Bambang Sumarley

Djaduk

publicanews - berita politik & hukumGregorius Djaduk Ferianto (19 Juli 1964-13 November 2019). (Foto: Pigtagram/djaduk)
Oleh: Bambang Sumarley

PARA 'diehard' Jogja Isťimewa pasti kehilangan dengan berpulangnya Djaduk Ferianto (55) pada Rabu (12/11) pukul 02.30 WIB karena serangan jantung. Begitu pula para Jokowi-er.

Kepergian Djaduk, si 'serba-bisa' Jogja, terasa sangat mendadak.

Semedot kelangan Djaduk pasti juga menyergap mereka sesama kaum yang merayakan 'celelekan' dengan amat serius. Celelekan yang 'pol-polan'.

Sampai-sampai celelekan --gara-gara Djaduk (bersama kakaknya Butet Kertaredjasa, Agus Noor, Heru Kesawamurti, dkk)-- bisa dibilang jadi genre tersendiri.

Genre ini sekadar meneruskan Dagelan Mataram ala Basiyo, Pak Guno, dan lain-lain? Kiranya kok bukan.

Tapi, celelekannya Djaduk dkk (mungkin) lebih sebagai konter/antitesa seriusnya Rendra, Umbu atau bahkan Sanggar Bambu dalam gagasan dan penyampaiannya.

Keseriusan yang bagi Djaduk dkk dianggap menegangkan & melelahkan. Karenanya perlu 'diudari', 'diwudani', di-dekonstruksi (halah!).

Dan jadilah genre itu: celelekan.

Itulah 'jasa' Djaduk (dkk) dalam kerja mendekonstruksi keseriusan.

Jasa kedua, dan barangkali ini yang utama dan jauh lebih penting lagi, adalah apa yang ia lakukan di musik lewat keterlibatannya di berbagai macam 'komunitas': Gandrik, Kua Etnika, Sinten Remen, dan lain-lain.

Oleh Djaduk, musik diudari habis-habisan, sehingg bisa kembali ke fitrah-nya, yakni:

BUNYI!

Bunyi yang tak hanya jadi monopoli si ini atau si itu. Bunyi yang bukan cuma miliknya Jazz, Rock, Klasik, Dangdut, dan lain-lain.

Djaduk mengembalikan bunyi jadi universal. Siapa pun bisa. Siapa pun berhak atas bunyi. Lalu merayakannya. Terserah, di mana saja.

Bisa di gedung-gedung wangi, dengan cara snob pun tak jadi soal. Bisa juga di gunung, pasar, kampung-kampung dan entah di mana lagi si bunyi glayaran untuk dirayakan.

Begitulah Djaduk. Jika Sutardji membebaskan kata, maka Djaduk membebaskan bunyi!

Ok, Duk. Nuwun yo. Sugeng tindak.

Bambang Sumarley
Peneliti asal Yogyakarta
Kini tinggal di Bekasi

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. Iis_osya @iis_osya13 November 2019 | 16:00:20

    RIP mas DJaduk, yg sdh banyak memberi warna dlm berkesenian di tanah air.

    Semoga guyonanmu tetap terjaga kelestarianya oleh seniman yg lebih muda dan potensional.

  2. Anak Gaul @gakasikah13 November 2019 | 11:50:35

    emang asyik nih pak Djaduk. guyon melulu, termasuk lewat musiknya. selamat jalan pak.

Back to Top