Danial F Lolo

Pak Jokowi dan Pak Anies Bertemulah

publicanews - berita politik & hukumPresiden Joko Widodo berbincang dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan usai menyerahkan Sertifikat Tanah untuk Rakyat di Cengkareng, Jakarta Barat, Januari 2019. (Foto: Antara)
Oleh: Danial F Lolo

KARENA pandemi memaksa semua orang berubah, mulai dari ibadah, kerja sampai belanja kebutuhan sehari-hari semua bisa dilakukan di rumah. Tanpa disuruh saat melihat bencana kepedulian masyarakat dan rasa solidaritas muncul dimana-mana. Dari aku dan kamu menjadi kita, menjadi kami. Kemajuan secara sosial terjadi dimana teknologi menjadi jembatannya.

Hari ini yang belum bisa berubah adalah budaya politik kita. Sentimen atau mungkin eksistensi masih kuat mewarnai masyarakat politik hari ini, tidak tampak sebuah persatuan ataupun solidaritas antar elite politik dalam mengatasi pandemi ini, jauh berbeda dengan apa yang terjadi di masyarakat. Saya jadi ngeri melihat kelakuan elite politik ini, lebih ngeri dari corona itu sendiri.

Kompetisi antar elite tentu menjadi sangat meriah karena ada tepuk tangan dan kebisingan dari para pendukungnya. Residu pemilu masih kental nyatanya. Sedih rasanya. Bagi sebagian orang ini tentu hal biasa dan ngak masalah, bagi saya ini persoalan serius. Kenapa serius? Karena kita sedang menghadapi wabah yang mematikan.

April sampai Mei adalah puncak penularan wabah, masih ada waktu dan kesempatan bagi kita mengatasi pandemi ini. Pandemi akan teratasi jika ada keseriusan negara dan pemerintah, persatuan elite politik dan kedisiplinan warga negara. Karena jakarta adalah pusat Wabah. Harus serius ngurusnya, kuncinnya ada di pak Jokowi dan Pak Anies.

Pak Anies masih muda, bekerjalah lebih keras lagi. Pak Jokowi sudah 2 priode, jangan pusing lagi soal popularitas atau citra, rakyat sudah berada di ujung sengsara. Pandemi ini adalah siklus besar sejarah, jadi tugas anda berdua ini adalah tugas sejarah. Coba anda renungkan bagaimana kegetiran para tenaga medis menghadapi ini, coba ada rasakan bagaimana orang sulit mencari rejeki untuk makan dan kebutuhan hidup lainya karena dampak wabah ini. Merenunglah dan segerahlah bertemu.

Berdasarkan data, Jakarta adalah provinsi dengan kasus terbanyak covid-19. Dalam banyak riset dikatakan pembatasan sosial adalah cara yang paling efektif menekan pandemi. Himbauan atau bahkan larangan tegas terhadap arus mudik lebaran harus dilakukan untuk menyelamatkan desa dari pandemi, untuk menyelamatkan kota dari krisis pangan. Saya heran kenapa Pak Jokowi dan Pak Anies belum pernah bertemu membahas langkah-langkah terpadu mengatasi pandemi ini. Selain sebagai ibukota negara, jumlah potensial terbesar pemudik itu masih dari Jakarta. Bersatulah untuk kemanusiaan.

Melarang orang mudik itu artinya menjaga desa dari pandemi. Desa harus tetap aman, agar warga bisa terus berproduksi menjaga ketahanan pangan.

Seandainya Pak Jokowi & Pak Anies bertemu membahas cara pengendalian pandemi secara terpadu, banyak hal yang bisa dilakukan, banyak hal yang terselamatkan. Hanya kemungkinan para buzzer yang kehilangan pekerjaan.

Danial F Lolo
Mantan aktivis mahasiswa 98

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top