Darwis Khudori, Universitas Le Havre

Bung Karno di Aljazair

publicanews - berita politik & hukumMonumen Soekarno di Algier, Ibukota Aljazair. (Foto: Istimewa)
Oleh: Darwis Khudori

HARI Senin, 20 Juli 2020, saya menerima tautan berita internet dari seorang mahasiswa saya yang berasal dari Aljazair: La stèle dédiée au Président Soekarno témoigne des relations algéro-indonésiennes (Arca yang dipersembahkan kepada Presiden Soekarno menjadi saksi hubungan Aljazair-Indonesia). Arca almarhum presiden pertama Indonesia itu diresmikan pada Sabtu, 18 Juli 2020, di Ben Aknoun, sebuah kawasan di Aljir, ibukota Aljazair, oleh perwakilan kedua negara, dalam hal ini Duta Besar RI di Aljazair (Ibu Safira Machrusah) dan Dirjen Asia-Oseania Kementerian Luar Negeri Aljazair (Bapak Boumediene Guenad).

Sementara itu di negeri-negeri Barat yang mantan kolonialis-imperialis, negerinya kaum juragan dan makelar budak (AS, Inggris, Prancis, Belanda, Belgia, Australia...), sedang terjadi pergolakan sosial besar-besaran melawan rasisme, imperialisme, penjajahan dan perbudakan. Pergolakan yang dimotori oleh kelompok Black Lives Matter ini dipicu oleh tindakan kejam terang-terangan seorang polisi berkulit putih (Derek Chauvin) yang membunuh seorang warga berkulit hitam (George Floyd) di Minneapolis, Amerika Serikat, 25 Mei lalu. Tuntutannya adalah tegakkan keadilan! Hancurkan lambang-lambang penjajahan dan perbudakan! Salah satu sasarannya adalah penghancuran, penggulingan dan atau penyingkiran patung-patung tokoh-tokoh sejarah yang dianggap melambangkan rasisme, imperialisme, penjajahan dan perbudakan, yang menghiasi ruang-ruang publik di negeri-negeri Barat, seperti Christopher Columbus (penginjak pertama benua Amerika) di AS, Jan Pieterszoon Coen (penakluk perintis penjajahan Indonesia) di Belanda, Edward Colston (pedagang dan makelar budak) di Inggris, Raja Lepolod II (penjajah Congo) di Belgia, Kapten James Cook (penakluk Australia) di Australia, Jean-Baptiste Colbert (pemrakarsa perundang-undangan perbudakan) di Prancis.

Lalu mengapa pemerintah Aljazair justru menegakkan arca tokoh sejarah yang bukan dari bangsanya sendiri?

Hubungan antara Aljazair dan Indonesia memang penuh warna solidaritas dan persaudaraan, khususnya dalam kurun masa romantika perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika melawan penjajahan menuju kemerdekaan. Hubungan awalnya tidak hanya terjadi pada waktu Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955, melainkan terjalin sejak kira-kira lima tahun sebelumnya, yakni ketika kemerdekaan Indonesia diakui oleh komunitas internasional pada akhir tahun 1949.

Berdasarkan penelitian saya pada arsip diplomatik Perancis, pengumuman kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949 disambut dengan suka cita dan dirayakan oleh masyarakat muslim di berbagai negara, khususnya di negeri-negeri Arab. Begitu kemerdekaan diumumkan, pada hari yang sama, Raja Farouk di Mesir menyampaikan ucapan selamat kepada delegasi Indonesia di Mesir, diikuti pengakuan resmi pemerintah Mesir atas kemerdekaan Indonesia. Perdana Menteri Mesir Azzam Pasha menyatakan bahwa 'Kemenangan Indonesia adalah Kemenangan Dunia Arab Timur Tengah' dan merupakan 'prakiraan yang menggembirakan bagi kemerdekaan bangsa-bangsa Arab di Afrika Utara', dalam hal ini Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libia. Di Maroko, pada hari Jumat pertama setelah peristiwa bersejarah itu, 31 Desember 1949, kemerdekaan Indonesia dirayakan di masjid-masjid diiringi doa-doa (mungkin sujud syukur). Bahkan sejak beberapa bulan terakhir, ternyata halaman pertama surat-surat kabar di Maroko setiap hari sudah memajang berita tentang perjuangan rakyat Indonesia yang heroik dalam mencapai kemerdekaannya dan menyerukan kepada rakyat Maroko untuk mengikuti jejak Indonesia.

