Adinda Paramitha, UNY

Agama, Kebudayaan, dan Kekerasan

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Foto: Istimewa)
Oleh: Adinda Paramitha

INDONESIA dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman agama, tradisi, dan kebudayaan. Kebudayaan sendiri menurut Koentjaraningrat adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat.

Sedangkan berbicara mengenai agama, Kluckhohn dalam sebuah karangan yang berjudul Universal Categories of Culture (1953) mengatakan bahwa sistem religi, termasuk agama, dikatakan masuk ke dalam unsur kebudayaan di dunia. Tidak hanya agama, namun juga sistem keyakinan, upacara keagamaan, bahkan juga benda-benda religius.

Hal ini kemudian menjadi relevan di Indonesia, di mana bangsa kita juga memiliki sistem religi dengan latarbelakang kebudayaan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, di Jawa dikenal ‘Kejawen’, yang merupakan suatu kepercayaan yang dianut masyarakat Jawa. Meski seringkali dikaitkan dengan klenik dan perdukunan, Kejawen sejatinya merupakan ajaran atau pedoman yang dipegang oleh masyarakat Jawa dalam hidup dan bertingkah laku yang baik. Selain itu, masyarakat Jawa juga menganggap Kejawen sebagai tradisi kebudayaan yang dilakukan secara turun-temurun, di mana tidak bertentangan dengan agama yang dianut oleh masing-masing individu.

Kejawen bukanlah sebuah agama, namun memang benar hidup berdampingan dengan agama yang dianut oleh masyarakat Jawa. Sehingga muncul lah istilah Islam Kejawen, Kristen Kejawen, hingga Hindu Kejawen.

Sama halnya dengan suku bangsa lain di Indonesia yang memiliki kepercayaan dengan latarbelakang agama dan kebudayaan, seperti masyarakat Jawa dengan Kejawen-nya. Hal tersebut tentu saja tidaklah menjadi sebuah masalah, karena bangsa Indonesia hidup dengan harmoni selaras yang menggambarkan bahwa bangsa kita cinta damai. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu jua.

Bahkan masyarakat pendatang yang menjajakkan kakinya di atas tanah yang memiliki sistem kepercayaan berlatar kebudayaan, nampaknya tidak masalah. Malahan mereka sangat menghargai setiap perbedaan. Mereka paham betul bahwa di mana pun kita tinggal, haruslah menghargai budaya setempat dengan adat istiadatnya.

Tetapi itu dulu. Kondisi seperti itu tinggallah cerita semata. Kini zaman telah berubah, di mana masyarakat yang masih menganut sistem kepercayaan berlatar kebudayaan dianggap telah melanggar perintah suatu agama. Mereka dianggap syirik, bahkan murtad karena melakukan suatu hal selain perintah Sang Pencipta.

Ironinya lagi, tak jarang segerombolan orang yang tak paham konsep kepercayaan berlatarbelakang kebudayaan ini, gemar meneriakkan tuduhan tak berdasar. Mereka seperti menjadi kompor paling panas yang menginginkan agar si penganut kepercayaan ini “dimusnahkan” dari tempat tinggal mereka. Alhasil, banyak tempat peribadatan bahkan makam pun tak lepas dari tangan-tangan keji itu.

Kekerasan Atas Nama Agama
Kekerasan yang mengatasnamakan agama lantas masih menjadi sebuah pertanyaan klasik, mengapa agama yang berdasarkan kasih, di waktu yang bersamaan bisa menjadikan pemeluknya melakukan kebencian terhadap kelompok lain yang berbeda pandangan?

Pembubaran aktivitas atau upacara keagamaan, pengeroyokan umat beragama, perusakan tempat ibadah, sampai tidak diizinkannya pendirian sebuah makam sesepuh dari agama tertentu. Tidak adanya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) terus menjadi alasan dibalik tindakan tersebut. Alasan lainnya mereka katakan karena itu merupakan musyrik, syirik, dapat memurtadkan manusia.

Padahal berabad-abad yang lalu, Bangsa Indonesia hidup dengan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, juga sinkritisme.

Lalu apa sebenarnya yang mendasari adanya perusakan tempat ibadah hingga pelarangan masyarakat melakukan tradisi keagamaan? Apakah memang harmoni yang dimiliki oleh bangsa Indonesia hilang ditelan zaman?

Kalau mereka tidak lagi menginginkan adanya tradisi keagamaan berlatarbelakang kebudayaan masih ada di Indonesia, lalu apa yang dapat dijadikan sebagai identitas bangsa kita yang memiliki kekayaan budaya ini? Pancasila? Tentu saja kelima sila tersebut tidak akan ada artinya lagi jika bangsa kita masih mudah dipecahkan oleh isu yang demikian.

Mengembalikan Harmoni Agama dan Kebudayaan
Tentu saja sebagai bangsa dengan agama dan kebudayaan yang berbeda, kita tidak ingin isu yang demikian terus mengancam. Bukan hanya jiwa tiap individu saja yang terancam, namun juga solidaritas bangsa kita.

Oleh karena itu, kita diperlukan untuk terus membentuk bangsa yang solid, yang memiliki harmoni selaras. Tentu bukanlah perkara mudah yang dapat dilaksanakan secara instan. Harmoni antar agama dan kebudayaan harus dibangun atas dasar kesadaran tiap individu, melainkan bukan paksaan.

Ingat, bahwa kita pernah ada pada masa di mana bangsa kita disatukan oleh ‘kesamaan nasib dan latar belakang’. Beralandaskan persamaan tersebut, bangsa kita memilih untuk bersatu melawan ketidakadilan dan penindasan. Tentu saja dibarengi dengan tindakan nyata dari setiap individu hingga pemerintah itu sendiri.

Negara harus turut hadir dalam menciptakan keadilan dan kesetaraan bagi seluruh masyarakat. Sedangkan setiap masyarakat juga harus melakukan sebuah komunikasi budaya yang intens untuk dapat mencapai keserasian persepsi.

Kini waktunya kita tersadar kembali, bahwa kekerasan yang dilakukan atas nama agama adalah suatu tindakan terkutuk yang tidak mencerminkan jati diri bangsa.

Beragama lah tanpa harus kehilangan budaya dan berbudaya lah dalam bingkai keagamaan.***

Adinda Paramitha
Mahasisi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo24 Juli 2020 | 23:08:22

    cakep nih: beragamalah tanpa kehilangan budaya, berbudayalah dalam bingkai agama. cocok mbak.

Back to Top