Bambang Sumarley, Peneliti

22 Tahun Lengser Keprabon dan Normal Baru

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Foto: net)
Oleh: Bambang Sumarley

BESOK, 22 tahun lalu, 21 Mei 1998, Soeharto 'lengser keprabon' setelah 32 tahun berkuasa di negeri ini. Pengunduran diri dilakukan di Istana Negara di tengah ratusan ribu demonstran –-dimotori mahasiswa-- yang mengepung Jakarta.

Sebenarnya, 'keinginan' lengser keprabon itu sudah ia ungkapan jauh hari sebelumnya, yakni 20 Oktober 1997. Saat itu, di hadapan pengurus Golkar, Soeharto menyatakan ingin mundur. "Lengser keprabon madeg pandhita. Jadi kalau tidak menjadi pemimpin kerajaan bisa madeg menjadi pandhita," katanya.

Maksudnya, ia ingin mundur dari jabatan Presiden secara baik-baik dan sukarela. Kemudian ia hendak menjalankan peran baru, yakni sebagai pandhita, yang akan selalu memberi nasihat kepada siapa pun yang membutuhkannya.

Namun keinginan itu tinggal keinginan belaka. Malah tidak sedikit yang menganggap keinginan itu sekadar lip service. Pasalnya, setelah berucap itu, Soeharto malah jadi presiden lagi untuk yang ketujuh kalinya secara berturut-turut.

Tapi tampaknya, apa yang sudah terlanjur terucap –-keinginan lengser keprabon-- tak bisa dibatalkan. Dan itu terjadi 6 bulan setelah ia mengucapkannya di depan pengurus Golkar. Hanya saja, dengan cara yang jauh dari 'baik-baik'. Tak bisa pula disebut 'sukarela'.

Sejarah mencatat, lengsernya Soeharto tak hanya terjadi di tengah ingar-bingar demonstrasi mahasiswa, tapi juga didahului oleh aneka kejadian yang mencekam. Mahasiswa mati tertembak, terjadi kerusuhan --bahkan rasial, disertai perkosaan atas perempuan Tionghoa (Tempo, 3 Oktober 1998 dan Tirto, 22 Mei 2017)-- dan penjarahan di berbagai tempat. Yang juga tak kalah mengerikan, mayat-mayat terpanggang di gedung-gedung yang terbakar.

Aneka kejadian di sekitar lengsernya Soeharto yang oleh The Sydney Morning Herald (20 Mei 2018) disebut sebagai Bloody and Frightening.

Max Lane, di Unfinished Nation (2014), juga tegas-tegas menyebut lengsernya Soeharto tak terjadi secara sukarela. Menurutnya, itu terjadi setelah berbagai pihak memaksanya. Yang menonjol dan konsisten adalah paksaan mundur dari 'protes massa'. Ini dimulai sejak akhir 1980-an dan puncaknya di Mei 1998.

Protes massa itu, menurut Lane, adalah aspirasi sebagian besar rakyat, yang dipimpin mahasiswa, yang menolak rezim Soeharto. Sampai Mei 1998, Soeharto sudah memerintah selama 32 tahun. Itu berarti lebih dari separuh usia kemerdekaan negeri ini (55 tahun) ada di bawah kekuasaan Soeharto.

Puncak penolakan atas Soeharto pada Mei itu digambarkan Lane sebagai berikut: "...Menteri-menteri kabinet, politikus-politikus Soeharto, jenderal-jenderalnya dihadapkan pada pilihan: memperparah situasi yang sudah tak bisa dikendalikan lagi dan meningkatkan radikalisasi di kalangan rakyat atau melepaskan dukungannya pada Soeharto. Mereka, akhirnya, memilih meninggalkan Soeharto. Protes massa memenangkan tuntutan utamanya: pengunduran diri Soeharto."

Begitulah Lane menggambarkan lengsernya Soeharto. Baginya, Soeharto tak jatuh dari kekuasaan --tapi didorong jatuh. Dan bukan (hanya) krisis ekonomi, kekuatan luar negeri, atau elit politik dalam negeri yang menjadi penyebab utama kejatuhan Soeharto. Tapi oleh gerakan politik dan protes massa yang sejak akhir 1980-an terus meningkat.

Maka terjadilah yang harus terjadi. Pada 21 Mei 1998 Soeharto tumbang. Soeharto dipaksa lengser, dipaksa mengundurkan diri, setelah tak mampu lagi menghadapi protes massa –-dimotori mahasiswa-- yang bagaikan air bah terus meningkat intensitasnya.

Air bah yang menolak hidup lebih lama lagi di bawah Soeharto. Air bah yang menghendaki 'normal baru'. Laiknya pandemi Korona sekarang ini yang mesti dihadapi dengan protokol 'normal baru' (jaga jarak, sering cuci tangan, bermasker, dan lain-lain) --sejak Mei 1998 negeri ini juga memberlakukan normal baru.

Normal baru untuk memutus rantai 'epidemi' 32 tahun kekuasaan Soeharto. Ada otonomi daerah dan pemilu langsung. Tak hanya pilpres tapi juga pileg dan pilkada. Juga tentara direposisi. Ia hanya mengurusi pertahanan, sementara keamanan menjadi wewenang polisi, dan lain-lain.

Benar, normal baru yang sejauh ini belum sempurna di realisasinya. Bahkan penuh pertengkaran yang hampir tak ada habisnya. Tapi, itulah pilihan yang dipilih negeri ini. Dan meskipun kurang ini dan itu, tapi kiranya terlalu sulit untuk mengatakan jelek banget.

Apapun itu, yang pasti, pilihan sudah terucap. Pilihan pada normal baru. Dan yang sudah terucap, apapun hambatannya, akan menemukan jalannya. Seperti Soeharto yang berucap pengin lengser --itu lalu benar-benar terjadi. Maka lengserlah ia pada 21 Mei 1998.

Lengser yang lalu mengawali pilihan negeri ini pada normal baru. Normal baru yang kini berusia 22 tahun. Karenanya bukan pada lengsernya Soeharto yang harus diperingati, apalagi disesali (!), tapi lebih pada perayaan 22 tahun pilihan normal baru itu.

Bravo normal baru. Selamat ulang tahun ke-22. Yeah!

Bambang Sumarley
Peneliti, tinggal di Bekasi

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo22 Mei 2020 | 04:59:10

    sepakat. keluarganya hidup sejahtera dan kayaraya sampe sekarang. huuuuu...

  2. Anak Gaul @gakasikah20 Mei 2020 | 22:00:07

    jangan berulang lagi deh punya penguasa lama dan diktaktor. Ngerih.

Back to Top