Ketika Demokrasi Jadi Rapuh: Catatan Terbitnya Buku 'Dari Harari ke Jokowi'

publicanews - berita politik & hukum
Oleh: Bambang Sumarley

PERNAH demokrasi dipestakan saat dunia menyambut dengan penuh sukacita runtuhnya Uni Soviet. Waktu itu demokrasi dipercaya unggul dibanding tatanan lainnya. Perayaan antusiasme atas demokrasi terjadi di mana-mana.

Tapi pesta itu nyaris berhenti paska gagalnya The Arab Spring mengusung demokrasi. Selain itu, di berbagai tempat yang lain, malah muncul aneka penguasa yang bisa dikategorikan sebagai personal dictatorship.

Karenanya, belakangan demokrasi lalu dikesankan tak ubahnya tatanan rapuh. Sesuatu yang ringkih, mudah goyah. Celakanya, goyah hanya gara-gara perubahan tipe penguasa. Lebih celaka lagi, penguasa-penguasa itu justru dilahirkan oleh demokrasi itu sendiri.

Barangkali, kalau boleh diibaratkan, demokrasi adalah ibu yang hanya melahirkan Malin Kundang.

Pertanyaannya, akankah kisah sedih demokrasi terus berlanjut?

Untuk menjawab pertanyaan itu, menurut Rizal Mallarangeng –di buku terbarunya Dari Jokowi ke Harari. Kumpulan Esai tentang Politik, Ilmu dan Masa Depan (Kepustakaan Populer Gramedia, 2019)– masih akan ditentukan oleh berbagai hal.

Ada berbagai 'narasi besar' yang kemukakan Rizal, yang ke depannya dianggap akan menentukan nasib demokrasi. Misalnya saja, naik-turunnya globalisasi, gejolak perdagangan dunia, juga perkembangan teknologi.

Ada juga 'faktor regional'. Selain Uni Eropa dan Amerika Serikat, cerita demokrasi juga akan ditentukan oleh apa yang akan terjadi di '3 Besar Asia', yakni China, India, dan Indonesia. Kebetulan, hampir separuh dari penduduk dunia berada di 3 negara ini.

Namun, dari aneka tulisan Rizal di buku ini, ada satu lagi penentu demokrasi yang disorot lebih khusus oleh Rizal, yakni apa yang disebutnya dengan leaders matter. Ini semacam kualitas perilaku politik individu-individu penguasa ketika 'bermain' di tatanan demokrasi.

Seperti apa itu? Menarik, misalnya, ketika Rizal mengupas –atau tepatnya: membela– leaders matter-nya Joko Widodo (Jokowi).

Di situ (hal. 3-9), Rizal menolak pendapat yang menyatakan, Jokowi setelah sekian lama memerintah, akhirnya cuma menjadi politisi biasa-biasa saja. Bukan lagi pendobrak. Gebrakan-gebrakannya redup. Hanya kemampuannya bermanuver politik yang semakin canggih. Cuma seperti itu!

Menurut Rizal, bukan seperti itu.

Menurutnya, yang terjadi bukannya Jokowi hanya mengejar kuasa, tapi tumbuh dalam kekuasaan. Karenanya, Jokowi memang harus meninggalkan retorikanya di saat kampanye. Dan lewat kuasanya ia lalu memilih kebijakan yang perlu & bisa dilakukan.

Kalau Jokowi masih setia dengan retorika-retorikanya –yang dicitrakan sebagai pendobrak -- justru itu yang malah akan mengucilkan Jokowi dari pemerintahan yang dipimpinnya!

Selain Jokowi, menarik juga sorotan Rizal atas Emmanuel Marcon (hal. 26-34).

Marcon, menurutnya, adalah harapan baru Perancis. Bahkan Eropa. Di tengah kecenderungan yang terjadi Eropa, Marcon berani menawarkan gagasan yang berbeda. Meski kebijakannya terkesan 'comot sana-sini', tapi pada esensinya, kebijakan-kebijakan Marcon adalah pro-pasar.

