Moch Eksan

Sahroni, Antara Mimpi Calon Presiden

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Credit to: Movisto)
Oleh: Moch Eksan

BILLBOARD Ahmad Sahroni di berbagai kota di Tanah Air, menimbulkan spekulasi politik baru. Tulisan 'Mimpi Jadi Presiden, Mumpung Mimpi Masih Gratis Nggak Bayar' tersirat pesan bahwa ia mau running for president 2024.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI dari Partai NasDem ini membantah bahwa baliho tersebut punya muatan politik. Itu sekadar memotivasi generasi muda berani bermimpi setinggi-tinggi layak dirinya. Bila ditanya setelah berbagai kesuksesan di bisnis dan politik, ia memang menjawab, sekarang mimpinya jadi presiden.

Tulisan pada baliho itu, katanya hanya bercanda. Kendati termasuk candaan berat. Lelaki kelahiran Jakarta, 8 Agustus 1977 ini menyadari bahwa dirinya bila dibandingkan dengan semua calon presiden lain, masih jauh.

Dalam berbagai survey, nama Sahroni belum muncul di antara nama-nama calon presiden yang beredar di masyarakat. Hal ini wajar, mengingat Bendahara Umum DPP Partai NasDem ini belum ada yang menggulirkan sebagai tokoh muda yang layak dicalonkan sebagai presiden. Ia mimpi di antara mimpi calon presiden yang berniat maju.

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 23-26 Desember 2020, melakukan wawancara melalui telepon kepada 1202 responden, dan dari hasil survey belum ada calon presiden yang kuat. Ada 26 tokoh yang muncul, 10 besar di antaranya: Ganjar Pranowo (15,7 persen), Prabowo Subianto (14,9 persen), Anies Baswaden (11,0 persen), Sandiaga Uno (7,9 persen), Ridwan Kamil (7,1 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (3,1 persen), Tri Rismaharini (3,1 persen), Puan Maharani (1,7 persen), Gatot Nurmantyo (1,0 persen).

Sementara, pimpinan partai lain, seperti Golkar, NasDem, PKB, PKS, PAN, Perindo, Berkarya, PBB, di bawah nol persen. Padahal, pimpinan partai parlemen pada Pileg 2019, perolehan suaranya pasti di atas parlemen threshold 4 persen, sebagaimana ketentuan UU Nomor 7 Tahun 2017.

Fenomena ini menarik, kecuali Partai Gerindra, suara pileg tak berbanding lurus dengan suara ketua umum partai. Bahkan, suara elektoral Airlangga Hartarto, 0,1 persen bila dibandingkan dengan suara Golkar 12,31 persen, A Muhaimin Iskandar, 0,3 persen bila dibandingkan dengan suara PKB 9,69 persen, Surya Paloh 0,1 persen bila dibandingkan dengan suara NasDem 9,05 persen, Sohibul Iman 0,0 persen bila dibandingkan dengan suara PKS 8,21 persen, Zulkifli Hasan 0,0 persen bila dibandingkan dengan suara PAN 6,84 persen, Hary Tanoesoedibjo 0,0 persen bila dibandingkan dengan suara Perindo 2,67 persen, Hutomo Mandala Putra 0,0 persen bila dibandingkan dengan suara Berkarya 2,09 persen, Yusril Ihza Mahendra 0,0 persen bila dibandingkan dengan suara PBB 0,79 persen.

Studi komparasi di atas mendeskripsikan bahwa rerata perolehan suara partai berasal dari caleg, dan sumbangan pimpinan partai tak signifikan. Sumbangan partai pada suara pimpinan partai atau sumbangan pimpinan partai pada suara partai, belum bersifat timbal balik. Ketua umum partai yang ingin maju, harus berjuang sendiri, tak bisa mengandalkan suara partai yang sudah ada. Sebab, suara pileg satu hal, dan suara pilpres adalah hal lain.

Sistem pemilihan langsung presiden memang telah menguatkan presidensialisme dalam ketatanegaraan, namun melemahkan kaderisasi partai dalam kepemimpinan. Partai dipaksa mengusung figur calon yang dikehendaki rakyat berdasarkan opini publik untuk memenangkan pemilu. Sementara itu, kader internal yang berkeringat, tingkat elektabilitasnya kalah dalam berbagai jejak pendapat.

Sebuah pilihan dilematis, partai lama-kelamaan hanya berfungsi sebagai 'kendaraan politik' daripada menjadi 'kawah candradimuka' politisi negarawan. Padahal, peran dan fungsi partai sangat penting dan strategis dalam rekrutmen kepemimpinan. Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt bahkan mengatakan, partai merupakan pintu masuk demokrasi.

