Irjen Arman Depari (1)

Ada Kesan Malaysia Membiarkan Narkoba Masuk Indonesia

publicanews - berita politik & hukumDeputi Penindakan BNN Irjen Pol Arman Depari. (Foto: Publicanews/Bimo)
PUBLICANEWS, PEREDARAN narkoba, khususnya sabu, pada kuartal pertama 2018 sudah mencapai 2,5 ton. Jumlah itu nyaris sebanding dengan jumlah yang ditemukan sepanjang 2017 yang mencapai 3 ton.

Menurut Deputi Penindakan Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Pol Arman Depari, pasar Indonesia sangat menggiurkan terutama dalam harga. Di Tiongkok harga 1 gram sabu Rp 25 ribu, ketika sampai di Indonesia sudah menjadi Rp 1,5 juta.

Tak pelak, Indonesia menjadi sasaran potensial bagi jaringan jaringan narkoba internasional. Berikut perbincangan Edi Hartanto dan Bimo Putro Prihandono dari Publicanews dengan Arman di kantornya, Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, awal pekan ini.

Penyelundupan narkoba ke Indonesia jumlahnya kian mencengangkan. Apa sebenarnya yang terjadi?
Pasar kita bagus, banyak peminatnya tapi kalau enggak ada kemampuan bayar tentu enggak akan ada suplai. Artinya di Indonesia sindikat lihat ada sumber uang dan daya beli masyarakat tinggi.

Berikutnya, perbedaan harga di Indonesia cukup tinggi dibanding negara lain sehingga tentu harga bagus pemakainya banyak, permintaan banyak.

Artinya pemakai di Indonesia cukup banyak. Biasaya kita sebut kalau ada demand tentu ada suplai dan sebaliknya.

Sebagaian besar narkotika berasal dari Tiongkok dan Taiwan?
Memang produksi terbesar di Asia Timur karena itu, banyak di daerah-daerah tadi seperti di Indocina dan Cina mainland. Pelakunya multinationality ada dari Cina, Taiwan, Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina.

Bagimana dengan pengungkapan adanya 70 sindikat internasional yang masuk ke Indonesia?
Ini berubah-ubah terus pada saat kita identifikasi mereka. Saat menemukan atau membongkar sindikat mereka bisa hilang atau nonaktif. Bukan berarti mereka hilang tapi saat ada peluang, maka bisa muncul lagi, ini kan timbul tenggelam.

Tapi ada yang benar-benar hilang seperti sindikat Iran dan Afrika Barat, tapi saya yakin ini tidak hilang. Kalau sewaktu-waktu ada kesempatan, maka mereka bisa muncul tergantung stimulusnya.

Itu sebabnya, terakhir ini selalu narkoba diidentikkan selalu dari Tiongkok
Tidak selalu, biasanya Afrika Barat kebanyakan memasarkan heroin. Pasar heroin saat ini di Indonesia semakin mengecil.

Apakah pasar heroin di Indonesia kecil?
Itu mungkin masalah selera. Saya tidak melihat enak atau tidaknya, tapi ini menyangkut pasar. Jika pasar butuh satu jenis dan yang itu laku maka itu yang akan didisplay. Jika enggak diminati enggak diminta, tentu mereka tidak akan suplai.

Jadi, karena faktor keuntungan penjualan narkoba jenis sabu, misalnya lebih menguntungkan?
Mungkin salah satu dari segi ekonomis itu. tapi ini dari dua sisi kalau sisi untung dari bandar. Kalau dua sisi seperti simbiosis mutualisme saling memerlukan.

Perbandingan di Cina (Tiongkok) satu gram sabu Rp 25 ribu, di Iran berharga Rp 50 ribu. ketika di Indonesia menjadi Rp 1,5 juta.

Bagaimana membedah jaringan internasional, antara pelaku luar dan domestik
Sindikat ini internasional bukan tidak mungkin orang Indonesia jadi bagian sindikat internasional yang tidak beroperasi di Indonesia. Tapi mereka mengendalikan hingga punya jaringan di Indonesia.

Jaringan cukup besar. Jadi tidak hanya internasional bisa bermain tanpa ada kerjasama dengan atau bagian dari lokal. Internasional juga bagian dari lokal begitu juga sebaliknya.

Bagaimana dengan pengawasan lalu lintas barang, bisa masuk ke Indonesia?
Pengawasan ini menjadi rawan wilayah perbatasan kita baik laut di garis-garis pantai dan pulau-pulau keci, udara yakni di Airport dimasukin penyelundupan skala kecil maupun besar. Di darat itu juga lintas negara harus diperkuat dengan penjagaan, pemantauan, penempatan personil.

Banyak barang masuk lintas negara, bagaimana kerjasama dengan Malaysia?
Hubungan kita baik, kita bicara tentang kerja sama. Kita tangkap ini kebanyakan dari Malasyia, transit di sana, dua kemungikinan.

Pertama aparat tidak bisa menemukan ada barang narkotika ke negara mereka, tapi tidak bisa mereka identifikasi, apakah tidak serius atau mereka sengaja, atau enggak punya kemampuan.

Kedua, mereka tahu tapi sengaja. Bisa jadi kalau itu terjadi ini jadi pertanyaan kita. Seolah-olah ada pembiaran. Menurut saya tidak ada konsistennya sesuai dengan semangat kita di ASEAN tentang upaya memberantas narkoba. Bahwa narkoba ini musuh kita bersama. Tiap negara wajib mencegah memberantas dan memutuskan jaringan.

Artinya BNN merasa ada kesan pembiaran?
Ada kecurigaan kita tapi itu tingkat oknum bukan dari kebijakan. Ada saja oknum pasti ada orang nakal ini kita antisipasi dan pertegas jangan ini jadi hal yang biasa atau meluas.

Di Malaysia, jenis yang masuk seperti sabu dan ekstasi enggak ada peminatnya kalau ada dipastikan sangat sedikit. Itu sebabnya, sebagai sekadar transit aja yang akan dikirim ke Indonesia.

Dua jenis yang diminati di sana lebih pada ketamin dan heroin. Harga pun sama. Tergantung selera. (Bersambung)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Tukang Komen @pemberiKomentar23 Maret 2018 | 15:48:37

    Kalau memang benar ada indikasi negara-negara tetangga terkesan tidak terlalu ketat dengan penyebaran narkotika, saya kira perlu ditingkatkan lagi komunikasi antar negara mengenai ini.

Back to Top