Aulia Gusti Devina, UNY

Kritik untuk Kampus yang Masih KKN dan Magang Saat Covid-19

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi
Oleh: Aulia Gusti Devina

DI SAAT kondisi COVID-19 masih banyak beberapa kampus di Indonesia, baik kampus swasta maupun negeri, masih memaksa adanya KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan juga magang. Padahal masih beberapa wilayah di Indonesia sendiri masih zona merah dan kebanyakan kepala desa di beberapa daerah tidak mengizinkan mahasiswa untuk melaksanakan KKN dan perusahaan juga banyak belum menerima mahasiswa untuk magang.

Seharusnya pemerintah dan pihak kampus juga memikirkan nasib para mahasiswa yang di semester akhir yang masih memikirkan nilai, IPK (Indeks Prestasi Kumulatif), skripsi, KKN, dan magang.

Di mana, enak seperti anak sekolahan tanpa adanya UN (Ujian Nasional) tinggal diluluskan saja. Kita anak kuliahan harus ngerjain skripsi dulu bikin seminar proposal, sidang skripsi, terus wisuda itu semua dilakukan secara online belum lagi memikirkan KKN dan magang, kaya gimana, apa aja yang harus dilakukan.

Di dalam suasana COVID ini seharusnya jangan lagi beberapa kampus memikirkan KKN dan magang dengan fasilitas yang kurang memadai serta masih banyak desa-desa yang belum bisa mahasiswa untuk diadakannya KKN, malah ada yang menertawakan mahasiswa yang ngurus surat izin buat mengadakan KKN.

Apalagi magang. Masih banyak sekali perusahaan yang belum bisa nerima mahasiswa magang karena adanya kondisi COVID-19. Seperti contohnya magang di TVRI, karena ada satu orang yang dinyatakan meninggal karena COVID-19, sehingga TVRI sekarang kantornya ditutup.

Seharusnya pihak-pihak kampus yang ada di Indonesia yang masih maksa mengadakan adanya KKN dan magang itu mikirin nasib mahasiswa juga, itu pasti menemuin keramaian banyak warga gak takut kalau mahasiswa dari beberapa kampus terkena Corona apa tidak ya.

Di tempat saya aja KKN masih belum dapet izin dari kepala dukuhnya buat mengadakan KKN. Di daerah saya juga ada beberapa kampus negeri dan swasta mahasiswanya disuruh milih mau magang atau KKN.

Gak ada kampusnya yang memaksakan adanya KKN dan magang dilakukan bersamaan dengan modal yang dikasih kampus dikit untuk bisa mengadakan KKN, belum lagi gak semua mahasiswa yang tinggal di daerah masing-masing ada wi-fi, kuota internet, masih banyak yang susah sinyal.

Apa pihak kampus memikirkan itu juga? Dana dari kampus aja gak semua mahasiswa dapat pulsa atau apapun itu dari kampus.

Kampus cuman taunya ada dilaksanakan KKN, tanpa ada pemberitahuan berita yang jelas tiba-tiba pelepasan, belum ada pembekalannya, mahasiswa disuruh semuanya mikir gimana caranya bisa diadakannya KKN disaat kondisi COVID-19, banyak orang tua mahasiswa yang tidak mengizinkan anak-anaknya untuk KKN dan magang dengan situasi Corona kaya gini para orang tua banyak yang khawatir anak-anak-anaknya terkena corona. KKN bisa dilaksanakan secara online dengan di rumah saja melalui cara bikin video tutorial juga bisa.

Banyak mahasiswa yang masih belum paham betul dengan diadakannya KKN dan magang yang semuanya serba mendadak, belum ada pemberitahuan akan kejelasan mengenai magang dan KKN gimana aja, harus ngapain aja. Sebagian mahasiswa banyak belum mengerti sama sekali, tiba-tiba sudah disuruh buat matrikulasi bikin proker (Program Kerja).

Kalau saja pihak kampus memikirkan bahwa Corona itu suatu virus yang kita sendiri belum tau kapan selesai.
Kalau saya sih, daripada kampus sibuk mengadakan KKN dan magang, mending tidak usah ditiadakan atau ditunda aja dulu apa diganti dengan tugas yang lain.

Iya adanya KKN dan magang kampus tidak tau kan di beberapa daerah di Indonesia masih banyak yang zona merah, khususnya tempat saya yang belum dibolehkan adanya KKN dan magang. Saya sendiri akhirnya coba untuk memutuskan KKN di rumah dengan cara membuat brosur tentang Corona, bikin video tutorial cara pembuatan masker dan juga hand sanitizer, gimana caranya cuci tangan di air mengalir untuk mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk tetap jaga kesehatan, jangan keluar rumah kalau tidak benar-benar penting, jangan lupa ikuti protokol kesehatan.

Karena itu sangat penting sekali, new normal bukan berati semua kondisi jadi normal seperti biasanya. Semenjak diadakan new normal, masyarakat banyak tidak menggunakan masker sudah mulai ke Mall, nongkrong.

Gimana Corona mau selesai, kalau masyarakatnya aja suka bandel menaati kerumunan banyak orang. Seharusnya pemerintah kalau mau tegas agar corona selesai, tetap diadakan PSBB. Ya walaupun kondisi ekonomi sangat memprihatinkan karena adanya Corona, seperti banyak sekali pengangguran.

PSBB sih tidak apa-apa, asalkan pemerintah juga memberikan fasilitas yang bagus buat yang pengangguran tidak bisa kerja, yang terpaksa diberhentikan karena mengurangi karyawan.

Aulia Gusti Devina
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah23 Juli 2020 | 08:32:13

    Betul sekali. Harus disesuaikan kondisi sekarang dong. Kesehatan yg utama.

Back to Top