Polisi Tembak Mati Pengendali Jaringan Narkoba Malaysia-Jakarta

publicanews - berita politik & hukumKonferensi pers pengukapan jaringan narkoba Malaysia-Jakarta di Gedung Promoter Polda Metro Jaya, Senin (12/2). (Foto: Publicanews/Putra)
PUBLICANEWS, Jakarta - Tim gabungan Mabes Polri dan Polda Metro berhasil mengungkap penyelundupan narkoba yang dilakukan oleh sindikat internasional Malaysia-Jakarta. Sindikat ini menggunakan modus pengiriman mesin cuci.

"Dalam pengukapan ini ada tiga orang berhasil diamankan, yakni Joni alias Marvin Tandiono, Andi alias Aket, dan Indrawan alias Alun," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Mapolda Metro Jaya, Senin (12/2).

Tito mengatakan, Alun adalah terpidana kasus narkoba yang masih mendekam di dalam lapas. Adapun Lim Toh Hing alias Onglay merupakan warga negara Malaysia, ia tewas ditembak petugas akibat melawan.

Kasus ini terungkap pada Kamis (8/2) pekan lalu, polisi mendapatkan informasi ada narkoba yang disimpan di sebuah gudang di Harapan Dadap Jaya Nomor 36, Kosambi, Tanggerang.

"Tim Satgassus langsung melakukan penggeledahan di gudang tersebut dan berhasil menangkap tersangka Joni," ujar Tito.

Dalam pengeledahan tersebut polisi mengamankan barang bukti 228 bungkus plastik berisi sabu dengan berat 239.785 gram dan 6 bungkus plastik berisi 30 ribu pil ekstasi. Barang haram ini disembunyikan ke dalam 12 mesin cuci.

Penggerebekan gudang narkoba ini merupakan pengembangan dari penangkapan Andi di Jalan Raya Perancis, Dadap, Kosambi, Tanggerang.

"Dalam keterangan Andi, tim mengetahui kalau tersangka Indrawan yang berada di lapas memberikan perintah pada Andi untuk membantu Joni menjaga gudang dan membongkar mesin cuci tersebut," katanya

Pengendali bisnis narkoba ini adalah Onglay yang ditangkap pada Jumat (9/2) di Bandara Soekarno-Hatta. Ia sudah enam kali memasukkan narkoba dengan modus yang sama.

Pada Sabtu (10/2) lalu, tim membawa Onglay ke gudang penyimpanan narkoba miliknya untuk menunjukkan jaringannya.

"Saat di lokasi Onglay berusaha kabur dan mencoba merebut senjata api salah satu petugas sehingga petugas lainnya langsung mengambil tindakan tegas dengan menembak Onglay," kata Jenderal Tito.

Para tersangka akan dikenakan pasal 114 ayat (2) subsider pasal 112 ayat (2) UU No 35 tahun 2009 tentang narkotika. Ancaman pidananya paling singkat 6 tahun dan maksimal penjara seumur hidup. (m-03)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. sutrisno syahputra @sutrisno12 Februari 2018 | 17:17:14

    Tindakan tegas terukur, untuk melemahkan jaringan ya ditembak mati aja..

Back to Top