Ivan Dangoe

Gaya Permainan Catur Jokowi

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Credit to: Than Win Aung)
Oleh: Ivan Dangoe

DALAM obrolan di warung angkringan, tetiba muncul topik permainan catur. Lalu ada yang menganalogikan kepemimpinan dengan olahraga otak itu. Satu pertanyaan mencuat. Tipe pecatur macam apakah kepemimpinan seorang Jokowi?

Bagi saya, pertanyaan itu menarik. Tentu tak mudah menemukan perumpamaan yang tepat. Upaya simplifikasi pun tak terelakkan. Kita bisa sederhanakan permainan catur dalam dua kategori: gaya ofensif-agresif dan gaya defensif-solid.

Gaya pertama diwakili GM Mikhail Tal. Sedang gaya kedua direpresentasikan GM Tigran Petrosian.

Ibarat permainan catur, gaya Jokowi bukan tipologi Mikhail Tal. Siapa dia?

Mikhail Nekhemievich Tal (1936-1992) adalah juara dunia termuda pada masanya. Ia menjadi Juara Dunia Catur ke-8 pada usia 24. Tal mengalahkan Mikhail Botvinnik, sang petahana, di final Kejuaraan Dunia 1960.

Pecatur kelahiran Latvia (eks Uni Sovyet) ini dikenal sebagai pemain agresif. Ia selalu menyerang lawan secara mematikan sejak awal. Tal bahkan berani melakukan pengorbanan besar di tengah permainan. Buah pengorbanannya, ia raih banyak kemenangan di akhir permainan. Mikhail Tal karena itu mendapat gelar si Penyihir dari Riga.

Di antara para Presiden RI, hemat saya, Pak Harto memiliki gaya Tal. Satu contoh, keputusan beliau dalam mengintegrasikan Timtim pada dekade 70. Juga serangan mematikan terhadap para preman lewat operasi petrus era 80-an.

Gaya Petrosian
Gaya Jokowi, hemat saya, lebih mirip dengan karakter Tigran Petrosian. Nama lengkapnya Tigran Vartanovich Petrosian (1923 - 1984).

Petrosian lahir di Tblisi, Geogia (eks Sovyet). Ia memegang mahkota juara dunia catur ke-9, juga dengan mengalahkan GM Mikhail Botvinnik yang sebelumnya berhasil revans atas Tal pada 1962. Petrosian mengalahkan Botvinnik pada final 1963. Ia kemudian berhasil mempertahankan gelarnya pada final 1966, dengan mengalahkan GM Boris Spassky.

Petrosian ahli strategi bertahan yang solid. Ia bermain tenang sejak awal. Pun menghadapi lawan agresif macam Tal. Makin ditekan, ia makin tenang. Ketenangan itu membuat lawan tak bisa membaca kekuatan Petrosian yang sebenarnya. Efeknya mereka cenderung bikin blunder. Dan Petrosian mematikan musuh-musuhnya justru karena blunder yang mereka lakukan.

Ada banyak kebijakan Jokowi yang memperkuat indikasi gaya Petrosiannya. Ingat serangan terhadap kebijakan Jokowi dalam revisi UU KPK lalu. Jokowi keukeuh bertahan. Ia hanya mempersilakan para penentang revisi UU KPK ke Mahkamah Konstitusi (MK). Ajukan judicial review. Di MK, kelemahan gugatan mereka jadi tampak jelas. Kotak pandora terbuka. Majelis hakim MK pun menolak.

Hal serupa bisa kita lihat dalam kasus mutakhir. Kelompok oposisi, massa buruh, mahasiswa, bahkan sebagian ormas islam menolak UU Omnibus Law Cipta Kerja. Demo berhari-hari sepanjang pekan lalu digelar. MUI juga mengajak dialog Presiden Jokowi. Jokowi tetap keukeuh. Ia kembali sarankan semua pihak menempuh cara konstitusional ke MK.

Andai pihak oposisi menempuh judicial review, kita bakal saksikan siapa yang menang. Hal yang terlihat, gaya Jokowi menghadapi serangan itu tipikal Petrosian.

Gaya Petrosian juga diperlihatkan Jokowi menghadapi serangan KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia). Terhadap semua serangan KAMI, Jokowi hanya bertahan. Kabar terakhir, Gatot Nurmantyo, Presidium KAMI malah mengubah sikap terhadap UU Cipta Kerja. Gatot membuat statemen, bahwa UU Cipta Kerja itu mulia.

Ke depan, jika suara dan gerakan KAMI makin melemah, itu buah dari "permainan catur ala Petrosian" Jokowi. KAMI bakal dikalahkan oleh blunder mereka sendiri. Waktu akan membuktikan ini.***

Ivan Dangoe
Pengamat, tinggal di Sidoarjo

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Iis_osya @iis_osya20 Oktober 2020 | 06:01:54

    Yg penting strategi nya jangan merugikan rakyat, tapi justru mensejahterakan masyarakatnya.
    Itu impian rakyat terhadap pemimpinya.

Back to Top