Dosen Berbuat Cabul, Gauri Movement Dorong UNEJ Ambil Sikap

publicanews - berita politik & hukumKetua Gauri Movemen Deviana Rizka. (Foto: Istimewa)
Oleh: Gauri Movement


KEKERASAN seksual merupakan tidakan yang telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Kasus-kasus kekerasan seksual tidak memandang gender maupun usia. Asisten Deputi Perumusan Kebijakan Perlindungan Hak Perempuan Ali Khasan mengatakan, sejak 1 Januari sampai 16 Maret 2021, ada 426 kasus kekerasan seksual dari 1.008 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Data tersebut berdasarkan hasil pelaporan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni-PPA).

Pelecehan seksual terhadap perempuan, tidak lagi hanya dipandang sebagai masalah antar individu belaka, melainkan merupakan problem sosial yang terkait dengan masalah hak-hak asasi manusia, khususnya dengan perlindungan dari segala bentuk penyiksaan, kekerasan, kekejaman, dan pengabaian martabat manusia. Memberikan perlindungan hukum (pidana) bagi perempuan dari perilaku pelecehan seksual menjadi penting, karena perilaku ini menyerang hak fundamental yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan bisa menimbulkan gangguan rasa aman dalam melakukan hubungan seksual.

Penanganan yuridis kasus-kasus pelecehan seksual mengalami hambatan-hambatan menyangkut rumusan tindak pidana/delik dalam pasal-pasal yang belum tegas, pembuktian dalam hukum acaranya, dan sifatnya yang sebagian sebagai delik aduan. Di samping itu secara viktimologis, hukum pidana kita belum mengakomodasi perlindungan korban secara memadai, sehingga dalam kasus pelecehan seksual yang menjadi korban cenderung kaum wanita.

Dalam Refleksi dari Konvensi Hak Anak Pasal 34. Semua anak mempunyai hak untuk dilindungi dari kekerasan dan eksploitasi seksual, termasuk prostitusi dan keterlibatan dalam pornografi.

Tidak seirama dengan realita karena semakin banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi di dunia pendidikan yang rata-rata terjadi pada anak, hal tersebut menjelaskan bahwa dunia pendidikan tengah mengalami degradasi moral. Bukannya mendidik, banyak oknum dosen/guru di berbagai kampus di Indonesia, mengatasnamakan kedudukan dan kekuasaannya, untuk mengancam dan melemahkan para mahasiswa dan/atau siswa yang ia jadikan sebagai objek pemuas hasrat. Tindakan kekerasan seksual tersebut juga ditunjang dengan lemahnya regulasi dalam kampus/instansi pendidikan yang membuat para oknum pendidik tersebut menjadikan dirinya sebaga raja yang kebal hukum dan leluasa melakukannya. Karena sampai pada hari ini tidak ada prosedur hukum yang jelas untuk menangani kasus kekerasan dan pelecehan seksual di dalam kampus.

Berdasar pada munculnya berita (06/04/2021) kasus kekerasan seksual anak di bawah umur yang terjadi di Jember dan pelaku adalah seorang dosen Universitas Negeri Jember berinisial RH dengan dalih Nada (nama samaran korban) mengidap kanker payudara maka RH melakukan terapi kepada korban yang menjadi bentuk tindakan pencabulan hingga dua kali dalam keadaan rumah yang sepi.

Sehubungan dengan adanya kasus kekerasan seksual berupa pencabulan yang dialami oleh Nada maka Gauri Movement sebagai lembaga yang bergerak di bidang studi gender menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Mendesak Kepolisian Resor Jember untuk segera menyelesaikan kasus tindak pencabulan tersebut sesuai dengan ketentuan Undang-Undang yang berlaku (Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak);
2. Mendorong Universitas Negeri Jember untuk memberikan sikap yang tegas kepada pelaku berupa penonaktifan sebagai dosen;
3. Mendorong Universitas Negeri Jember untuk membuat regulasi tentang kekerasan seksual.***


Gauri Movement
Deviana Rizka R, Ketua
Luthfiona Fitri, Sekretaris

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. de'fara @shahiaFM16 April 2021 | 20:51:31

    Penyakit kronis, harus diberantas, jgn sampe kendor dan dibiarkan.

    Gali terus informasinya, dan diselasaikan secara hukum.

  2. Cewek Kepo @ceweKepo16 April 2021 | 18:57:29

    Bongkar bongkar terus. Jangan kasih kendor.

Back to Top