Moch Eksan

Akhir Hayat di Awal Ramadan

publicanews - berita politik & hukumSutrisno, dosen UIN KH Achmad Shiddiq Jember. (Foto: Istimewa)
Oleh: Moch Eksan

UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) KH Achmad Shiddiq, dan masyarakat Karang Mluwo Mangli Jember, kehilangan tokoh yang berdedikasi pada kampus dan masyarakat. Tokoh itu ialah Dr H Sutrisno RS, MH.I. Seorang dosen Pascasarjana yang 'faqih mastur', sederhana, dan rendah hati. Tak banyak yang tahu, dosen negeri ini seorang ahli fiqih dan menguasai perbandingan madzhab.

Pak Tris --panggilan akrabnya, mengajar mata kuliah Fiqih sedari awal sampai akhir usia. Alumni S-1 Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini aktif berdakwah dari masjid ke masjid, dan pejuang salat jamaah. Seorang yang istiqomah mengajak masyarakat menjalankan salat berjamaah di Masjid Jihadil Muttaqien Karang Mluwo.

Dosen kelahiran Jember, 16 Februari 1959, ini merupakan dosen Fiqih saya dan mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jember IAIN Sunan Ampel Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Angkatan 1994/1995. Disamping, sebagai tetangga yang tinggal di lingkungan RT/RW yang sama. Saya mengenal baik peta intelektual dan spiritualnya.

Pak Tris penganut setia Islam ala ahlussunnah waljamaah. Dalam ceramah maupun diktatnya, tak ada pikiran dosen alumni S-3 Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya yang kontroversial. Semua sehaluan dengan pendapat umum ulama fiqih. Tak sedikitpun, almarhum menunjukkan simpati atau antipati kepada para tokoh pembaharu pemikiran Islam dari dalam maupun luar negeri.

Pada dekade 90an, wacana Islam dan postmodernisme, reaktualisasi Islam, dan kontektualisasi kitab kuning, yang sedang mengemuka dan digandrungi banyak kalangan mahasiswa. Pak Tris nampak tak silau, apalagi terpukau oleh ingar-bingar pertarungan wacana antara Islam liberal dan fundamental. Almarhum menampakkan ortodoksi Islam yang mengacu pada pandangan resmi Islam, bukan heterodoksi yang mengacu pada pandangan menyimpang.

Sahabat saya, Hafid Hasyim sempat bertanya kepada Pak Tris, apakah berkurban bisa dengan komputer? Hal mana penduduk sudah lazim mengkonsumsi daging setiap hari? Sedangkan yang dibutuhkan penerima kurban adalah komputer. Almarhum menjawab, ewan kurban tak bisa digantikan dengan komputer. Ibadah kurban terdiri dari unta, sapi, kambing, dan domba. Daging kurban yang disembelih pada ayyamut tasyriq untuk dibagikan kepada warga miskin sebagai ungkapan syukur, bentuk aksi solidaritas sosial serta peningkatan gizi umat.

Sahabat Hafid yang kini juga kolega dosen Pak Tris, menyampaikan pernyataan 'nakal' kembali. "Pemberian kurban untuk fakir miskin itu dalam rangka meningkatkan nutrisi? Komputer bisa dibuat untuk tambahan nutrisi otak bagi kaum miskin ilmu. Sedangkan, hewat kurban untuk peningkatan nutrisi tubuh bagi kaum miskin gizi," sanggah sahabat saya alumni Pondok Pesantrem Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini.

Sesi tanya jawab mata kuliah Fiqih Pak Tris ini masih sangat segar dalam ingatan saya. Dosen asal Klompangan Ajung ini menjawab sanggahan mahasiswa yang dianggap berpikir nyeleneh di atas dengan penuh kesabaran. "Dalam aturan Fiqih, seperti contoh tauladan Nabi Ibrahim AS, berkurban dengan sapi untuk 7 orang, dan kambing untuk 1 orang," jawab almarhum dengan suara lirih dan santai tanpa raut wajah marah. "Berkurban dengan komputer tak diatur dalam hukum Fiqih", tambah almarhum penuh kebapakan.

Saya menyaksikan almarhum tak mempunyai pemikiran dan jalan hidup yang nyeleneh. Almarhum seorang akademisi yang 'murni' dan 'lugu'. Hidup apa adanya. Nampaknya, almarhum tak ingin terkenal bak "dosen selebritis" yang bolak balik masuk media massa, juga tak ingin dikenang serasa tokoh 'reformis Islam' yang menanggalkan rekam jejak pembaharuan pemikiran Islam.

Dekan Fakultas Syari'ah periode 2014-2019 ini menjalankan uswatun hasanah sebagai muslim taat dan qalbuhu mu'allaqun bil masajid (hatinya selalu tergantung dengan masjid). Saya yakin, banyak masyarakat yang menyaksikan almarhum aktivis salat berjamaah. Atmosfir kegiatan keagamaan yang semarak di sekitar lingkungan Kampus pimpinan Prof Dr H Babun Suharto MM, sebagian hasil usaha dan perjuangan almarhum yang tak kenal lelah dan menyerah.

Memang, di sepanjang jalan Jumat Mangli, banyak pondok pesantren mahasiswa, namun rerata pondok pesantren tak berhubungan erat engan masyarakat sekitar. Anak generasi kampung di sini, mendapatkan pendidikan agama di masjid. Pak Tris layak disebut sebagai guru besar masjid yang menghibahkan tenaga dan pikiran untuk memakmurkan masjid sepanjang hayat.

Setahun terakhir, kondisi kesehatan Pak Tris kurang baik. Almarhum menderita penyakit lambung dan sumsum tulang belakang. Namun beberapa bulan sebelum ajal menjemputnya, almarhum kondisinya membaik dan menjalankan aktifitas seperti biasa. Tiba-tiba drop, ternyata Sang Khaliq memanggil kembali keharibaanNya. Sang guru besar masjid, akhiri hayat di awal Ramadhan di usia 62 tahun. Kita dan seluruh gemerlap dunia berpisah dengan segala pesan dan kesan dari almarhum. Selamat jalan Wahai Jiwa Yang Tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh kerelaan dan bergabunglah dengan golongan hamba taat, serta masuklah ke dalam surgaMu!***


Moch Eksan
Pendiri Eksan Institute

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top