Bambang Sumarley

Ganjar dan Risih Publik

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Credit to: erhui 1979)
Oleh: Bambang Sumarley

BERITA soal Ganjar Pranowo benar-benar menyita perhatian publik.

Berhari-hari ia menghiasi halaman berbagai media. Bahkan sampai hari ini pun, tepat seminggu setelah kasusnya merebak, Ganjar masih jadi berita.

Berita tentang Ganjar yang tak diundang pada rapat PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) Jawa Tengah pada 22 Mei 2021. Padahal, selain kader PDIP, ia juga Gubernur Jateng. Semua pejabat Jateng dari PDIP diundang pada rapat itu, kecuali Ganjar.

Konon, itu memang suatu kesengajaan, sebagai 'hukuman' karena Ganjar dinilai tak 'tegak lurus' pada partai soal pencalonan Presiden pada pemilu 2024. Partai belum memutuskan apa-apa, tapi Ganjar sudah mendahului lewat aktivitasnya di media sosial (medsos).

Selain itu, oleh kalangan internal partai, aneka 'sumpah serapah' juga dilontarkan ke Ganjar. Ia dianggap kemajon (terlalu maju) dan keminter (sok pinter). Juga sindiran yang mempertanyakan kepemimpinan Ganjar. Sebab, pemimpin itu dinilai dari kerja di lapangan, bukan di medsos.

Yang juga sangat terlihat pada kasus Ganjar adalah hukuman dan sumpah serapah yang mengesankan sudah selayaknya Ganjar menerimanya. Malah, kabarnya itu hanyalah akumulasi dari kejengkelan pada Ganjar yang dianggap tak mengindahkan partai.

Soal-soal itulah yang antara lain berhari-hari jadi sorotan media.

Benar, itu semua bisa dianggap sebagai cerminan ketertarikan publik pada kasus Ganjar. Publik ingin tahu apa yang terjadi. Mengapa hal itu bisa terjadi. Apa dampaknya bagi Ganjar. Dan lain-lain.

Tapi bisa jadi juga, pemberitaan soal Ganjar yang berlangsung berhari-hari itu, sedikit banyak, akan menimbulkan rasa 'risih' publik. Maksudnya, publik risih mengapa 'institusi politik' hanya (diberitakan) 'begitu-begitu saja'.

Sebab, sama seperti entitas lainnya, semestinya institusi politik tak hanya berkutat pada 'realitas keras' saja, tapi juga terikat pada apa yang disebut 'realitas lunak'.

Menurut Ashadi Siregar (2004) --di Komunikasi Visual: Sebuah Eksplorasi-- realitas keras adalah hal-hal yang bersifat empiris yang terjadi dalam interaksi manusia. Ia bersifat fisik dan materiil.

Sementara 'realitas lunak' terkait dengan ide, gagasan, nilai-nilai dan semacamnya. Ini berhubungan dengan kognisi dan subyektif, yang pemaknaannya bersifat simbolis. Karenanya, sering disebut sebagai 'realitas simbolis'.

Dan menurut Ashadi, tatanan kehidupan akan 'hambar' atau bahkan 'brutal' jika hanya mengacu realitas fisik. Realitas yang biasanya hanya mengenal 'menang-kalah'. Begitu yang dicatat Ashadi (2017) di Menang dan Bahagia dalam Media.

Idealnya, menurut Ashadi, realitas simbolis-lah yang menjadi dasar atau acuan tindakan bagi entitas apapun dalam interaksinya di kehidupan empiris.

Jelas, jika mengacu pada Ashadi di atas, kiranya yang tampak pada kasus Ganjar adalah berbagai hal yang khas ada atau terjadi pada realitas fisik. Hukuman, kejengkelan, pertarungan, menang-kalah. Bahkan juga kebrutalan.

Praktis tak ada ide, gagasan, nilai-nilai apapun yang ditawarkan. Padahal, mestinya tak hanya realitas fisik yang mengikat partai politik. Sebab, ia juga terikat pada realitas simbolis.

Memang sepintas ada juga 'gagasan' yang menyeruak di kasus Ganjar.

Misalnya, soal 'tegak lurus' itu. Tapi jelas itu gagasan sempit, sesuatu yang hanya berlaku sebatas partai. Bukan gagasan besar, atau nilai-nilai yang layak ditawarkan untuk jadi acuan publik.

Begitulah yang terjadi. Hanya realitas fisik yang sangat terasa pada kegaduhan kasus Ganjar.

Ini jelas memprihatinkan. Tak saja karena tidak semestinya jika partai politik hanya berkutat pada realitas fisik dan mengabaikan realitas simbolis, tapi yang lebih gawat lagi adalah ini:

Masih menurut Ashadi (2004) –-meminjam mazhab Teori Kritis-- pada realitas fisik itulah (secara apriori) akan selalu terjadi hegemoni kekuatan yang lebih besar, kekuatan mana akan selalu menyingkirkan realitas simbolik.

Hegemoni yang membuat ide, gagasan, nilai-nilai, dan semacamnya jadi tenggelam.

Tak adanya atau tenggelamnya ide, gagasan, dan nilai-nilai --gara-gara perayaan realitas fisik-- pada kasus Ganjar itulah yang kiranya membuat risih publik. Publik risih karena berhari-hari hanya dijejali kebrutalan realitas fisik partai politik.

Publik yang merindukan tawaran ide, gagasan, atau nilai-nilai yang bisa atau berkemungkinan dikecap bersama. Tapi rindu itu ternyata tak bersambut.

Publik bertepuk sebelah tangan.***


Bambang Sumarley
Peneliti, tinggal di Bekasi

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Gotiz @Gotiz30 Mei 2021 | 19:52:29

    Semoga pak ganjar punya program unggulan untuk bangsa ini.

    Sehingga akan terbukti, bahwa beliau layak menjadi org no 1 di negeri ytc ini.

Back to Top