Bambang Sumarley

Jokowi dan Spiral Kebisuan

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Credit to: Olha Pohorielova)
Oleh: Bambang Sumarley

TINGKAT kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih tetap tinggi (Publicanews, 14 Juni 2021).

Ini terlihat dari hasil survei Saiful Mujani Resarch and Consulting (SMRC). Survei yang dilakukan pada 21-28 Mei lalu itu menunjukkan sebanyak 75,6 persen responden menyatakan sangat puas dan cukup puas atas kinerja pemerintahan Jokowi secara umum.

Rinciannya, sebanyak 12,6 persen responden mengaku sangat puas, sedangkan 63,0 persen cukup puas.

Memang, jika angka-angka di atas dibandingkan dengan hasil survei SMRC sebelumnya (28 Februari-8 Maret 2021), terlihat adanya penurunan. Pada periode itu, mereka yang mengaku sangat puas dan cukup puas sebesar 77,0 persen.

Rinciannya, sebanyak 16,5 persen responden mengaku sangat puas, sedangkan 60,5 persen cukup puas.

Tapi apapun itu, tingkat kepuasan di atas angka 75 persen tentunya adalah tinggi. Dan ini menarik. Sebab, di publik nyaring terdengar aneka ketakpuasan dan kritik atas kinerja pemerintahan Jokowi.

Misalnya saja, kebijakan mudik Hari Raya Idul Fitri lalu. Pemerintah dianggap tak konsisten. Sebab, sementara mudik dilarang tapi pemerintah dianggap malah membiarkan TKA Tiongkok berbondong-bondong masuk ke negeri ini.

Yang juga nyaring terdengar adalah ketakpuasan dan kritik ke pemerintah atas pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setelah dilemahkan lewat Revisi UU KPK, lembaga antikorupsi ini dianggap diperlemah lagi lewat Tes Wawasan Kebangsaan yang menyingkirkan pegawai-pegawai handal KPK.

Tapi anehnya, di tengah aneka suara negatif yang nyaring seperti itu, toh tingkat kepuasan publik atas kinerja pemerintahan Jokowi, seperti ditunjukkan hasil survei SMRC, masih tetap tinggi.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Sangat mungkin yang terjadi adalah seperti yang dikemukakan oleh Elisabeth Noelle-Neumann, yakni adanya 'spiral of silence' (spiral kebisuan).

Menurut Noelle-Neumann, orang akan cenderung diam jika ia merasa pendapatnya tak dominan. Karena yang dominan (nyaring) adalah suara yang tak puas pada kinerja Jokowi, maka mereka yang bersuara lain cenderung diam.

Apalagi jika media massa lalu memperkuat suara nyaring yang tak puas itu. Artinya, suara yang tak puas bertambah nyaring lagi. Melihat itu, mereka yang bersuara lain akan lebih 'bisu' lagi. Ketika itulah spiral kebisuan makin menjadi-jadi.

Namun demikian, spiral kebisuan itu kerap kali semu. Sebagaimana dikemukakan Jalaluddin Rakhmat (1991) --dari penelitiannya Noelle-Neumann-- pernah suatu kali suara nyaring di Jerman adalah suara yang setuju dengan hukuman mati.

Tapi ternyata, setelah dilakukan survei, mereka yang setuju dan menolak hukuman mati, persentasenya hampir sama. Sebagian setuju, sebagiannya lagi menolak.

Sangat mungkin, hasil SMRC itu juga menguak apa yang sebenarnya terjadi di balik spiral kebisuan. Bahwa nyaringnya suara yang tak puas pada kinerja Jokowi adalah semu. Itu terjadi hanya karena yang bersuara lain diam tak bersuara.

Diam yang baru terkuak setelah dilakukan survei. Hasilnya, mereka yang puas pada kinerja Jokowi masih cukup tinggi. Sesuatu yang sangat berbeda jika hanya mempertimbangkan nyaringnya suara mereka yang tak puas.

Silence, kebisuan, memang mengerikan. Itu mirip kanker. Silence like a cancer grows... Begitu kata Simon & Garfunkel di salah satu lagu kondang mereka, The Sound of Silence.

Maka kebisuan tak bisa dibiarkan. Ia mesti dibedah. Jangan-jangan itu cuma semu. Kebisuan yang terjadi gara-gara spiral kebisuan-nya Elisabeth Noelle-Neumann.***


Bambang Sumarley
Peneliti, tinggal di Bekasi

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo19 Juni 2021 | 18:03:16

    Cakep analisanya. Sepakat 👍👍👍

  2. WE_A @WandiAli15 Juni 2021 | 12:43:37

    Kalo yang cari2x salah sih sudah biasa. Mengabaikan total keberhasilan yg terkumpul.

    Tidak sebanding antara plus minusnya.

    Tapi sesikit sj minus, digemborkan2x.

Back to Top