Moch Eksan

HM Soeharto, Muslim Pancasila, 999 Masjid

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi
Oleh: Moch Eksan

SEJAK 2017, setiap tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari libur nasional dalam rangka memperingati Hari Kelahiran Pancasila. Tanggal ini bersamaan dengan pidato pertama Ir Soekarno tentang lahirnya Pancasila di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Pidato Bung Karno diterima secara aklamasi oleh seluruh anggota BPUPKI yang berjumlah 70 orang. Pidato ini menjadi bahan Panitia 9 yang diketua Bung Karno merumuskan dasar negara dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

Bung Karno berjasa besar dalam perumusan Pancasila dan penguatan ideologi nasional. HM Soeharto juga berjasa besar dalam mengamankan dan melaksanakan Pancasila sebagai asas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Rezim penguasa Orde Lama dan Orde Baru punya sumbangsih tersendiri dalam kapling sejarah pembangunan ideologi nasional.

Perbedaan mencolok dari dua presiden tersebut, Bung Karno lebih menonjol aspek konseptualnya, sedang Pak Harto lebih tampak aspek operasional dari ideologi Pancasila. Sesungguhnya, keduanya merupakan Pancasilais sejati yang telah memberi corak tersendiri dalam pewarisan nilai-nilai Pancasila terhadap generasi demi generasi bangsa ini.

Tulisan ini lebih fokus pada pembahasan soal Pak Harto. Sebab, pembahasan Bung Karno terkait Pancasila sangat melimpah-ruah. Beda halnya dengan Pak Harto. Padahal, Presiden kelahiran Bantul, 8 Juni 1921, banyak meninggalkan program positif terkait Pancasila, seperti BP7, Penataran P-4, Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP), dan lain sebagainya.

Salah satu program yang monumental dari Pak Harto adalah 999 masjid yang dibangun oleh YAMP sejak 1982 sampai 2009. Suami Ibu Tien Soeharto ini mendirikan YAMP sebagai bentuk keprihatinan atas kegiatan tarik amal jariah masyarakat di jalan-jalan dalam pembangunan masjid.

Ketua YAMP pasca Pak Harto, Dr Sulastomo yang akrab dipanggil Bang Tom, bercerita bahwa yayasan ini telah membangun banyak masjid, bersumber dari pengumpulan sumbangan anggota Korpri, TNI/Polri, dan sumbangan tak mengikat lainnya. Tiap bulan ASN Golongan I dipotong Rp 50, Golongan II Rp 100, Golongan III Rp 500, dan Golongan IV Rp 1000.

Begitu pula dari anggota TNI/Polri, masing-masing gajinya dipotong; Tamtama Rp 50, Bintara Rp 100, Pama Rp 500, Pamen Rp 1000, dan Pati Rp 2000. Dari sumbangan ini terkumpul dana sebesar Rp 137 miliar lebih sampai dengan 1998.

Setelah Pak Harto lengser keprabon 21 Mei 1998, pemotongan sumbangan dari gaji tak dilanjutkan oleh pemerintahan sesudahnya. Padahal menurut Bang Tom yang juga Ketua Umum PB HMI periode 1963-1966, program ini sangat positif untuk menggalang gotong royong umat dalam pembangunan masjid di Tanah Air.

Almarhum Bang Tom membantah tuduhan George Junus Aditjondro dalam buku Harta Jarahan Harto (1998), bahwa yayasan yang dipimpinnya digunakan sebagai sumber utama pembiayaan Partai Golkar. Dana yang dikumpulkan dari sumbangan pengusaha yang dapat jatah proyek Bantuan Presiden (Banpres).

Bang Tom menantang siapapun untuk mengecek hasil audit dana YAMP. Ia jamin 100 persen, semua dana yang terkumpul digunakan untuk membangun 999 masjid, pembangunan Rumah Sakit Haji dan pengiriman dai ke daerah terpencil. Dengan rincian, 200 unit masjid di komplek pondok pesantren atau lembaga pendidikan, 159 unit di komplek kantor atau perumahan Korpri, 61 unit di komplek kantor atau perumahan TNI/Polri, 10 unit di pemukiman transmigrasi, 569 unit di fasilitas umum dan daerah terpencil.

Penulis buku Lengser Keprabon; Perjalanan Terakhir Jenderal Besar (Purn) HM Soeharto menyebutkan bahwa yayasan Pak Harto ini juga membantu pembangunan masjid di luar negeri. Yaitu, masjid Al-Hikmah di New York, Amerika Serikat, pada 1995 dan masjid Port Moresby, Papua New Guinea, pada 1996.

Masjid Muslim Pancasila Pak Harto sangatlah mudah dikenali, sebab menggunakan arsitektur bangunan yang sama ala Masjid Demak, Jawa Tengah. Ini kebijakan amal jariah penguasa yang meninggal pada 27 Januari 2008 ini. Museum Rekor Indonesia Jaya Suprana sampai mencatatnya sebagai presiden yang paling banyak membangun masjid.

Sebagaimana Bung Karno, Pak Harto adalah muslim Pancasila. Seorang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus seorang nasionalis yang cinta Tanah Air sebagai bagian dari iman. Siapapun tak bisa membantah bahwa Pak Harto memiliki jasa besar dalam pembangunan Indonesia sekaligus Islam.

Konsep Muslim Pancasila Pak Harto ini telah meleburkan identitas keislaman dan keindonesiaan. Sebuah pola hubungan ideal bagi muslim Indonesia. Pancasila dan Islam bukan untuk dipilih salah satu demi yang lain. Keduanya juga bukan untuk dipertandingkan melainkan disandingkan dalam altar ideologi negara dan agama yang sejajar dan setara. Wallahu 'alam bisshawab!***


Moch Eksan
Pendiri Eksan Institute

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah31 Mei 2021 | 16:09:41

    Pancasila dan agama seharusnya disandingkan. Jangan dibanding2 bahkan dipertentangkan. Hidup Indonesia.

Back to Top