Moch Eksan

Last Notes of Ramadhan Karim

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi
Oleh: Moch Eksan

DALAM kalender Hijriyah, Ramadhan 2021, merupakan puasa Ramadhan ke-1440. Dimana umat Islam melaksanakannya semenjak tahun ke-2 setelah Rasulullah SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah. Waktu itu orang berpuasa masih puluhan ribu orang, sekarang sudah miliaran orang yang berpuasa dan tersebar di 215 negara.

Umat Islam mengawali puasa dengan ru'yatul hilal (melihat bulan) secara telanjang. Sekarang ada yang mengawali puasa dengan berdasarkan ilmu hisab dan ada pula yang tetap melalui ru'yatul hilal dengan teleskop. Perbedaan metode hisab dan rukyah ini acapkali menyebabkan perbedaan awal puasa dan Idul Fitri di kalangan umat Islam.

Perbedaan Ramadhan dan Idul Fitri
Sekolah Ilmu Falak berkembang pesat di Bangdad pada zaman Khalifah Al-Mansur (714-775) yang notabene juga ahli astronomi Islam. Semenjak abad ke-8, Ilmu Falak dijadikan sebagai pembanding dari penentuan awal dan akhir bulan. Namun, umat Islam tetap mengawali Ramadhan melalui ru'yatul hilal. Kesatuan otoritas politik di bawah satu rezim Khilafah Islamiah tunggal yang bisa menekan perbedaan.

Bersamaan dengan perkembangan ilmu astronomi Islam dan geografi serta wilayah kekuasaan umat Islam, terdapat mathlaq masing-masing yang berakibat pada perbedaan waktu. Ru'yatul hilal mengharuskan intervensi ilmu hisab tatkala kondisi alam berawan dan mata telanjang tak bisa melihat bulan. Sedari itu ilmu hisab berperan penting dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan.

Akan tetapi ru'yatul hilal masih tetap mendominasi lantaran rezim penguasa menganut metode ini. Pasca Turki Ottoman runtuh 1924, banyak negara yang berdiri sendiri dan kontrol politik tak kuat dalam perilaku keagamaan, umat Islam terbelah antara ahlul ru'yah dan ahlul hisab. Di Indonesia pun tak terkecuali. Bahkan sebagai penanda identitas keagamaan antara NU dan Muhammadiyah. Sekarang antar umat bisa menerima perbedaan sebagai konsekuensi logis dari metode yang tak sama dan menuntut saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Umat Islam sudah terbiasa berbeda dalam mengawali puasa dan hari raya Idul Fitri. Tasamuh bainal muslimin tumbuh dalam membangun harmoni sosial menghadapi perbedaan. Kaidah al-ittihad fil ikhtilaf (bersatu dalam perbedaan) membumi di atas peta jalan kerukunan umat beragama. Semua menyadari kerukunan di atas persatuan.

Sholat Tarawih
Selama Rasulullah SAW berpuasa 9 kali, belum ada sholat tarawih berjamaah. Qiyamullail dilakukan sendiri oleh Rasulullah SAW. Ini untuk menghindari sholat tarawih dianggap wajib oleh umat Islam. Khawatir ini bisa memberatkan umat Islam sendiri. Padahal syariah Islam azasnya taqlilut takalif (mengurangi beban).

Tradisi sholat tarawih berjamaah berdasarkan sunnah shohabah (kebiasaan sahabat). Khalifah Umar bin Khattab lah yang menginisiasi tradisi sholat tarawih berjamaah dalam rangka qiyamullail. Kebiasaan ini menjadi bid'ah hasanah yang diikuti oleh generasi demi generasi selama 14 abad di seluruh penjuru dunia. Antara Saudi Arabia dan Indonesia sama. Bahkan jumlah rakaatnya juga sama dalam menghidupkan malam-malam di Bulan Ramadhan.

Bahwa dalam praktek di Tanah Air antara 8 dan 20 rakaat sama-sama bisa berjalan massal dan kolosal, ini bagian khazanah kekayaan umat Islam Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi. Perbedaan praktek beragama ini diterima sebagai kenyataan. Dan masing-masing terkadang secara elastis menyeberang batas dalam menghormati keberagaman pendapat agama.

Alquran dan Seni Baca Tulis
Pada zaman Rasulullah, proses turunnya Alquran sedang berlangsung berangsur-angsur. Para ahli ulumul Qur'an menyebutkan bahwa turunnya wahyu selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Tradisi tadarrus Alquran berjamaah di masjid atau musholla belum ada waktu itu. Firman Allah belum ditulis dan dibukukan seperti sekarang. Rasulullah justru pada 10 terakhir Ramadhan biasanya deres Alquran bersama Malaikat Jibril.

Tradisi tadarrus Alquran berjamaah setelah dibukukan pada zaman Khalifah Ustman bin Affan. Sahabat lebih banyak mengandalkan hafalan. Berbagai tulisan di pelepah kurma dan kulit binatang dari para sahabat disatukan menjadi satu dalam Mushaf Utsmani. Ini satu-satunya versi yang dikenal sampai sekarang.