Kebijakan, yang menurut Rizal, napas segar di tengah kepengapan. Sebab, ide itu di dalam negeri praktis tak diusung oleh lawan kampanye Le Pen dengan publiknya yang lumayan luas. Juga sesuatu yang belakangan cenderung sedang ditinggalkan oleh Eropa (Brexit).

Sama seperti saat menyoroti kebijakan Jokowi, keberhasilan kebijakan Marcon juga masih harus ditunggu. Tapi kalau berhasil, menurut Rizal, itu akan (semakin) membuktikan bahwa bukan lewat cara yang lain, tapi hanya lewat demokrasi-lah lahir perubahan-perubahan progresif.

Namun berbeda dengan saat membahas Jokowi, Marcon, Xi Jinping (hal.17-26), atau Hillary Clinton (hal. 47-54) -- Rizal nyata-nyata menunjukkan rasa cemas dengan kualitas leaders matter yang dipertontonkan di tempat lain.

Misalnya saja, di Pilkada DKI 2017 (hal. 161-167). Bagi Rizal, ini adalah pilkada yang 'terlanjur melepas dari kandangnya the dark sides kekuatan politik etno-religius'. Dan itu baru pertama kalinya terjadi di Jakarta sejak pilkada digelar lebih dari sepuluh tahun lalu.

Sisi gelap politik etno-religius yang tak dicegah, tapi justru dimanfaatkan. Maka ambruklah code of honor. Rizal menulis:

" ... Saya berharap Anies [Baswedan] ikut meredakan emosi massa yang meluap, bukan malah memanfaatkannya sebagai bagian dari taktik meraup suara. Kompetisi politik memang sering tajam, tapi harus ada semacam code of honor di lapisan kepemimpinan agar kompetisi tak menjadi dog eats dog fight" (hal. 164).

Bagi Rizal, sisi gelap politik etno-religius dan ambruknya code of honor akan menentukan nasib demokrasi. Secara retoris ia bertanya, mampukah demokrasi Indonesia bertahan jika publik mudah tersulut atas isu-isu keagamaan?

Selain itu, lanjutnya, “bukankah kaum pemimpin dalam demokrasi, orang-orang yang termasuk dalam kelompok top political class, seperti Anies Baswedan, Prabowo Subianto, Zulkifli Hasan, terikat oleh sebuah code of honor untuk meredam emosi massa, bukan malah memanfaatkannya?” (hal. 171-172).

Satu hal lain, selain soal leaders matter, yang disorot secara khusus oleh Rizal dan dianggap akan berpengaruh pada nasib dan kualitas demokrasi ke depannya adalah perkembangan ilmu pengetahuan & teknologi.

Maka bergairah-lah Rizal saat membahas Yuval Noah Harari, misalnya.

Harari menurutnya adalah sejarahwan unik. Sebab, saat semua cabang ilmu pengetahuan terspesialisasi, termasuk sejarah – Harari lewat buku-bukunya mengajak balik ke -- apa yang disebut Rizal -- Big History. Yakni “menjelaskan panorama sejarah lewat beberapa kecenderungan fondamental yang membentuk peradaban manusia” (hal. 57).

Rizal juga masih bergairah menceritakan lawatannya ke Universitas Stanford, yang ia sebut sebagai “pusat perubahan dunia” (hal.83-105). Atau juga kupasannya tentang pemikiran Steven Pinker (profesor psikologi Universitas Harvard) yang mencerahkan.

Tapi Rizal kembali cemas – persis saat ia membicarakan Pilkada DKI – ketika ia menulis tentang UGM almamaternya. Dunia pendidikan yang salah satu fakultasnya (pernah) mengusulkan agar penerimaaan mahasiswa baru ditambah syaratnya dengan kemampuan menghafal ayat kitab suci.

Masih banyak lagi tulisan menarik Rizal di buku ini.

Benar, buku ini 'hanya' bunga rampai aneka tulisan Rizal yang sudah pernah dimuat di media massa cetak dan media on-line.

Tapi kiranya buku ini juga bisa dianggap dokumentasi suara antusiasme atas keberlangsungan demokrasi. Selain itu yang juga mesti dicatat, antusiasme itu disertai dengan argumen dan disampaikan dengan sangat memikat.

Bambang Sumarley
Peneliti, Tinggal di Jakarta

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top