Bambang Sumarley

Life is Beautiful ala Tedjabayu

publicanews - berita politik & hukumSampul buku Mutaiara di Padang Ilalang
Oleh: Bambang Sumarley

KALAU saja Mutiara di Padang Ilalang (Komunitas Bambu, 2020) 'boleh' dibaca dari halaman belakang maka kiranya akan langsung menjadi jelas mengapa Tedjabayu bisa menulis memoar seperti itu. Memoar yang kalau pun bukan dahsyat, setidaknya lain dari yang lain.

Halaman kunci itu adalah halaman 305.

Dikisahkan Tedjabayu ketemu untuk pertama kali dengan ibunya setelah terpisah bertahun-tahun menyusul peristiwa G30S. Keduanya, juga ratusan ribu orang lainnya, dianggap terlibat, ditahan tanpa pernah disidangkan di pengadilan.

Waktu itu ibu-anak ini bertemu di halaman Kodim Jakarta Barat. Tedja baru bebas. Ia baru saja turun dari kapal yangg mengangkutnya dari Pulau Buru. Ibunya datang menjemput. Ia berharap ibunya, seperti para penjemput lainnya, menangis haru, atau semacamnya.

Tapi ternyata tidak. Ibunya hanya menyalami Tedja, sambil berkata singkat, “Inilah kehidupan, Tedja”. Setelah itu sang ibu memeluk dan mencium pipinya. Dan kemudian, nah ini dia, malah mempersoalkan gudiknya Tedja.

Bagaimana eksimmu, Nak? Sudah tidak kumat lagi, to?

Sambutan khas ibunya itulah yang mungkin lalu membuat Tedja bisa menuliskan lelakonnya bak Life is Beautiful, film rilisan 1977 penyabet Oscar yang dibintangi dan disutradarai Roberto Benigni. Kisah tentang penindasan, kebrutalan, dan kekejaman yang justru malah terasa lebih 'nendang' ketika dituturkan lewat kelucuan dan sinisme.

Dan itulah yang sejak awal sampai akhir bertebaran memenuhi memoar Tedjabayu setebal 400 halaman (termasuk glosari, tabel lampiran, dan indeks) ini. Suatu sikap yang menurut Tedja paling tepat dalam menyikapi lelakonnya.

“Untuk meringankan kehidupan kami yang sangat tidak normal. Kami tak punya rumah, tak punya pasangan hidup ... dan sewaktu-waktu digebugi! Mau tak mau sinisme, sarkasme, dan canda menjadi bagian dari kehidupan kami” (hal. 179).

Yang menarik, sikap itu (lucu, sinisme, dan lain-lain) tak saja dipakai Tedja dalam menyikapi kekejaman rezim penguasa, tapi juga dalam menyikapi 'kiri' dan jargon-jargonnya.

Misalnya, Tedja tak habis pikir tentang seniornya yang 'ng-ideologis' banget. Sampai-sampai untuk menyebut 'sabar' saja tak cukup, tapi harus 'sabar yang revolusioner' (hal. 36). Atau senior lainnya yang begitu ketemu Tedja tiba-tiba berkata,

Piye, Dja, wis mari borjuismu? (hal. 31).

Atau yang juga menohok adalah catatan Tedja di halaman 238. Dikatakan, “Kami terlalu lama dicekoki dengan apa yang disebut 'garis partai'. Kami menjadi tidak ilmiah dan berprasangka terhadap lagu-lagu barat”.

Tapi di memoarnya ini Tedja tak hanya menyikapi lelakonnya dengan lucu dan sinisme saja. Ia juga (bisa) menunjukkan amarah dan kesal.

Misalnya, ketika ia merasa rezim penguasa mengurangi kualitas dan kuantitas jatah makan para tapol. Dan bagi Tedja, itu adalah kisah sukses rezim tak saja dalam 'pembersihan manusia tapi lebih jauh lagi pembersihan ideologis'. Tanpa perlu menggunakan satu peluru pun (hal. 54-55).

Selain siksaan, kesewenang-wenangan, kerja paksa, dan lain-lain, Tedja juga berhasil menggambarkan secara dramatis bahwa ia dan tapol lainnya adalah manusia tak berharga. Misalnya, di kisah kunjungan penguasa lokal (yang membawahi Pulau Buru) bersama para istri.

Karena kapal tak bisa merapat ke pantai, sementara ibu-ibu penguasa tak mau basah pakaian dan sepatunya, maka terpaksa para tapol berjejer berendam masuk ke air, dan pundaknya dijadikan landasan papan untuk dilalui ibu-ibu itu.

Terkadang badan ibu-ibu itu goyang 'karena papan yang menjadi landasan berjalan dipanggul di atas pundak manusia sehingga tak rata. Dengan enaknya, tanpa rasa dosa, tangannya mencari pegangan dan dijambaklah rambut tapol terdekat untuk pegangan. Asyik! Benar-benar kami ini makhluk paling hina di dunia' (hal. 256-257).

Yang juga menarik di memoar ini adalah keterus-terangan Tedja pada aneka tokoh publik. Misalnya saja, Loekman Sutrisno (hal 22-23) yang menurutnya sadis saat menginterogasi tapol. Dan Tedja juga mencatat denial-nya Loekman yang hendak melupakan jejak masa lalunya (hal. 42).

Tedja juga melihat keterlibatan intelektual lainnya, misalnya Fuad Hassan, lewat kuesioner yang dibagikan ke tapol. “Kuesioner itu terdiri dari kelompok-kelompok pertanyaan A, B, C, dan seterusnya. Untuk setiap kelompok pertanyaan disediakan tiga kotak-kotak kecil di sampingnya untuk jawaban YA, TIDAK, atau TIDAK TAHU dengan cara memberi tanda silang di dalamnya” (hal. 260).

Juga ada catatannya tentang Romo Werner Ruffing SJ, yang kala itu bertugas di Buru. Romo yang selalu membela para tapol ini konon mantan perwira Nazi (hal. 246). Atau juga Romo de Blot. Menurut Tedja (hal. 304), tadinya romo ini 'sangat diametral dengan orang-orang kiri di penjara tetapi akhirnya bersimpati pada tapol'.

Catatan Tedja tentang Sudjojono, bapaknya, juga menarik.

Bapak yang ketika Tedja bebas berucap, “Bapak remen kowe isih urip, Dja. Dan Bapak juga gembira, meski Bapak tahu kamu tidak sependapat dengan avonturisme G30S, tetapi kamu memilih untuk tidak lari dari kesulitan dan mempertahankan harga diri organisasimu” (hal. 314).

Namun, di memoar ini, kiranya tak ada tokoh yang kehadirannya bisa mengalahkan ibunya Tedjabayu. Meski hanya sekelebat, tapi sangat sering Tedja menyebut namanya. Ketika sedang bercerita sesuatu, tiba-tiba saja Tedja bisa ingat ibunya, bertanya tentang nasibnya meski ia tahu persis ibunya akan tegar.

Bayangan sang ibu --Mia Bustam-- berkelabat di mana-mana, di sepanjang memoar Tedjabayu, si 'manusia merdeka', anak ibunya.***


Bambang Sumarley
Peneliti, tinggal di Bekasi

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah13 April 2021 | 15:40:25

    Menaklukan horor dengan humor.... cerdas. Ulasan yg menarik. 👍👌

Back to Top