Beberapa bulan kemudian, mulai berdatanganlah ke Indonesia para pejuang kemerdekaan Maroko, Tunisia dan Aljazair silih berganti mencari dukungan moral dan material kepada pemerintah Indonesia. Di antara tokoh pejuang kemerdekaan Afrika Utara yang terpenting adalah Habib Bourguiba yang kelak menjadi presiden Tunisia yang pertama. Dia mulai mengunjungi Indonesia pada tahun 1951 dan bertemu dengan presiden Soekarno, wakil presiden Hatta, menteri luar negeri Rum, dan tokoh-tokoh politik Indonesia lainnya. Begitu simpatinya presiden Soekarno kepada perjuangan kemerdekaan Afrika Utara sampai-sampai beliau menyediakan satu tempat di Jakarta kepada Neo Destour, partai politiknya Habib Bourguiba, sebagai basis gerakan mereka di Asia.

Dari Aljazair, pejuang kemerdekaan yang pertama kali datang ke Indonesia adalah Said Fahri pada tahun 1953 yang menyampaikan informasi tentang situasi mutakhir pergolakan di Aljazair, mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia dan meminta dukungannya.

Ketika perang kemerdekaan Aljazair pecah pada bulan Nopember 1954, Aljazair menjadi berita utama di media massa di Indonesia berkat informasi yang disebarkan oleh kantor Neo-Destour di Jakarta. Sebulan kemudian, datanglah dua tokoh pejuang kemerdekaan Aljazair, Hussein Ait Ahmad dan Mohammed Yazid, untuk mengikuti konferensi persiapan Konferensi Asia-Afrika di Bogor pada akhir Desember 1954, di mana mereka menyerahkan sebuah memorandum tentang situasi di Aljazair.

Dengan dukungan dan tempat pijakan Indonesia, para pejuang kemerdekaan Afrika Utara berkeliling di berbagai negara Asia untuk memberikan penjelasan tentang situasi di Afrika Utara dan mengkampanyekan perjuangan mereka. Sasarannya adalah untuk meyakinkan berbagai negara calon pesarta KAA agar memasukkan masalah Afrika Utara dalam agenda KAA. Semua ini membuat pemerintah Prancis meradang dan hubungan Indonesia-Prancis menegang.

Demikianlah, kurun waktu antara Konferensi Bogor Desember 1954 dan KAA April 1955, diwarnai oleh ketegangan politik internasional antara Indonesia dan negara-negara Blok Barat. Selama KAA, para pejuang kemerdekaan Afrika Utara diterima ikut serta sebagai 'pengunjung' (visitors). Sedangkan hasil KAA yang dituangkan dalam Komunike Final menyebutkan Aljazair, Maroko dan Tunisia dalam dua hal: 1) Penjajahan yang menjadi hambatan bagi negeri-negeri Afrika Utara dalam menjalin kerja sama langsung dengan negara-negara lain dan mengembangkan kepribadian dan kebudayaan termasuk mempelajari bahasa mereka sendiri; 2) Dukungan kepada rakyat Aljazair, Maroko dan Tunisia dalam mendapatkan hak kemerdekaan masing-masing dan mendesak pemerintah Prancis agar segera menyelesaikan permasalahan ini secara damai.

