Satu Jaringan Sabu Malaysia Dibekuk di Kepri

publicanews - berita politik & hukumPolda Kepri gelar kasus penyelundupan sabu, Senin (26/8). (Foto: haluankepri.com)
PUBLICANEWS, Kepri - Jajaran Direktorat Polairud Polda Kepulauan Riau (Kepri) menangkap empat anggota jaringan penyelundup yang memasukkan 30,8 Kg sabu dari Malaysia, Jumat (23/8). Mereka memasukkan sabu ke dalam drum oli bekas melalui Kepri.

Keempat orang tersebut adalah Indra Syaril, Suryanto, Petrus alias Dona, dan Nasrul. Kabid Humas Polda Kepri Kombes S Erlangga mengatakan, polisi mencurigai speedboat melintasi perairan Out Port Limited (OPL) di perbatasan Kepri-Malaysia.

"Kami juga mengamankan barang bukti speedboat, drum oli bekas, ember oli, serta 2 unit mobil," ujar Erlangga kepada wartawan, Senin (26/8).

Sabu dibalut kemasan teh China sebanyak 30 bungkus. Selain empat tersangka tadi, petugas juga mengejar dua tersangka lainnya. "Dua tersangka yang masih DPO yakni Agam Patra dan Peter yang diduga bandar sabu jaringan Internasional," katanya.

Agam dan Peter diduga kabur ke Malaysia. Peter mengendalikan sabu untuk dibawa ke Batam, sementara Agam pemilik gudang di kawasan Batam Centre. Gudang tersebut sebagai tempat penyimpanan sabu sebelum dikirim ke beberapa daerah seperti Jawa dan Sumatera.

"Ini pengembangan dari penangkapan tersangka Indra Syaril dan Suryanto," Erlangga menambahkan.

Keempat orang tersebut berpura-pura sebagai mekanik kapal tanker yang berada di OPL. Kapal itu diisi beberapa ember oli dan membawanya ke Batam. Kapal disiapkan DPO Peter di perairan pulau Rengit Malaysia.

"Kapal tanker itu hanya pengalihan saja, yang jelas sabu itu sudah dipersiapkan dari Malaysia," ia menjelaskan.

Polisi bergerak ke Pantai Bengkong. Di sana, Petrus alias Dona tertangkap. Setelah itu, Nasrul, penjaga gudang ikut diamankan dari salah satu ruko di bilangan Botania Batam Centre.

"Jadi, begitu sabu itu tiba di Batam melalui perairan Bengkong, selanjutnya sabu ini disimpan di gudang pertokoan Botania milik Agam Patra," Erlangga menjelaskan.

Sindikat ini sudah lima kali beraksi sepanjang 2019 ini. Mereka diupah Rp 15 juta per orang setiap pengiriman. "Jadi sudah jelas itu sindikat peredaran internasional," Erlangga menegaskan. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top