Simpan Narkoba di Laboratorium, KPAI Minta Jangan Sebut Nama Sekolah

publicanews - berita politik & hukumTiga tersangka penyimpan narkoba di laboratorium sebuah sekolah di Jakarta Barat digelandang petugas Polsek Puri Kembangan, Selasa (15/1). (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Jajaran Polsek Kembangan menemukan ruangan di laboratotium sebuah sekolah digunakan untuk menyimpan narkoba, Selasa (15/1). Jumlahnya pun cukup banyak, yakni 355,56 gram sabu dan 7.910 butir obat jenis G.

Menanggapi temuan tersebut, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta polisi tidak mengungkap identitas sekolah. Ia prihatin atas kejadian ini.

"Anak-anak kita terancam bahaya narkoba," kata Retno dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/1).

Penyebutan nama sekolah, ia menambahkan, hanya akan membuat buruk lembaga pendidikan, siswa, dan guru. Retno juga meminta Dinas Pendidikan DKI Jakarta memeriksa sekolah tersebut. Hal itu untuk mengetahui modus pelaku sehingga sekolah lain bisa mewaspadai jika terjadi hal serupa.

Kasus yang pertama terjadi ini diungkap jajaran Polsek Kembangan saat menangkap tiga pengedar narkoba AN (29), DL (29), dan CP (30). Polisi mendeteksi AN tengah berkomunikasi dengan seorang bandar di dalam lapas.

AN kemudian menemui kakak beradik DL dan CP. Ternyata keduanya menyembunyikan barang haram tersebut di laboratorium sebuah sekolah.

DL dan CP sudah enam bulan ini tinggal di laboratorium tersebut sebagai pegawa harian lepas. Menurut Kapolsek Kembangan Kompol Joko Handono, pihak sekolah tidak tahu kalau keduanya menggunakan ruangan di laboratirium sebagai tempat tinggalnya.

"Barang disimpan di dalam laboratorium, di situ ada sebuah ruangan yang dialihfungsikan jadi gudang dan kamar tidur," kata Joko saat menggelar rilis pengungkapan kasus, Selasa (15/1) lalu.

Kakak beradik tersebut menumpang tidur tanpa seizin sekolah. "Sekolah tidak keberatan, mungkin karena orangtua mereka seorang pejabat di sekolah tersebut," Joko menambahkan.

Joko mengatakan, para tersangka mengedarkan narkoba kepada anak-anak jalanan, seperti anggota geng motor. Mereka mengaku tidak pernah menjual kepada para murid.

"Saat sekolah sudah sepi, tidak ada siswanya lagi, mereka gunakan sabu bertiga," ujar Joko.

Polisi menjerat ketiganya dengan Pasal 112 jo Pasal 114 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 62 UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Anacaman hukiman maksimalnya adalah penjara seumur hidup atau hukuman mati. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top