Zainun Ahmadi

Ibu Megawati

publicanews - berita politik & hukumSukarno, Guntur, Ibu Fatmawati, dan Megawati. (Foto: Istimewa)
Oleh: Zainun Ahmadi

BUNG Karno melukiskan suasana hatinya sedemikian dramatik, detik-detik jelang kelahiran puteri pertama dengan Bu Fat: Malam itu, petir menggeledek seperti hendak membelah angkasa. Isteriku terbaring di kamar tidur yang disediakan rumah sakit. Tiba-tiba lampu padam, atap di atas kamar runtuh, awan yang gelap dan berat melepaskan bebannya dan air hujan mengalir ke dalam kamar seperti sungai. Dokter dan para juru rawat mengangkat Fatmawati ke kamar tidurnya sendiri. Dia basah kuyup seperti juga perkakas dokter, kain sprei, dan kasur. Pendeknya semua basah. Di dalam kegelapan malam, hanya dengan cahaya pelita, lahirlah puteri kami. Kami memberi nama Dyah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri."

Peristiwa mengesankan itu terjadi di Yogjakarta, Kamis malam Jumat, tanggal 23 Januari 1947, tepat saat beduk tanda waktu sholat maghrib ditabuh. Peristiwa alam menyambut kelahirannya, dan mimpi Ibu Fat kala mendekati hari lahir puterinya memperoleh kembang sepatu merah dari mertuanya. Mimpi itu seolah mengisyaratkan kelak sang jabang bayi akan mengarungi kehidupan yang penuh tantangan perjuangan.

Pengalaman menantang Bu Mega dimulai dari dalam istana, saat Ibu Fat memutuskan enggan mendampingi Bung Karno --meninggalkan istana. Kala itu Bu Mega berusia 12 tahun, sebagai puteri sulung terpanggil untuk mengambil alih peran ibunda terhadap adik-adiknya. Perjalanan hidup di istana terus mengalir, dan setiap hari menjadi pelajaran kepemimpinan yang berharga bagi perkembangan jiwanya.

"Jika tamu-tamu sudah pulang, Bapak mengajak berdiskusi tentang berbagai hal yang dibicarakan dengan tamu-tamu tadi. Ada Om Jo (J. Leimena), pak Nas (AH Nasution) dan lain-lainnya. Dari situ saya mulai banyak tahu. Jika ada peristiwa nasional atau internasional yang menarik perhatian, kepada kami sering diberikan penjelasan. Itulah masa-masa paling berharga", demikian Bu Mega menulis kesannya.

Pengalaman langsung dengan realitas politik juga meninggalkan kesan mendalam bagi Bu Mega. Seperti peristiwa granat di Cikini yang membidik ayahnya, terpaksa berhenti kuliah di Universitas Indonesia dan Universitas Padjajaran karena dibatasi ruang geraknya, diawasi, disertai ancaman dan intimidasi, hingga penahanan Bung Karno oleh rezim Orba di saat sedang sakit parah.

Semua menjadi pengalaman perjuangan tersendiri, dan itu pula yang menempanya untuk senantiasa tabah dan kuat lahir batin menghadapi gelombang politik yang menghadang. Sejak memutuskan masuk ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada tahun 1987, bersama suami tercinta Taufiq Kiemas, pergolakan sepak terjangnya meninggalkan jejak sejarah emas, mendongkrak perolehan suara PDI secara signifikan.

Jejak langkah Bu Mega menemukan jati dirinya tatkala menghadapi serangkaian tekanan politik rezim terhadap de facto ketua umum partai, peristiwa pilu 27 Juli 1996, hingga melahirkan era reformasi. Perubahan nama partai menjadi PDI-Perjuangan semakin meneguhkan ketokohannya.

Seperti mengulang kemenangan PNI pada Pemilu 1955, pada Pemilu 1999 PDI-Perjuangan meraih 34 persen kursi DPR RI. Amanah partai untuk menjadi RI-1 terhambat, dilalui dengan terlebih dahulu menjabat wakil presiden --padahal partainya pemenang Pemilu.

Jejaknya terus menorehkan keagungan jiwa. Orientasinya selalu menatap ke depan, tidak mengaduk-aduk sejarah masa lalu untuk melampiaskan dendam keluarga atau sekedar menebar pesona. Kaya pengalaman dan berkepribadian kuat, terbukti tidak sulit baginya mencerna berbagai persoalan (konflik) di seputar dirinya sebagai ibu rumah tangga yang menyukai tanaman dan bunga, pandai memasak, penikmat lukisan dan musik, ketua umum parpol besar, dan sebagai Presiden Kelima RI.

Kala itu, di saat tekanan politik datang bertubi-tubi dari internal partai untuk mengadili Soeharto, misalnya, atau mengusut kasus 27 Juli, betapa teguhnya ia pada pendirian dan keyakinan. Sekali keputusan telah diambil, segala konsekuensi yang timbul siap dihadapinya. Ia tetap tegak lurus tak ingin melakukan politisasi apapun dan bagaimanapun, tak ingin melakukan pembalasan dendam politik. Ibarat di zaman Wild West atau pendekar di dunia persilatan kangouw, bahwa setiap musuh yang sudah dilukai harus dibasmi sampai remuk redam, sebab kalau tidak suatu waktu musuh itu akan membalas dendam. Bu Mega tidak demikian. That's her...

Kesabaran seakan tak ada habisnya. Barangkali benar 'ramalan' saat kelahirannya, akan menghadapi banyak tantangan perjuangan. Perjalanan hidup yang dilalui penuh romantika dan traumatika politik, dari seorang puteri presiden penghuni istana, mendadak sang ayah dikudeta dan dikenai tahanan rumah hingga wafat tahun 1970, masa-masa indah kuliah terpaksa berhenti, dan intimidasi rezim Orba yang berlangsung bertahun-tahun. Akumulasi semua yang dialami telah membentuk magma karakter yang khas. Dahsyatnya intrusi dan ekstrusi magma itu hanyalah Bu Mega yang mengerti, menyadari, dan hanya dirinya sendiri yang mampu mengendalikan. Hingga kini! ***


Zainun Ahmadi
Sahabat Taufiq Kiemas

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(4)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo22 Januari 2021 | 06:28:13

    Selamat HUT bu. Semoga tetap sehat dan amanah 🙏

  2. Iis_osya @iis_osya21 Januari 2021 | 17:09:28

    Di usia yg yg ke 74, semoga ibu mega sehat selalu ... dan membela wong cilik tanpa henti.

    Aamiin YRA


    🙏🙏🙏

  3. Iis_osya @iis_osya21 Januari 2021 | 17:08:58

    Di usia yg yg ke 74, semoga ibu mega sehat selalu ... dan membela wong cilik tanpa henti.

    Aamiin YRA


    🙏🙏🙏

  4. Iis_osya @iis_osya21 Januari 2021 | 17:07:57

    Di usia yg yg ke 74, semoga ibu mega sehat selalu ... dan membela wong cilik tanpa henti.

    Aamiin YRA


    🙏🙏🙏

Back to Top