Bambang Sumarley, Peneliti

Didi Kempot yang Tak Cuma Berhenti di Kata-kata

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Credit to: tokome)
Oleh: Bambang Sumarley

BAGAIMANA patah hati semestinya disikapi? Tanyakan itu pada Didi Kempot. Dan pasti ia tak akan menjawab pertanyaan itu hanya dengan kata-kata belaka.

Tapi lebih dari itu. Ia akan menjawabnya dengan aksi, yakni: (n)joget!

Umumnya, oleh banyak musisi, patah hati sedikit banyak sekadar dimaknai menjadi suatu pengalaman khas yang layak disesali. Setidaknya, 'korban'-nya lalu menyesali diri sendiri mengapa harus mengalaminya.

Itu, misalnya, yang terjadi pada Thom Yorke & Radiohead. Sebegitu patah hatinya ia, sampai-sampai ia menganggap bahwa dirinya memang pantas patah hati, sebab dirinya hanyalah seorang pecundang. "I'm a weirdo," katanya berkali-kali di Creep (Pablo Honey, 1993) disertai distorsi gitar penuh kesal.

Mark Ferner bersama bandnya yang memposisikan diri sebagai band gahar --Grandfunk Railroad-- juga begitu. Buat apa aku peduli pada seseorang yang tak mempedulikanku, tanyanya dengan kesal di Someone (Phoenix, 1972).

Dan tentunya masih banyak lagi musisi/artis lainnya yang menyikapi patah hati dengan cara seperti itu: sesal dan kesal.

Memang, ada pula yang tak menyikapinya dengan sesal/kesal melainkan dengan cara yang sepintas terkesan arif, bahkan gagah. Hanya saja, 'nelangsa' tetap saja tak bisa disembunyikan.

Misalnya, resep umum di banyak lirik artis-artis yang hampir seragam --intinya, sang korban merelakan patah hati, mendoakan agar 'doi' bahagia bersama orang lain, blablabla, dan lain-lain.

Termasuk juga di situ adalah 'declare' terkenal yang dipakai Ebiet G Ade: cinta tak harus memiliki.

Namun Didi Kempot kiranya lain.

Memang lirik-lirik Didi juga sangat kuat bicara tentang nelangsa (Cidro, Stasiun Balapan, Tanjung Mas Ninggal Janji, dll). Juga sesal dan kesal. Tapi Didi tak berhenti di lirik. Ia tampaknya memang bukan manusia kata-kata saja, tapi manusia aksi.

Dan aksi itu adalah joget.

Jadinya, di tangannya patah hati tak lalu berhenti di kata-kata belaka sebagaimana musisi-musisi lainnya --tapi oleh Didi patah hati dibawa ke aksi, yakni dijogetkan.

Mengapa seperti itu? Mengapa patah hati bisa dijogetkan?

Barangkali Didi laiknya Pariyem-nya Linus Suryadi AG (di Pengakuan Pariyem, 1981).

Bagi Pariyem, patah hati, kecewa dan semacamnya tak harus dibawa ke kata-kata (marah, kecewa dll) --tapi diterima dengan 'legolilo'. Nah, Didi tampaknya juga begitu.

Justru karena ada legolilo itulah, maka kemudian Didi bisa menjogetkan patah hati dengan ringan. Seringan-ringannya. Seriang-riangnya.

Begitulah Didi Kempot (Dionisius Prasetyo) yang hari ini meninggalkan publik. Kepergian yang mengejutkan karena ia sedang di puncak ketenarannya.

Tapi dengan sepak terjangnya selama ini --menjogetkan sesuatu yang mestinya sulit untuk dijogetkan, dan ia 'raja' di urusan itu-- kiranya ia akan terus dikenang.

The king has gone but he's not forgotten. Begitu pernah ditulis Neil Young di My My, Hey Hey (Rust Never Sleeps, 1979).

Sugeng tindak, mas Didi.

Bambang Sumarley
Peneliti, tinggal di Bekasi

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo05 Mei 2020 | 18:36:46

    luar baiasa tulisannya. Dari tanah Jawi sampai ke negeri monco. Sama dengan pengaruhnya mas Didi. Selamat jalan mas. Sampeyan orang baik yang terkenal. 🙏

Back to Top