Stanislaus Riyanta

Mengurai Kekuatan Kelompok MIT

publicanews - berita politik & hukumAnggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur ( MIT) pimpinan Ali Kalora. (Foto: istimewa)
Oleh: Stanislaus Riyanta

KELOMPOK teroris Mujahidin Indonesia Timur kembali berulah. MIT yang berafiliasi dengan ISIS ini melakukan serangan kepada penduduk di Pegunungan Pohu, Desa Klimago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Senin (11/5).

Serangan keji kelompok MIT mengakibatkan korban jika tewas sebanyak empat orang. Keempat jenazah ditemukan dalam keadaan kepala terpenggal. Selain itu kelompok MIT juga membakar 1 unit sepeda motor milik korban.

Dari temuan dan kesaksian di lapangan diperoleh keterangan bahwa pelaku berjumlah 5 orang. Salah satu pelaku dikenali mirip dengan salah satu DPO bernama Qatar alias Farel alias Anas yang merupakan orang kedua di MIT setelah Ali Kalora. Qatar diketahui berasal dari Bima.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah kombatan MIT jumlahnya tersisa sekitar 9 orang, namun eksistensi mereka masih terjaga dan terjadi kaderisasi dengan memunculkan pimpinan lapangan bernama Qatar.

Kelompok MIT saat ini bergerak terbagi dalam dua kelompok kecil 4-5 orang, yaitu satu kelompok dipimpin oleh Ali Kalora dan satu kelompok lagi dipimpin oleh Qatar. Sejak keberadaannya di tahun 2012, MIT sudah beberapa kali terjadi pergantian pemimpin, mulai dari Santoso yang tewas dan diganti Basri, kemudian Basri tertangkap dan diganti Ali Kalora.

Saat ini sudah muncul pemimpin lapangan sebagai orang kedua Ali Kalora, yaitu Qatar, kombatan MIT yang berasal dari Bima.

MIT bukan sekedar kelompok teroris lokal yang menguasai daerah Poso. Kombatan MIT berasal dari berbagai daerah seperti Ambon, Banten, Bima dan Poso. Ini membuktikan bahwa MIT menjadi entitas penting bagi kelompok radikal teroris yang berafiliasi dengan ISIS di Indonesia.

MIT yang sudah menyatakan diri sebagai bagian dari ISIS terus melakukan aksi sebagai bentuk eksistensinya, terutama untuk mengimbangi melemahnya ISIS di Timur Tengah.

Kekuatan kelompok MIT tidak terpusat pada kombatan yang diperkirakan saat ini tersisa 9 orang dan bersembunyi serta bergerak di sekitar Hutan di Kabupaten Poso, Parigi Moutong dan Sigi.

Kelompok MIT mempunyai kekuatan berupa dukungan dana dan logistik dari simpatisan yang berada di sekitar Poso dan daerah lain bahkan jaringan di luar negeri.

Di Poso keberadaan simpatisan MIT sangat nyata, hal ini terbukti misalnya pada saat pemakaman dua anggota MIT yang tewas tertembak aparat keamanan, banyak masyarakat yang mengelu-elukan jenasah seolah seperti pahlawan. Ini membuktikan bahwa ada simpati dan dukungan moril dari masyarakat bagi kelompok MIT.

Simpatisan MIT tersebut selain memberikan dukungan moril, juga memberikan dukungan logistik, bahkan diduga juga memberikan bantuan berupa tempat persembunyian. Selain itu kekuatan dari MIT yang cukup siginifikan adalah bantuan dana. Sebagai bagian dari ISIS di Timur Tengah, MIT diduga mendapat bantuan dana dari ISIS, selain MIT kelompok yang mendapat bantuan dana adalah kelompok JAD.

Namun, seiring dengan semakin melemahnya eksistensi ISIS di Timur Tengah, aliran dana dari ISIS ini cenderung tersendat.

Mencermati fenomena tersebut maka jika pemerintah ingin menumpas kelompok MIT sebaiknya tidak hanya fokus kepada pengejaran komnbatan MIT yang diperkirakan tinggal 9 orang tersebut saja, tetapi juga bagaimana pemerintah dapat memutus perekrutan MIT, memutus aliran dana dan logistisk, serta melakukan deradikalisasi terhadap masyarakat yang bersimpati terhadap MIT.

Langkah ini justru lebih sulit karena harus dilakukan pemetaan secara detail dan upaya pendekatan yang terus menerus dilakukan mengalahkan pengaruh ideologi, daya tarik, dan tekanan MIT.

Untuk melemahkan kekuatan pendukung MIT tidak bisa hanya diserahkan kepada aparat keamanan. Di saat aparat keamanan fokus pada pengejaran para kombatan MIT, maka unsur pemerintah lainnya terutama pemerintah daerah, Kementrian Agama, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Sosial, PPATK dan Lembaga lain harus berkolaborasi untuk memastikan masyarakat yang bersimpati kepada MIT dapat dirangkul dan tidak mendukung MIT lagi.

Selama kekuatan dari masyarakat yang bersimpati dan mendukung MIT masih tetap ada, pasokan logistik masih terus mengalir, rekrutmen tetap dilakukan, maka upaya penumpasan MIT yang berfokus pada segelintir orang yang menjadi kombatan akan sia-sia.***


Stanislaus Riyanta
Pengamat Terorisme dan Intelijen

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top