggu Ini Akan Ada Pejabat yang Dicopot

publicanews - berita politik & hukumWakapolri Komjen Syafruddin. (Foto: Publicanews/Edi Hartanto)
PUBLICANEWS, WAKIL Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Syafruddin belakangan makin sibuk saja. Selain tugasnya sebagai orang kedua di Kepolisian, ia juga menjabat Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Chef de Mission Asian Games 2018.

Sebuah koran menobatkan pria asal Makassar, Sulawesi Selatan, ini sebagai Tokoh Perubahan 2017 pada Selasa (10/4) pekan lalu.

Syafruddin (57) menuturkan, pagi hari ia berada di Markas Besar Polri, lalu bertemu pengurus masjid untuk mengurusi DMI. Setelah itu ia mengurus persiapan penyelenggaraan Asian Games.

Sepekan terakhir Syafruddin geram dengan maraknya peredaran minuman keras (miras) oplosan yang menelan banyak korban di beberapa daerah. Puluhan orang tewas.

Tak berlebihan bila ia mengancam akan meratakan dengan tanah pabrik pengoplos minuman mematikan itu. Ia juga sangat keras terhadap pejabat kepolisian yang tidak serius menangani kasus miras oplosan di daerahnya.

"Lihat saja nanti, satu dua minggu ke depan ada pejabat yang dicopot," kata Syafruddin saat berbincang dengan Mursidi Hartono, Edi Hartanto, Bimo Putro Prihandono dari Publicanews, Rabu (18/4), di kantornya, Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Berikut petikannya:


Apa sebenarnya yang terjadi dengan miras oplosan ini, tiba-tiba saja menelan puluhan korban tewas?
Urusan miras ini (sebenarnya) bukan isu yang baru. Ini hal yang biasa-bisa saja, cuma tidak menjadi perhatian. Tidak pernah terjadi korban seperti sekarang. Selama ini ada korban masuk ke rumah sakit, tapi dianggap kejadian biasa-biasa. Ini terjadi diawali dengan kenakalan, dari kenakalan remaja saja.

Kalau kita teliti ke belakang itu sudah terjadi 10 tahun belakang ini. Di mana-mana ada, dan saya yakin di seluruh Indonesia ada, tidak hanya di Jakarta.

Manakala kejadiannya sangat dasyat dan meninumbulkan korban jiwa, itu menjadi isu penting, isu sentral. Tidak hanya menjadi isu nasional, tetapi juga isu di dunia internasional. Itu (TV) Aljazera menyiarkan itu barang, di CNN disiarkan, di portal-portal asing siarkan terus.

Di situ orang jadi tertarik. Apalagi sekarang kondisi kontestasi politik, apa saja bisa dikelola menjadi isu-isu yang menyerang pemerintah.

Oleh karena itu polisi serius untuk menangani. Kenapa saya keras, keras terhadap isu ini sehingga sampai saya bilang, saya akan mencopoti pejabat kepolisian yang tidak serius.

Kita tahu yang serius sama yang tidak serius. Karena kita menurunkan tim untuk melihat, menyelidiki, menginvestigasi, siapa pejabat yang serius dan siapa yang tidak.

Lihat saja nanti, satu dua minggu ke depan ada pejabat yang dicopot.

Boleh dapat bocoran siapa yang pejabat kepolisian yang akan dicopot?
Belum, karena belum datang itu laporannya.

Kasus miras oplosan ini menjadi masif, ada kesan polisi kecolongan
Bukan kecolongan. Saya bilang ini peristiwa biasa-biasa. Dan soal miras bukan hanya urusan polisi. Urusan Polri bila ada unsur kriminalitas, terjadi tindak pidana di sana. Ini sudah terjadi tindak pidana. Itu ancaman hukuman maksimal sepuluh tahun.

Oleh karena itu, saya minta penerapan pasalnya itu maksimal.

Anda minta pengoplos miras disamakan dengan pembunuhan berencana?
Oh tidak. Maksudnya ini pasal dengan ancaman hukuman sepuluh tahun. Oleh karena itu harus diterapkan pasal itu. Dan harus dikoordinasikan criminal justice system, nanti di pengadilan diketoknya itu maksimal.

Apakah pemilik pabrik miras di Cicalengka itu murni bisnis atau ada motif lain?
Ya, itu nanti bisa dilihat dari berita acara pemeriksaan. Hasil dari penyelidik, masing-masing penyelidik sudah ada. Saya tidak begitu tahu motif-motifnya. Tapi semua motif ekonomi pasti.

Tapi, kemudian menjadi perhatian karena terjadi di berbagai wilayah. Ini tinggal keseriusan aparat, masyarakat, semua stakeholder yang terlibat untuk mengungkap ini, termasuk keseriusan media sendiri.

Korban miras oplosan puluhan jiwa, masif. Ada kemungkinan untuk menetapkan status kejadian luar biasa (KLB)?
Enggak, enggak. Ini kan sudah mereda, begitu saya ancam kan langsung mereda. Nggak ada yang mati kan, kecuali yang sudah di rumah sakit. Tak ada tambahan lagi. Peredaran miras di pasar pun berhenti.

Seberapa banyak pejabat kepolisian yang akan Anda beri sanksi?
Belum, belum ada laporan. Tim baru di lapangan. Ada kejadian, ada peredaran miras opolosan yang masif tetapi tidak ditangani.

Apakah tidak ada deteksi dini kasus miras di Cicalengka sehingga baru ketahuan ada temuan bunker cukup besar?
Itu bukan deteksi, tetapi pengungkapan. Deteksi dini dilakukan dengan operasi intelejen dan sudah diback up BIN (Badan Intelijen Negara).

Korban meninggal akibat opolosan di wilayah Jakarta mencapai 33 orang. Korban terdiri dari 10 orang di Jakarta Timur, 8 orang di Jakarta Selatan, 6 orang di Depok, 7 orang di Bekasi Kota, dan 2 orang di Ciputat.

Sementara korban di Jawa barat mencapai 61 orang. Kematian sia-sia ini terdiri dari 44 orang di wilayah Kabupaten Bandung, 7 orang di Kota Bandung, 7 orang di Sukabumi, 2 orang di Cianjur, dan 1 orang di Ciamis.

Dengan demikian jumlah orang meninggal dalam dua pekan terakhir akibat miras oplosan mencapai 94 orang. (bersambung)

Berita Terkait

Komentar(3)

Login
  1. shes one the @siswandi22 April 2018 | 06:30:01

    Polisi memang harus kerja keras agar tidak terjadi bertambah banyak korban oleh miras oplosan.

    Masyarakat sdh khawatir dg kondisi saat ini.

  2. sutrisno syahputra @sutrisno20 April 2018 | 17:32:13

    Copot aja pak, bersihkan lingkungan polri dari oknum oknum yang membuat nama polri jadi jelek...

  3. Iqra @ayobaca20 April 2018 | 17:03:15

    Iya pak...setuju, hukum semaksimal mungkin bagi pembuat dan pengedarnya.

Back to Top