Berkat KAA, Maroko dan Tunisia dapat merebut kemerdekaan masing-masing pada tahun 1956. Sedangkan Aljazair masih harus berperang mati-matian melawan penjajahan Prancis sampai mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 1962. Antara KAA 1955 hingga kemerdekaan Aljazair 1962, Indonesia di bawah presiden Soekarno tak henti-hentinya mendukung dan ikut memperjuangkan kemerdekaan rakyat Aljazair melalui jalur diplomasi. Setelah KAA 1955, dibentuklah di PBB kelompok Asia-Afrika yang memperjuangkan kepentingan bangsa-bangsa Asia dan Afrika melalui sidang-sidang PBB, termasuk kemerdekaan Aljazair dan negara-negara Afrika lainnya. Berkat proses ini, 30an negara Afrika mendapatkan kemerdekaannya antara tahun 1960 dan 1965.

Secara pribadi, presiden Soekarno selalu mengutuk penjajahan melalui pidato-pidatonya, khususnya dalam pertemuan-pertemuan internasional. Bung Karno juga memerlukan menemui Presiden Perancis Jendral De Gaulle, beberapa kali, untuk menyampaikan pandangannya tentang penyelesaian masalah Aljazair di samping permasalahan internasional lainnya. Sumbangan Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan negara-negara jajahan yang paling terkenal adalah pidatonya di PBB pada tahun 1960 yang berjudul To Build the World a New. Dalam pidatonya ini Bung Karno mengutuk secara khusus penjajahan Prancis di Aljazair. Pidato ini merupakan semacam pengantar dari Konferensi Non-Blok di Belgrade pada tahun 1961 yang dipimpin oleh Nehru (India), Nasser (Mesir), Tito (Yugoslavia), Nkrumah (Ghana) dan Soekarno (Indonesia).

Dalam KNB ini, Aljazair diundang sebagai peserta penuh layaknya negara merdeka dan mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari beberapa negara peserta KNB termasuk Indonesia. Tahun berikutnya, 1962, Prancis mengakui kemerdekaan Aljazair.

Sesudah Aljazair merdeka, hubungan Soekarno dengan Aljazair makin erat. Berkat dukungan Soekarno, Aljazair disepakati untuk menjadi tuan rumah KAA kedua yang menurut rencana diselenggarakan pada bulan Juni 1965. Pergantian pimpinan pemerintahan Aljazair melalui kudeta militer dari Ben Bella ke Boumedienne menjelang penyelenggaraan KAA kedua juga tidak mengganggu hubungan Indonesia dengan Aljazair. Dengan segera Indonesia mengakui pemerintah Aljazair yang baru. Karena pergantian pemerintahan tersebut dan berbagai alasan lain, KAA kedua di Aljazair terpaksa diundur pada bulan Nopember 1965.

Namun di luar rencana, terjadilah tragedi berdarah 30 September 1965 di Indonesia. Soekarno terperangkap dalam pergolakan sosial dan politik dalam negeri. KAA kedua dibatalkan! Soekarno digulingkan oleh Soeharto dan dijadikan tahanan rumah hingga akhir hayatnya pada tahun 1970. Perjuangan heroik rakyat Aljazair menuju kemerdekaannya dan dukungan Soekarno tanpa pamrih atas perjuangan tersebut diajarkan di sekolah-sekolah di Aljazair sehingga nama Soekarno melekat di hati rakyat Aljazair.

Bagaikan operasi cangkok organ dalam tubuh manusia, arca Soekarno tidak ditolak oleh rakyat Aljazair, tapi sebaliknya disambut dengan gembira, karena tidak dirasakan sebagai organ asing yang dipaksakan kehadirannya.***

Paris, 27 Juli 2020
Darwis Khudori
Arsitek dan sejarawan Indonesia, dosen dan peneliti di Universitas Le Havre, Perancis

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(3)

Login
  1. Adinda @Prmthadinda28 Juli 2020 | 07:26:00

    Sampai sekarang bahkan Bung Karno masih terkenang. Semoga terus abadi, seperti juga Indonesia dan Aljazair.

  2. WE_A @WandiAli27 Juli 2020 | 18:49:56

    Bapak bangsa kami dibuat patung nya di Aljazair, menjadikan kebanggaan kami.

  3. Anak Gaul @gakasikah27 Juli 2020 | 12:28:10

    BK emang gak ada matinya. Namanya selalu harum sepanjang masa.

Back to Top