Moch Eksan

Ki Hadjar, Merdeka Belajar, dan Guru Penggerak

publicanews - berita politik & hukumKi Hadjar Dewantara. (Ilustrasi: Istimewa)
Oleh: Moch Eksan

HARI Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2021, tak terlepas dari perjuangan panjang pendidikan kaum bumi putera. Pada zaman penjajahan Belanda, anak pribumi tak berhak mendapatkan pendidikan sekolah. Kecuali dari kaum priyayi.

Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, ada seorang keturunan Paku Alam Yogyakarta, mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa. Tokoh itu tiada lain Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang populer dengan nama Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889, seorang tokoh pergerakan kemerdekaan yang berjuang lewat pena dan buku pelajaran. Ia seorang kolumnis di berbagai surat kabar waktu itu. Di antaranya Midden Java, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan De Expres. Akibat tulisannya yang berjudul 'Als Ik Een Nederlander Was' (Sekiranya Aku Seorang Belanda) di Surat Kabar De Expres,13 Juli 1913), membuat pejabat Hindia Belanda marah besar.

Akibatnya, Ki Hadjar diasingkan ke Pulau Bangka pada 1913 dan selanjutnya diasingkan ke Belanda bersama Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesomo, yang dikenal dengan tokoh tiga serangkai. Ia baru pulang kembali ke Indonesia pada 1919.

Selama menjalani pengasingan di Belanda, Ki Hadjar belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akta, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi kala itu dan kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan. Sepulang ke Tanah Air, ia langsung bergabung dangan pendidikan binaan kakaknya dan mengajar di sana.

Berbekal pengalaman mengajar, Ki Hadjar mendirikan Nationaal Onderwijs Institut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Desain pendidikan inilah yang banyak mengilhami sistem pendidikan nasional sejak dari dulu sampai kini.

Atas jasa Ki Hadjar sebagai arsitektur pendidikan Indonesia merdeka, pasca meninggal pada 26 April 1959, pada tahun bersamaan ia ditetapkan sebagai 'pahlawan nasional' dan tanggal kelahirannya dijadikan Hardiknas oleh Presiden Ir Soekarno.

Dari sosok Ki Hadjar inilah konsep merdeka belajar dan guru penggerak mendapatkan role model. Bagaimana ia menjadi sosok pribadi yang merdeka, serta terlepas dari belenggu penjajahan Belanda dan pengaruh kebangsawanan sebagai keluarga Paku Alam.

Semangat Ki Hadjar untuk memerdekakan kaum pribumi yang mengubur dalam-dalam pengalaman hidup nyaman di Istana Paku Alam. Ia memilih menanggalkan gelar kebangsawanan, memilih sebagai warga biasa dan hidup bersama dengan rakyat umum.

Bersama dengan para takoh nasional dan rakyat umum, Ki Hadjar menjadi guru penggerak kemerdekaan Indonesia. Dengan pena dan buku pelajaran, ia menyadarkan seluruh anak bangsa untuk bersatu-padu mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ki Hadjar terlibat aktif dalam gerakan Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama di era revolusi kemerdekaan.

Pada peringatan ke-62 Hardiknas ini, sosok Ki Hadjar sebagai 'guru merdeka' seperti sekadar mitos. Peningkatan anggaran pendidikan dan kesejahteraan guru dan dosen, ternyata pena dan buku pelajaran terbengkalai. Produktivitas pelayanan pendidikan belum sepadan dengan dropping uang negara yang dikucurkan.

Sebagai ilustrasi, Kemenristekdikti pernah merilis jumlah perguruan tinggi negeri dan swasta mencapai 4.498 buah. Dari segi sumber daya manusia, ada 296.040 dosen, 5.664 guru besar, ada 1.071 peneliti per 1 juta penduduk.

Tapi sayang, publikasi penelitian sebagai pengembangan sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia masih rendah. Dari 16 ribu jurnal berbasis website, baru 38 jurnal terakreditasi scopus. Publikasi mereka hanya 1.500 artikel, bila jurnal tersebut terbit 2 sampai 4 kali setiap tahun dengan 20 judul artikel.

Sementara, Indonesia menduduki peringkat ke-14 dari daftar negara menurut jumlah penerbitan buku dalam setahun. Yaitu sejumah 30 ribu buku baru.

Ini artinya, produktifitas intelektual dari para dosen masih tergolong rendah pula. Jumlah buku dengan jumlah dosen sangatlah jomplang. Padahal, merekalah yang berada di garda terdepan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ala kulli hal, peringatan Hardiknas tahun ini merupakan momentum yang tepat dan pas untuk menghidupkan kembali semangat pena dan buku pelajaran Ki Hadjar dalam memerdekakan kaum pribumi dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Sebab bila tidak, sejatinya perayaan Hardiknas hanya sekadar rutinitas belaka. Wallahu a'lam bisshawab!***


Moch Eksan
Pendiri Eksan Institute

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top