Moch Eksan

Sanah Helwah Bupati Hendy

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Credit to: Cleak Idea)
Oleh: Moch Eksan

NAMANYA sangat terkenal seantero Jember. Birokrat pengusaha yang suka berbagi dengan sesama. Di bulan puasa, sebulan penuh berbagi takjil ke berbagai masjid. Ringan tangan membantu pembangunan masjid. Kini seluruh energinya dicurahkan untuk mengentas kemiskinan di kota kelahirannya. Itulah sekilas profil Bupat Ir H Hendy Siswanto yang sedang berulang tahun ke-59 hari ini.

Ucapan selamat ulang tahun riuh rendah di media sosial. Banyak pihak yang mendoakan Bupati Hendy panjang umur, sehat, murah rezeki, amanah dan sukses dalam memimpin Jember. Rekam sukses membangun karir dan usaha group Sevendream, diharapkan menular kesuksesan semisal dalam membangun daerah.

Setelah runtuhnya Jember Empire, tanda-tanda kebangkitan mulai terasa. Sosok merdeka dan terlepas dari bayang-bayang tim dan partai pengusung itu telah mewarnai berbagai kebijakan. Energi kawan lawan diserap dalam orkestrasi sinergi, kolaborasi dan akselerasi program pembangunan Bupati Hendy. Siapapun tak bisa berkata 'bupati apa kata saya', kata ini sudah tak laku. Ia seorang pemimpin yang berkarakter kuat, menjadi diri sendiri sebagai lokomotif perubahan Jember di tahun-tahun mendatang.

Semula saya hanya tahu nama dan kenal pribadi tatkala pencalonan Bupati 2020. Ternyata Bupati Hendy adalah pelobi ulung yang sangat piawai menyakinkan orang. Penutur bahasa pandhalungan yang baik. Suka makan soto. Mandiri dalam mengambil keputusan. Bertindak terukur dan sangat percaya diri. Itulah inner personality power yang mengukir sukses karir, bisnis dan politiknya.

Bupati Hendy punya impian besar tentang Jember. 7 visi misi dan programnya merupakan impian besar itu. Ia ingin daerah penghasil tembakau menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, pemerintahan yang baik, penuntasan kemiskinan, peningkatan investasi berbasis produk unggulan daerah, integrasi sistem pendidikan dan kesehatan, pemerataan infrastruktur publik, dan pengembangan pariwisata alam dan budaya lokal.

Untuk mewujudkan misi besar tersebut, Bupati Hendy tak kenal hari libur, seluruh jajaran birokrasi di bawahnya diajak berakselerasi dengan cepat. Target program dan waktu sangat ketat untuk mengejar ketertinggalan. Jember harus kembali terdepan menjadi contoh bagi daerah lain dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.

Pada 100 hari pemerintahan Bupati Hendy adalah momentum melahirkan kepercayaan publik. Bahwa Jember kedepan akan lebih baik. Momentum itu didapat dari berbagai keputusan yang telah diambil, seperti Jember bersarung, pendopo terbuka bagi kegiatan masyarakat, pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang cepat, perbaikan jalan, pemberian Surat Keputusan (SK) Bupati bagi Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT), Minggu bersih dan lain sebagainya.

Bahwa di balik program positif di atas, ada kritik soal wacana pemindahan Kantor Pemerintahan Kabupaten (Pemkab), penunjukan Pelaksana Tugas (PLT) para pejabat, restrukturisasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan proses pemilihan Askab Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), adalah bagian dinamisasi daerah. Tak bisa dipungkiri, Jember kota dinamis yang memberi ruang kritik konstruktif dan memang dikehendaki oleh Bupati Hendy sendiri. Di era pemerintahannya, pemikiran alternatif tetap mendapat tempat ruang publik. Suatu bukti, suara oposisi tak dibungkam dan dimatikan. Demokrasi hidup lantaran pertarungan gagasan demi perbaikan dan kebaikan daerah.

Sesungguhnya, dalam diri Bupati Hendy sudah menyatu berbagai otoritas. Otoritas politik sebagai bupati, otoritas ekonomi sebagai CEO Group Sevendream, otoritas spiritual sebagai Ketua Yayasan Masjid Roudhotul Muchlisin, dan otoritas intelektual sebagai ketua Yayasan Universitas Mochammad Sroedji. Tinggal, bagaimana otoritas itu digunakan semaksimal mungkin untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat. Saya yakin, Jember bukan hanya sekadar bisa bangkit dari keterpurukan manajemen pemerintahan dan Pandemi Covid-19, tetapi akan menjemput keemasan yang hilang sebagai daerah terbesar ketiga di Jawa Timur.

Wajah Jember yang distempel hitam sebagai daerah angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), stunting dan kemiskinan yang tinggi, dapat dirubah. Tentu dengan kebijakan politik anggaran dan keterlibatan semua pihak, bersama dan bekerjasama menuntaskan pekerjaan rumah (PR) daerah. Bupati Hendy sangat menyadari yang dibutuhkan Jember bukan 'superman' akan tetapi superteam untuk membereskan persoalan daerah.

Banyak orang di luar pemerintahan ingin berpartisipasi membangun Jember. Mereka yang tinggal di dalam dan di luar, ingin urun pikiran, tenaga dan dana untuk kota kelahiran dan daerah yang membesarkannya. Semua menunggu 'aba-aba' sang pemimpin pembangunan. Daerah ini akan diwariskan sebagai apa? Semua bergantung pada suami Dra Hj Kasih Fajarini dalam menentukan arah perjalanan sejarah Kota Suwar Suwir ini. Sanah helwah bapak, barakallah fii umrik. Amien ya Rabbal 'Alamin.***


Moch Eksan
Pendiri Eksan Institute

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top