Deep Water Horizon di Karawang

publicanews - berita politik & hukumWarga membersihkan sisa lumpur minyak yang menyembur dari sumur ONWJ di Perairan Karawang, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. (Foto: Istimewa)
Oleh: Dedy Mawardi

PERNAH nonton film Deep Water Horizon yang dibintangi oleh Mark Wahlberg tahun 2016? Film ini bercerita tentang bencana dahsyat akibat kebocoran gas (blow out) di rig (kilang minyak) deepwater horizon di Teluk Meksiko, Amerika Serikat.

Kini bencana yang hampir mirip di Teluk Meksiko itu tengah terjadi di Teluk Karawang Indonesia. Sumur YYA-1 Blok Offshore North West Java (ONWJ) milik Pertamina yang terletak di perairan Pantai Utara Jawa, juga berpotensi menimbulkan semburan gas (blow out) seperti bencana tumpahan minyak di Teluk Meksiko. Bahkan seorang Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengatakan, risiko terburuk atas kejadian gelembung gas yang berasal dari sumur YYA-1 tersebut adalah terjadi semburan gas, bahkan skalanya bisa besar seperti yang terjadi di Teluk Meksiko.

Dampak dari kebocoran gas sumur YYA-1 milik Pertamina itu sudah berlangsung hingga kini. Tidak hanya dampak lingkungan dengan tercemar laut dan daratan oleh tumpahan minyak, tapi sudah melahirkan dampak sosial dan ekonomi rakyat di sekitar pantai Karawang. Setiap hari tv swasta nasional menayangkan berita nyata tentang tercemarnya laut dan pantai oleh tumpahan minyak dari kebocoran gas Sumut YYA-1 milik Petamina itu. Tumpahan minyak sudah menggenangi laut dan daratan Teluk Karawang. Tumpahan minyak itu tidak hanya membunuh ikan di laut tapi juga sudah masuk ke tambak-tambak milik warga serta berhentinya aktivitas wisata di pantai yang di kelola warga di Teluk Karawang. Kerugian ekonomi, sosial dan lingkungan hidup tengah mengancam serius Teluk Karawang.

Kita tidak ingin bencana dahsyat seperti di Teluk Meksiko maupun bencana Lapindo terulang kembali di Teluk Karawang, maka pihak Pertamina harus serius, profesional dan transparan mengatasi bencana di Teluk Kerawang ini. Memang upaya sangat serius dan profesional tengah dikerjakan oleh pihak Pertamina dengan menggandeng perusahaan asal Amerika Serikat, Boots & Coots. Perusahaan yang berhasil menangani ledakan rig lepas pantai Deepwater horizon Teluk Meksiko tahun 2010.

Namun sayangnya upaya yang sudah dilakukan Pertamina tersebut belum diikuti oleh upaya konkrit mengatasi pencemaran lingkungan hidup sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lungkungan Hidup (UU PPLH) Pasal 53. Pertamina tidak memberi informasi peringatan pencemaran serta tidak melakukan pengisolasian area pencemaran sebagaimana diamanatkan dalam pasal 53 ayat 2 hurup A dan B. Pertamina masih abai terhadap bunyi Pasal ini, akibatnya kita masih saja menyaksikan laut dan pantai Teluk Karawang tercemar oleh limbah minyak sepertinya saat ini. Kita hanya melihat warga masyarakat membersihkan pantai yang tercemar minyak dengan alat sekedarnya.

Pertamina musti bertanggung jawab tidak hanya memperbaiki kebocoran gas (blow out) di rig sumur YYA-1 miliknya itu tetapi juga mencegah dan mengatasi dampak pencemaran lingkungan hidup yang terjadi di laut dan pantai Teluk Karawang sesuai Undang-Undang yang berlaku.

Jakarta, 29 Juli 2019
Dedy Mawardi
Sekretaris Jenderal Seknas Jokowi

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top