Pak Yasin, Vaksinasi, dan Tatap Muka Sekolah

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Credit to: macrovector)
Oleh: Moch Eksan

SIAPA yang tak tahu sosok yang mengusulkan percepatan vaksinasi bagi guru jelang Juli 2021 ini? Rakyat Jember-Lumajang mengetehui persis peran dan kiprahnya di Senayan. Sosok ini tak lain adalah Ir H Nur Yasin MBA namanya. Seorang politisi senior Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang telah 3 periode menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Politisi-pengusaha tersebut lantang menyuarakan untuk percepatan vaksinasi guru, tenaga pendidikan, dan tenaga kependidikan lainnya. Hal ini mengingat waktu yang tersedia terbatas dan sudah semakin mepet dengan rencana pemerintah melakukan belajar tatap muka di sekolah pasa awal tahun ajaran baru 2021/2022.

Orang tua mana yang tidak senang dengan suara lantang anggota Komisi IX asal Daerah Pemilihan (Dapil) IV Jawa Timur ini. Sebab, bila vaksinasi sudah selesai, pemerintah tak punya alasan lagi untuk menggelar belajar daring. Para orang tua dan siswa sendiri sungguh sudah sangat berharap sekolah menggelar belajar tatap muka seperti biasa.

Lebih 1,5 tahun, belajar daring telah amat merepotkan para orang tua. Mereka bukan hanya disibukkan dengan mencari nafkah akan tetapi juga dibebani dengan tugas belajar anak. Banyak ibu rumah tangga stres dengan tugas belajar sang anak.

Sistem belajar daring tak bisa mensubstitusi belajar tatap muka. Kendati digital system menjadi platform baru dalam dunia pendidikan, tak lantas bisa menggantikan keampuhan sistem belajar tatap muka dalam mencapai tujuan pendidikan. Pak Yasin dan kita semua menyadari bahwa kita ini merupakan produk dari sistem pendidikan non-digital tersebut.

Bisa dipahami bila CEO Kogas SA kelahiran Jember, 7 Agustus 1954, ini bersuara lantang. Betapa, belajar tatap muka semacam inilah yang menempa dirinya menjadi pengusaha dan politisi sukses. Putra kelahiran Sukorejo Sumbersari, Jember, ini menyadari bisa menikmati kuliah di perguruan ternama di Republik, Institut Teknologi Bandung (ITB). Dari Kampus Bung Karno ini, ia belajar tatap muka, sehingga belajar yang bukan hanya transfer of knowledge akan tetap juga transfer of values.

Memang, sumber ilmu pengetahuan dan teknologi melimpah hari ini, namun kehadiran guru tetap sangatlah penting. Siswa mendapat inspirasi dan aspirasi nilai intelektual dan spiritual dalam sosok guru. Bagi Pak Yasin yang sukses dalam membangun bisnis dan karir di Jakarta, adalah sebuah kemewahan tersendiri dapat belajar tatap muka dengan guru besar terbaik di Indonesia. Mereka pandu moral dan suritauladan dalam pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Pandemi Covid-19 telah merampas masa keemasan putra-putri Indonesia mendapatkan bimbingan dan pengarahan soal life skill dari para dewan guru. Suara lantang Pak Yasin merepresentasikan aspirasi rakyat untuk mengembalikan anak-anak ke bangku sekolah. Sekolah tetaplah merupakan institusi pendidikan yang terbaik dalam menggembleng kognisi, afeksi dan psikomotorik anak-anak.

Keluarga dan masyarakat sebagai institusi pendidikan ternyata belum bisa diandalkan untuk mencetak generasi unggul bangsa. Sebab, 2 lembaga pendidikan terakhir tanpa disertai sarana prasarana, profesionalisme guru dan kompetisi antar anak didik.

Dalam berbagai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan pemerintah, Pak Yasin terlihat lepas menyuarakan kepentingan publik tanpa beban. Kendati suami Monica Yasin ini berasal dari partai koalisi pemerintah. Terutama terkait dengan program vaksinasi dalam menekan perkembangan jumlah kasus baru. Apalagi, pemerintah terlihat gagap dalam mengatasi krisis kesehatan ini. Kondisi ini semakin mencemaskan rakyat, pertanda Indonesia tak segera bangkit dari Pandemi.

Penyebaran Virus Corona belum bisa dikendalikan dengan baik. Pemerintah di berbagai tingkatan belum menemukan formula kebijakan yang paling efektif. Semua masih berkutat dengan kebijakan lama, 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas), program vaksinasi dan penegakan hukum kekarantinaan kesehatan.

Pasca Habib Rizieq Syihab and the gang divonis pengadilan denda Rp 20 juta dalam kasus kerumunan Megamendung dan penjara 8 bulan dalam kasus kerumunan Patamburan, menjadi yurisprudensi yang akan menyeret kasus semisal di berbagai daerah. Aparat penegak hukum akan disibukkan laporan kerumunan yang sama. Masyarakat kian takut melakukan aktivitas bersama. Situasi ini menghambat aktifitas untuk kembali dalam kehidupan normal.

Krisis kesehatan ini telah menyebabkan krisis ekonomi, krisis hukum dan krisis pendidikan. Krisis yang disebut terakhir menyebabkan stunting intelektual di kalangan generasi muda. Banyak putra-putri Indonesia kurang mendapatkan gizi pendidikan. Di era pandemi ini, kasus putus sekolah tinggi dan kualitas pendidikan nasional juga rendah. Ya salam salimna, Indonesia!***


Moch Eksan
Pendiri Eksan Institute

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top