Seni baca tulis Alquran berkembang pesat setelah Rasulullah dan Khalifah ke-4 meninggal dunia. Abul Aswad Adualy (w 69 H), Abul Muzahim Al-Khaqani (w 325) adalah ulama yang berjasa besar dalam mengembangkan ilmu nahwu dan ilmu tajwid. Setelah itu, seni kaligrafi dan bacaan berkembang pesat. 6 khat Alquran mulai dari khat naskhi, riq'ah, diwani, kufi murabba, tsuluts, sampai khat farisi yang masih dikenal sampai sekarang, bagian dari perkembangan seni baca tulis Alquran. Termasuk qiraatus sab'ah yang berasal dari Imam Nafi' Al-Madani, Imam Ibnu Amir As-Syami, Imam Ashim Al-Kufi, Imam Hamzah Al-Kufi, Imam Abu Amr bin 'Ala dan Imam Ibnu Katsir, juga wujud dari perkembangan seni baca tulis Alquran tersebut.

Tradisi khatmu Alquran selepas sholat tarawih sampai malam ke-27, merupakan bid'ah hasanah untuk semaan Alquran. Tadarrus Alquran merupakan even ngaji bareng untuk pemberantasan buta aksara Arab dan pengembangan seni Tilawatil Qur'an. Hal ini dimaksudkan supaya anak muda muslim punya hobi literasi yang merupakan perintah pertama dan utama dalam agama.

Hari ini umat Islam bisa memperingati Nuzulul Qur'an per 17 Ramadhan. Peringatan ini untuk mengenang peristiwa turunnya ayat pertama di Gua Hiro', sekaligus penegasan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia. Kitab suci ini mukjizat terbesar yang telah merubah kebudayaan dan peradaban dunia dengan melalui literasi bukan konfrontasi.

Malam 1000 Bulan
Pada 10 terakhir Ramadhan, i'tikaf merupakan tradisi tertua. Ada sedari zaman Rasulullah sampai sekarang. Umat Islam bisa stay di masjid untuk memperbanyak amal ibadah. Sholat, baca Alquran dan dzikir dalam rangka taqarruban ila Allah. Apalagi di 10 terakhir Ramadhan, ada malam penuh bonus. Malam lailatul qadar yaitu malam yang lebih baik dari 1000 bulan.

Umat Islam berusaha keras mendapatkan Lailatul Qadar. Banyak yang sengaja bangun malam untuk menikmati sajian spiritual terbesar ini. Sebuah anugerah spesial dari Sang Maha Kuasa terhadap umat Nabi Muhammad SAW yang usianya rerata antara 60 sampai 70 tahun. Pada malam kemuliaan itu juga Malaikat turun ke muka bumi. Jumlah mereka lebih banyak dari krikil pasir di dunia. Mereka sibuk mencatat setiap doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT.

Menyambut detik-detik kemenangan, umat Islam sibuk berbagi dengan sesama. Zakat dan infaq lazim dibagi menjelang perayaan Idul Fitri. Biasanya kaum the have berbagi parsel lebaran dan tunjangan hari raya (THR). Instansi pemerintah dan perusahaan swasta wajib memberikan THR bagi pegawai dan karyawan.

Memang kebutuhan untuk menyambut lebaran melebihi kebutuhan sehari-hari. Kue dan baju lebaran, biaya mudik, silaturahmi terhadap keluarga, serta rekreasi merupakan pos belanja yang membutuhkan biaya tambahan. Halal bihalal juga digelar di momen saling maaf memaafkan antar sesama keluarga, sesama alumni sekolah, teman sekantor, sesama organisasi dan lain sebagainya. Acara Halal bihalal butuh pembiayaan sendiri pula. Semua itu pernak pernik bulan Ramadhan.

Ramadhan Karim dua tahun terakhir di masa Pandemi Covid-19 telah menciptakan kebiasaan baru. Pembatasan sosial dalam skala besar telah mengurangi sholat terawih, bukber, mudik dan sholat Idul Fitri. Apalagi ditemukan klaster penularan baru di Banyuwangi dan Pati. Imam dan jamaah sholat tarawih terpapar virus Corona. Di antara mereka ada yang jatuh sakit dan pula yang meninggal dunia.

Imbas dari kejadian ini sholat Idul Fitri sebagai puncak perayaan Ramadhan akhirmya dibatasi. Pemerintah membuat pembatasan kerumunan hari raya. Majlis Ulama Indonesia (MUI) menganjurkan sholat Idul Fitri di rumah. Takbir keliling dilarang. Pelaksanaan sholat dengan protokoler Kesehatan yang ketat. Jamaah diwajibkan menjaga jarak. Sholat dengan membaca surat pendek dan khutbah tak boleh lebih dari 10 menit. Dilarang saling bersalaman dan anjangsana antar keluarga dan tetangga. Semua diminta untuk tak menggelar open house untuk menghindari kerumunan. Inilah last notes of Ramadhan Karim di masa Pandemi ini.***


Moch Eksan
Pendiri Eksan Institute

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top