Bambang Sumarley, Peneliti

Dihajar Memori Kolektif McDonald's Sarinah

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Credit to: Ronald McDonald's Campaign)
Oleh: Bambang Sumarley

DIBERITAKAN, banyak orang datang ke McDonald's (McD) Thamrin, Jakarta, kemarin, ketika tahu resto ini tutup untuk selamanya karena gedung Sarinah tempatnya berada direnovasi.

Mereka konon datang untuk mengenang atau sekadar berfoto di depan resto yang sudah berdiri sejak 30 tahun lalu itu untuk terakhir kalinya.

Tapi mengapa (terkesan) hanya McD yang hendak dikenang? Padahal bukan cuma McD yang ada di Sarinah. Banyak hal lainnya di Sarinah, yang juga akan hilang seperti halnya McD.

Misalnya, 'jejak' Soekarno di Sarinah. Tak hanya ide dan arsitekturnya, tapi di situ juga ada, biorama, relief, patung 'khas' Orla --jika saja interior Sarinah tak menutupinya.

Pernah pula ada Hardrock Cafe di situ. Tentu, ada sekian banyak artis yang telah meramaikannya. Bahkan Padi suatu kali pernah membuat gempar saat manggung di atap Sarinah.

Belum lagi produk 'kearifan lokal' yang berlimpah dijajakan di situ. Ada batik, kerajinan, sovenir, dan lain-lain. Aneka produk yang boleh jadi dikonsumsi para sosialita dan jadi berita di media massa.

Juga, nah ini dia, di Sarinah ada MusikPlus. Ini adalah toko kaset/CD. Berapa banyak artis dan publik yang pernah jadi konsumennya? Bukan berlebihan, jika keberadaan toko itu, sedikit banyak telah ikut membentuk 'selera' musik.

Belum lagi resto dan konter lain yang menawarkan aneka dagangan yang lain lagi. Pendeknya, di Sarinah bukan cuma ada McD. Masih banyak yang lain.

Tapi mengapa kesannya hanya McD yang 'ditangisi?' Hanya resto ini yang (layak) kenang? Memori kolektif macam apa yang di-generate McD, sampai-sampai mengalahkan yang lain?

Apa karena McD berbau 'asing', dan karena yang 'asing' terlanjur/ternyata digandrungi, maka ketika itu hilang lalu layak ditangisi?

Apakah karena itu pula publik kurang kenangannya atas hilangnya konter-konter batik, kerajinan lokal, dan semacamnya? Artinya, hilangnya penjaja 'kearifan lokal' itu tak disesali?

Tapi kalau itu benar, mengapa hilangnya resto/konter penjaja produk yang juga berbau 'asing' --sepi dari 'tangisan', tak banyak yang menyesali dan mengenangnya?

Misalnya saja, MusikPlus, cafe ini/itu, resto burger/kue ini/itu yang akan segera menghilang dari Sarinah. Sejauh ini, tak ada berita yang heboh tentangnya. Setidaknya beda banget dengan McD.

Mengapa tutupnya McD Sarinah bagi (sebagian) publik begitu dahsyat menguras kenangan? Mengapa memori kolektifnya begitu hebat?

Ada pendapat yang mengatakan, itulah hebatnya positioning McD. Ia memiliki positioning khas, lain dari yang lain, dibandingkan dagangan lain di Sarinah.

Positioning itu: McD adalah produk keluarga.

Sangat boleh jadi, di sepanjang 30 tahun usianya di Sarinah, McD telah mengikat konsumen dengan pengalaman yang 'sama', sejak mereka anak-anak, remaja, sampai kini sebagai orang tua, bahkan kakek/nenek.

Artinya, mereka ini pernah merasakan sebagai konsumen McD Sarinah bersama-sama dan dalam masa yang relatif panjang. Dengan itu memori kolektifnya begitu kuat.

Ini beda dengan produk lain di Sarinah yang relatif lebih segmented. Hardrock Cafe, misalnya. Ini hanya bagi yang kuat jingkrak-jingkrak. Setelah uzur, konsumen mundur. Artinya, memorinya pendek.

Begitu juga MusikPlus, resto/cafe, dan aneka dagangan produk 'kearifan lokal'. Segmented banget produk-produk itu. Sama pula segmented-nya produk/artefak 'Orla', jejak Soekarno.

Artinya, di produk-produk itu, memori kolektif yang terjadi di benak konsumen tak sekuat yang terjadi pada McD. Maka, ketika resto ini tutup selamanya, memori kolektif itu kemudian bekerja.

Memori kolektif publik atas McD Sarinah yang seperti itulah --yang sangat berbeda dengan produk/konter lainnya-- yang 'nendang' kemana-mana.

Memori kolektif yang mengaduk-aduk kenangan. Kini (sebagian) publik sedang dihajar memori kolektif McDonald's Sarinah.

Bambang Sumarley
Peneliti, tinggal di Bekasi

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo12 Mei 2020 | 04:12:29

    memori manis banyak....memori teror juga banyak.... tinggal pilih aja.

Back to Top