Bambang Sumarley

Ngotot Vaksin Nusantara

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Credit to: Jorm S)
Oleh: Bambang Sumarley

KONTROVERSI Vaksin Nusantara (Vaknus) memasuki babak baru. Babak baru yang melibatkan lebih banyak pihak, yang tampaknya tak hanya menambah hiruk-pikuk, tapi juga sangat mungkin justru membingungkan publik.

Pendeknya, sama sekali tak menghibur.

Meski Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) belum mengeluarkan persetujuan uji klinis fase kedua –-karena dianggap belum memenuhi “kaidah ilmiah”-- Terawan Agus Putranto yang memimpin pembuatan vaksin tersebut terlihat tetap jalan terus.

Bukannya balik menggeluti vaksin itu ke tahap pra-klinis, atau melengkapi perbaikan yang dipersyaratkan BPOM --sebagaimana layaknya jika uji klinis dianggap gagal-– mantan Menteri Kesehatan itu tetap meneruskan langkahnya seolah BPOM tak ada.

Padahal, bahkan RS dr Kariadi Semarang, tempat penelitian Vaknus berlangsung, terang-terangan sudah menghentikan risetnya karena belum mengantungi izin uji klinis dari BPOM. Sebelumnya, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada mundur dari tim peneliti Vaknus. Alasannya, tak dilibatkan dalam riset hingga masuk uji klinis tahap pertama.

Tapi seolah semuanya ini tak menggentarkan Terawan. Ia yang terkenal dengan ujaran “Korona Bisa Sembuh Sendiri” itu tetap melanjutkan pengembangan Vaknus. Konon uji Vaknus dipindahkan dari RS dr Kariadi Semarang ke RSPAD Gatos Subroto Jakarta (detik.com, 15 April 2021).

Menakjubkan!

Lebih takjub lagi, tindakan Terawan yang sedikit banyak melawan BPOM itu justru beroleh dukungan dari kalangan politikus dan tokoh publik yang lain. Misalnya saja, Emanuel Melkiades Laka Lena (Wakil Ketua Komisi Kesehatan DPR), Aburizal Bakrie (Ketua Dewan Pembina Partai Golkar), Gatot Nurmantyo (mantan Panglima TNI), Siti Fadilah Supari (mantan Menteri Kesehatan).

Pertanyaannya, ini pertunjukan apa?

Benar, sepintas bisa dianggap sebagai perayaan publik. Selama ini, perayaan atas vaksin umumnya dilakukan dalam senyap. Lewat sunyinya laboratorium, dinginnya jurnal dan semacamnya. Bahkan, Nobel pun perayaan yang senyap.

Mungkin itu cerita kemarin. Sesuatu yang berbeda dengan yang kini terjadi. Kini lebih banyak pihak yang terlibat. Vaksin menjadi suatu perayaan yang hiruk pikuk. Dan, nah ini dia, dengan suara yang tak tunggal.

Menurut Nirwan Ahmad Arsuka dalam Sain di Tengah Wabah Korona (Polemik Sains, IRCiSoD, 2021), di kalangan epidemiolog sendiri juga tak ada suara yang tunggal. Pada mereka terjadi debat sengit antara mereka yang dikategorikan sebagai kaum pragmatis dan idealis.

Bagi mereka yang pragmatis, yang terpenting adalah tindakan harus diambil segera untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban. Kaum idealis setuju dengan itu, tapi dasar tindakan harus memenuhi syarat ilmiah yang ketat.

Masih menurut Arsuka, perbedaan itu sejatinya bukan pada paradigma atau mazhab, tapi hanyalah “dinamika dalam penerapan prinsip ilmiah yang ketat”. Mereka (baik kaum pragmatis maupun idealis) sadar, terpenuhinya prinsip ilmiah adalah kunci. Atas dasar itu, uji bersama lalu dapat dilakukan dengan melihat bukti-bukti yang ada.

Artinya, perbedaan itu sesungguhnya adalah normal-nornal saja. Biasa.

Hanya saja, tentu akan menjadi menyimpang ketika dasarnya --argumen yang diacung-acungkan-- bukan lagi (terpenuhinya) prinsip ilmiah. Sebab, bagaimana pun, vaksin adalah anak kandung sains. Bukan yang lain.

Dan kiranya itulah yang terjadi di Vaknus.

Persoalan prinsip ilmiah tenggelam oleh hal lain. Mulai dari suara yang menganggap BPOM menganak-tirikan Vaknus, memanjakan vaksin impor, tak mendukung 'karya anak bangsa' atau juga nyaringnya pengakuan para pendukung Vaknus yang mengandalkan 'maksud baik' Terawan.

Sampai-sampai Presiden pun pernah merasa perlu menghentikan hiruk-pikuk Vaknus yang sedikit banyak menjadi tekanan pada BPOM, dengan mengatakan, Indonesia berusaha menciptakan vaksin. Namun ia mengingatkan, upaya itu tetap harus mengikuti kaidah ilmiah.

“Untuk menghasilkan produk obat dan vaksin yang aman, berkhasiat dan bermutu, mereka juga harus mengikuti kaidah-kaidah saintifik,” seru Presiden.

Tapi seolah seruan itu tak berarti apa-apa. Vaknus tetap saja melenggang. Setidaknya sejauh ini.

Memprihatinkan memang. Atau mungkin lebih tepatnya menyebalkan?***


Bambang Sumarley
Peneliti, tinggal di Bekasi

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. shes one the @siswandi18 April 2021 | 19:37:46

    Lebih bijak kita seharusnya menunggu semua tahapan yg dilalui, jgn blm apa2x sdh dikomentasi.

    Tinggu lah sampai final dan baru diketahui kesimpulannya.

Back to Top