Bersama Covid-19 di Ruang Isolasi (5-Habis)

Tuhan Menunjukkan Kekuasaannya yang Absolut, Saya Sembuh!

publicanews - berita politik & hukumSlamet Pribadi setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19 di RS Polri Soekanto, Kramatjati, Jakarta Timur. (Foto: arsip pribadi)
Oleh: Slamet Pribadi

Pengantar Redaksi:
Kombes (Purn) Slamet Pribadi selesai menjalani isolasi setelah ia dan keluarga dinyatakan positif Covid-19. Mantan Kabag Humas BNN dan Juru Bicara Divhumas Polri yang kini Wakil Rektor Universitas Bhayangkara itu menuliskan catatannya selama masa isolasi.


HARI kedelapan, tanggal 9 November 2020. Alhamdulillah bangun pagi badan terasa sehat sekali, setelah mandi pagi perawat melakukan pengecekan tensi dan oksigen dalam darah. Ia mengabarkan kondisi fisik saya bagus semua, demikian pula istri dan anak saya.

Seperti biasa kami bertiga masih menanti hasil swab tanggal 8 November 2020, berharap hasil tes negatif --sebuah cita-cita disertai doa setiap penderita Covid-19. Sambil menanti hasil swab, saya menonton acara televisi yang lucu-lucu agar terhibur lahir dan batin, sambil berharap imunitas kita meningkat. Tayangan menggembirakan bagi saya memberikan efek senang batiniah, katanya endorphin muncul secara maksimal kalau kita bisa terbahak-bahak. Sama seperti kita menonton tayangan religi yang menyejukkan rohani.

Efek senang tersebut juga saya alami ketika berjemur sambil menggerakkan badan meskipun hanya dari balik kaca jendela. Ketika kita berada di ruang isolasi, matahari, olahraga, dan kebebasan berinteraksi terasa mahal. Sebelum terkena Covid-19, saya malas sekali memanfaatkan apa yang saya sebutkan di atas. Hidup congkak dan sombong sekali dengan lingkungan sosial, termasuk mengolah diri sendiri untuk sehat. Saya berharap ketika hidup normal dan kembali sehat nanti keadaan di atas tak akan terulang lagi, harus terus berbuat baik dan hidup positif.

Menunggu hasil swab ketiga betul-betul spesial, ibarat menunggu karunia besar. Kami harap-harap cemas, meskipun pikiran saya tetap positif. Berkali-kali saya ke belakang untuk buang air kecil sebagai ekspresi penantian besar. Tampaknya anak saya juga demikian, meski dia tidak menampakkan kecemasan kepada saya, berkali-kali dia buang air kecil, he he he… Ini reaksi normal manusia yang memiliki gejala psikologis, otak memerintahkan bagian tubuh tertentu untuk bertindak sesuatu.

Tepat pukul 11.20, dokter Yahya yang rutin memeriksa menyampaikan saya sudah negatif. Saya sembuh. Anak saya juga negatif. Akan tetapi istri masih positif, namun dalam ambang batas mendekati negatif dan sudah tidak menularkan.

Saya mensyukuri nikmat Tuhan yang luar biasa, sekali lagi saya menerima kuasa Tuhan yang absolut, melalui tangan-tangan ajaib para perawat, dokter, laboratorium yang dipimpin oleh dokter Edy, serta jajaran RS Polri Soekanto. Tuhan telah menunjukkan kekuasaannya yang absolut itu agar manusia menerima hikmah dari cobaan dan ujian yang diberikan-Nya. Alhamdulillah.

Tinggal menunggu keajaiban dari Tuhan terhadap istri saya --ia masih harus melaksanakan isolasi sekitar dua hari lagi. Tuhan tidak akan meninggalkan kita sepanjang manusia tetapi berbuat baik kapanpun dan di manapun.

Pukul 19.30, saya sudah berada di rumah, surga duniawi tempat saya dan keluarga berlindung, membangun kehidupan demografis dan sosial. Kenikmatan yang tidak bisa dinilai dengan harta ketika sudah berada di rumah. Alhamdulillah.

Terima kasih dokter quu, terima kasih perawat quu. Kalian adalah pejuang-pejuang kemanusiaan. Terima kasih RS Polri Soekanto, Kramatjati, Jakarta Timur.*** (Habis)

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Arif K Wibisono @arifkwibisono15 November 2020 | 08:49:15

    Alhamdulillah.... perjuangan yg penuh karsa, rasa dan doa.

Back to Top