Bambang Sumarley

Slank, KPK, dan Bob Dylan

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi
Oleh: Bambang Sumarley

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) 'makan' korban. Menariknya, sang korban bukan pihak yang terjerat tindak pidana korupsi, atau mereka yang anti KPK, tapi justru pihak yang selama ini dikenal sebagai pembela KPK.

Korban itu bernama: Slank!

Diberitakan, sebagaimana yang dilansir tempo.co (17 Mei 2021), belakangan ramai menjadi trending topik di Twitter tagar 'Slank Penipu'.

Konon ada rasa kesal pada sikap diam Slank sehubungan dengan tindakan pemerintah yang dianggap melemahkan KPK. Utamanya, ketika 75 pegawai KPK dinonaktifkan karena dianggap tak lulus Tes Wawasan Kebangsaan. Ini tes menguji pegawai KPK untuk bisa diangkat sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara).

Intinya, Slank dianggap tak seperti dulu lagi.

Dulu Slank lantang membela KPK. Dalam kasus yang jadi perhatian publik waktu itu, 'cicak vs buaya' –yang diasosiasikan KPK melawan Kepolisian– Slank sampai-sampai bikin lagu Where are You Mr. President. Lagu sindiran terhadap Presiden SBY yang dianggap diam saja saat KPK dilemahkan.

Tapi kini, di jaman Presiden Jokowi, saat KPK juga dilemahkan --dan karenanya (sebagian) publik geger-- justru Slank tak terdengar suaranya. Slank diam saja.

Benarkah Slank seperti yang dituduhkan? Benarkah Slank diam saja?

Benar, terlalu banyak contoh seniman musik yang terampil merespon apa yang ada di keseharian. Apalagi jika itu sudah menjadi perhatian dan menggegerkan publik.

Misalnya, Koes Bersaudara yang langsung bisa merespon apa yang dialaminya selama 3 bulan di penjara gara-gara dituduh subversif di jaman Orla lewat 2 lagu, Balada Kamar Tiga Belas dan To the Show Called the Guilties (Yon Koeswoyo, Panggung Kehidupan, 2005, hal. 47-52).

Respon yang mereka ulang lagi di jaman Koes Plus lewat nomor Kembali ke Jakarta (Dheg Dheg Plas, 1969).

Slank sendiri dengan lagunya Where are You Mr. President di jaman 'cicak vs buaya' sangat mungkin juga termasuk kategori itu: respon cepat.

Tapi tak selamanya pemusik (juga seniman lainnya) bisa seperti itu. Tak semua bisa merespon dengan cepat apa yang jadi perhatian banyak orang.

Salah satu contoh nyata adalah Bob Dylan dalam menyikapi pembunuhan Kennedy.

Ketika Kennedy terbunuh di Dallas pada 1963, praktis seluruh Amerika Serikat berkabung. Tapi tidak bagi Dylan. Setidaknya, ia tak mendokumentasikan perkabungannya lewat lagu.

Bahkan, sekian puluh tahun berlalu, ia praktis diam saja atas pembunuhan yang menghebohkan itu.

Padahal, menurut Clinton Heylin di Bob Dylan Behind The Shades (2014, hal. 136-137), pembunuhan itu sangat mengguncang Dylan. Ia berduka. Sejak awal ia berniat hendak menuliskannya. Namun nyatanya, ia tak kunjung merealisasikannya.

Benar, masih menurut Heylin, ada beberapa lagu Dylan yang konon liriknya bisa dikaitkan dengan pembunuhan itu. Misalnya, Chimes of Freedom, Gates of Eden, Mr Tambourine Man, juga It’s Alright Ma (I’m Only Bleeding).

Ian Bell di bukunya The Lives of Bob Dylan (2012, hal. 293) juga menyebut Lay Down Your Weary Tune adalah satu nomor Dylan yang ditulis atas terbununya Kennedy.

Tapi kalau pun itu benar, kiranya lirik-liriknya terlalu lamat-lamat untuk bisa dikaitkan dengan peristiwa Dallas itu. Mungkin terlalu sesak dengan metafora. Tak to the point.

Baru lewat Murder Most Foul, di album barunya Rough and Rowdy Ways (2020), Dylan secara terang-terangan bisa bercerita tentang pembunuhan itu. Katanya, It was a dark day in Dallas, November '63/A day that will live on in infamy/President Kennedy was a-ridin' high/Good day to be livin' and a good day to die... Then they blew off his head while he was still in the car/Shot down like a dog in broad daylight...

Artinya, setelah lebih dari 50 tahun diam akhirnya Dylan baru bisa menuliskan dan menyanyikan perkabungannya atas terbunuhnya Kennedy. Dylan yang perlu diam setengah abad lebih untuk bisa menyikapi dengan tenang peristiwa yang mengguncang publik.

Jadi, masih mantab semena-mena mencap Slank penipu hanya gara-gara mereka kini terkesan diam atas apa yang menimpa/terjadi di KPK?***

Bambang Sumarley
Peneliti, tinggal di Bekasi

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo17 Mei 2021 | 23:31:02

    Oiii sabar lah oiii sabar. Buru buru amat ngejudge orang.... hidup slank 👍💪👌

  2. shes one the @siswandi17 Mei 2021 | 18:43:53

    Bearti jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dan meyakini.

    Karena ada waktu dan proses untuk itu.

    Kita tunggu dan hanya waktu yg membuktikan.

Back to Top