GMNI Jember Kecam Kekerasan Seksual Oknum Dosen Unej Terhadap Anak

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi, kampus Universitas Jember. (Foto: Istimewa)
Oleh: KASUS kekerasan seksual menjadi hal yang sering kita dengar dalam beberapa waktu ini, baik dalam lingkup nasional maupun di setiap daerah di Indonesia. Kasus kekerasan seksual pada dasarnya bisa terjadi kepada siapa saja bukan hanya kaum perempuan melainkan bisa juga terjadi kepada laki-laki dan tidak terbatas pada usia.

Menurut World Health Organization (WHO) kekerasan seksual ialah segala perilaku yang dilakukan dengan menyasar seksualitas atau organ seksual seseorang tanpa mendapatkan persetujuan, dan memiliki unsur paksaan atau ancaman. Pelaku kekerasan seksual tidak terbatas oleh gender dan hubungan dengan korban. Dari pengertian tersebut dapat kita artikan bahwa kekerasan seksual merupakan suatu tindakan yang sangat tercela dan sangat merugikan bagi korbannya, karena menimbulkan dampak psikis, fisik, dan sosial bahkan tidak jarang juga korban dari kekerasan seksual melakukan percobaan bunuh diri.

Mengutip dari Catatan Tahunan Kekerasan Seksual terhadap Perempuan tahun 2020 yang dibuat oleh Komnas Perempuan, menyebutkan bahwa kasus kekerasan seksual pada perempuan mencapai 4898 kasus yang terjadi kepada perempuan di Indonesia rata-rata kasus tersebut terjadi kepada anggota keluarga. Angka tersebut terbilang cukup tinggi bagi kita masyarakat yang berpedoman kuat kepada kepercayaan agama dan mengaku menjunjung tinggi kemanusiaan. Tidak dapat kita pungkiri bahwa konstruksi masyarakat Indonesia yang masih bersifat patriarkis selau memposisikan kaum perempuan pada nomor urut yang kedua, dan ini berimplikasi pada seringnya argumen perempuan-perempuan di Indonesia tidak didengar dan cenderung diremehkan bahkan yang lebih parahnya lagi perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual tidak jarang di cap sebagai pihak yang mengundang Tindakan kekerasan seksual.

Terkadang kasus kekerasan seksual dianggap bukan persoalan penting bagi sebagain masyarakat Indonesia, paradigma inilah yang menjadi batu penghalang bagi terciptanya kerukunan dan ketentraman dalam menjalankan kehiupan sehari-hari. Bayangkan jika kekerasan seksual terjadi kepada keluarga atau kawan-kawan kita sendiri, pasti kita sebagai orang yang sadar tidak akan tinggal diam ketika melihat hal tersebut.

Berdasarkan berita yang diterbitkan media-media di Jember pada tanggal 6 April 2021 terjadi Kasus Kekerasan Seksual di Kabupaten Jember yang menimpa anak dibawah umur, dan diduga pelakunya adalah salah satu oknum dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Jember (UNEJ) yang berinisial RH dan juga merupakan paman dari korban. Nada (nama samaran korban), menuturkan kepada para jurnalis melalui ibunya bahwa RH telah melakukan pencabulan kepada Nada sebanyak 2x di rumahnya dalam keadaan rumah sepi.

Kejadian pertama dilakukan oleh RH pada akhir Februari 2021 pukul 11.00, dalih yang digunakan oleh RH untuk melakukan tindakan tersebut berupa justifikasi kepada Nada bahwa dirinya terkena kanker payudara sembari menunjukan jurnal mengenai kanker payudara. Setelah itu RH melakukan terapi kepada Nada, namun diketahui RH sama sekali tidak memiliki keahlian melakukan terapi.

Lalu tindakan yang kedua terjadi pada tanggal 26 Maret 2021 pukul 10.00, dalih yang digunakan oleh RH tetap sama dengan tindakan yang pertama, tapi pada kejadian yang kedua ini Nada merekam audio saat tindakan tersebut dilakukan oleh RH untuk dijadikan alat bukti.

Kasus kekerasan seksual yang dialami oleh Nada bisa dimuat oleh beberapa media di Jember tidak lain dan tidak bukan ialah karena keberanian dari Nada sendiri untuk mencertikan kepada ibunya. Dari kasus tersebut dapat dipahami bahwa kasus kekerasan seksual bisa terjadi kepada siapa saja dan tidak memandang umur serta pelaku kekerasan seksual juga bisa dari semua kalangan masyarakat.

Sebagai insan yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menyandarkan kepercayaan kami bahwa tatanan masyarakat yang adil dan makmur tidak akan tercipta jika kasus kekerasan seksual masih terus bermunculan, maka kami Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jember menyatakan sikap :

1. Mengecam tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum Dosen FISIP UNEJ kepada anak dibawah umur.
2. Mendorong pihak Rektorat UNEJ untuk segera membuat Regulasi tentang Pencegahan dan Penanganan Tindakan Kekerasan Seksual di lingkungan kampus UNEJ.
3. Mendorong pihak yang berwenang dalam hal ini Polres Jember untuk mengadili terduga pelaku sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
4. Mengajak seluruh masyarakat Jember untuk bersama-sama melawan Kekerasan Seksual yang ada di sekitar kita.***


Dewan Pimpinan Cabang
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jember

DynoSuryandoni, Ketua
Yuyun Nur Robikhah, Sekretaris

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo13 April 2021 | 19:29:06

    Segera ditangkap pak polisi. Jangan kasih kendor.

Back to Top