Jujur harus dikatakan, lemahnya kaderisasi partai, disebabkan oleh party ID yang rendah dan democracy's discontent (ketidakpuasan demokrasi) yang merambat pada dislike of the party (ketidaksukaan partai). Ketidaksukaan demokrasi kata Michael J Sandel dalam Democracy's Discontent: America in Search of a Public Philosophy, dilatarbelakangi oleh hilangnya komunalisme dan peran masyarakat sipil dalam pemerintahan.

Ketidaksukaan partai merupakan side effect dari kepercayaan rakyat pada partai tergolong terendah dari berbagai institusi negara dan politik yang ada. Terkait dengan ini, tiga lembaga survey terkemuka di Tanah Air, yaitu LSI, Indobarometer dan Charta Politika, menyebutkan angka 45,8 persen sampai dengan 53 persen.

Membaca mimpi Sahroni, sama halnya dengan membangunkan partai dan politisi bahwa kepemimpinan merupakan hak privillege-nya. Partai sejatinya alat perjuangan para pengurus, kader dan simpatisan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan secara kontitusional dan institusional. Sebab, tanpa dukungan partai atau koalisi dalam memenuhi presidential threshold 20 persen kursi atau suara, "malaikat" sekalipun tak bisa mencalonkan diri, apalagi terpilih jadi presiden pasca Jokowi.

Manuver Sahroni mendobrak brigade opini, politisi Senayan juga layak dipertimbangkan sebagai calon presiden. Bukan melulu gubernur, menteri, pengusaha, tokoh agama atau masyarakat, anggota dewan biasa pun boleh juga bermimpi jadi presiden. Selagi bermimpi tak dilarang, bermimpi masih gratis dan tak perlu bayar.

Ditinjau dari berbagai segi, Sahroni dapat dijual sekaligus punya jualan. Di antaranya:

Pertama, Sahroni adalah pengusaha sukses. Ia pengusaha pengisian bahan bakar minyak. Ia acapkali disebut 'Crazy Rich Tanjung Priok' lantaran kekayaan dan kedermawanannya. Total kekayaan, menurut website KPK, sejumlah Rp 208.076.995.945.

Kedua, Sahroni politisi sukses. Karir di NasDem dan Senayan terus menanjak. Semula Ketua Bidang Ekonomi Garda Pemuda NasDem (2013), merangkap Bendahara kemudian Ketua DPW Partai NasDem DKI Jakarta (2015-2016), kini Bendahara Umum DPP Partai NasDem (2019-sekarang). Ia semula anggota biasa (2014-2019), kini Wakil Ketua Komisi III (2019-2024). Ia berangkat dari Dapil DKI Jakarta III dengan perolehan suara meningkat. Pada 2014, memperoleh 60.683 suara, dan 2019 meningkat menjadi 73.938 suara.

Ketiga, Sahroni politisi pengusaha yang usianya masih relatif muda. Tampang serta tongkrongannya merupakan style anak muda. Penampilan selalu klimis dan hobinya supercar. Ia pernah menjadi Presiden Ferari Owners Club Indonesia (FOCI) periode 2011-2016, dan mengkoleksi puluhan mobil mewah, supercar dan moge. Kepemudaan pasti menjadi faktor magnitude khusus bagi pemilih berusia 17-30 tahun yang berjumlah 60 juta lebih atau setara 31 persen.

Keempat, Sahroni sesungguhnya sudah menjadi 'mimpi' dari anak Indonesia. Seorang dari keluarga sederhana yang pernah bekerja sebagai tukang semir sepatu, tukang cuci pirang, sopir, kini sukses sebagai pengusaha pengisian bahan bakar minyak sekaligus anggota dewan. Mimpi sukses dan terus bertambah sukses mengilhami jutaan orang bermimpi sukses pula. Mimpi jadi presiden Sahroni, pasti didorong oleh mimpi Indonesia.

Semua menyadari the power of the dream (kekuatan mimpi). Sahroni apalagi, memandang mimpi itu sebagai doa. Fenty Effendy penulis: Ahmad Sahroni, Anak Priok Meraih Mimpi, merasakan betul getaran kekuatan Sahroni meraih mimpinya dalam bisnis dan politik. Ia berhasil meraih mimpi-mimpi tersebut. Semua sebab kekuatan mimpi itu sendiri sebagai sumber motivasi, energi, dan jalan meraih keberhasilan hidup.

Mimpi Sahroni mengingatkan pada sebuah lirik lagu berjudul The Power of The Dream yang dinyanyikan oleh Celine Dion: 'Deep within each heart, there lies a magic spark, that lights the fire of our imagination... (jauh di lubuk hati setiap insan, ada sebuah percik ajaib, yang nyalakan bara imajinasi kita).***


Moch Eksan
Pendiri Eksan Institute

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top