Seri Reflektif

Pilpres dan Politik Akar Rumput

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Foto: The Power of Grassroot Movement)
Oleh: M Ridha Saleh

TURUN ke bawah, menyentuh dan memperluas basis-basis di akar rumput menjadi tema dan target utama dalam politik elektoral. Tidak hanya partai politik, bahkan dua calon presiden meminta semua komponen pendukungnya untuk turun dan menyentuh langsung masyarakat akar rumput.

Pasalnya jumlah suara, mobilitas, serta sikap politik yang berada di akar rumput sangat menentukan kemenagan setiap kontestan.

Akar Rumput

Asal-usul penggunaan istilah 'akar rumput' sebagai metafora politik tidak begitu jelas. Namun di Amerika Serikat, penggunaan awal frasa 'akar rumput' dicatat sebagai istilah yang diucapkan oleh Senator Albert Jeremiah Beveridge dari Indiana. Ia menjelaskan tentang perjuangan politik Partai Progresif pada tahun 1912, karena Partai ini berasal dari kalangan bawah.

Barazil istilah ini dipopulerkan oleh Gerakan Pekerja Tanpa Tanah Brasil (MST) didirikan pada 1970-an dan telah tumbuh menjadi organisasi internasional. MST fokus pada pengorganisasian petani muda dan anak-anak mereka dalam memperjuangkan berbagai hak, terutama hak untuk mengakses tanah. Gerakan ini mencari para pemimpin organik dan menggunakan strategi aksi langsung seperti pendudukan tanah.

Sementara di Indonesia istilah akar rumput banyak ditemukan melalui dokumen-dokumen masyarakat sipil yang bekerja dan bergerak di sektor pengorganisasaian rakyat, perjuangan petani, gerakan lingkungan hidup dan pemberdayaan ekonomi rakyat.

Hal ini menggambarkan bahwa frasa akar rumput merupakan frasa yang terasosiasi dengan gerakan politik dari komunitas dan kelas sosial bawah, aktif dalam memperjuangkan hak dan keadilan dan melawan praktek pembangunan dan kekuatan elit politik yang tidak berlaku adil.

Dengan demikian, kalangan ini dianggap sebagai antitesis elit negara yang berkuasa dan merupakan kalangan yang berasal dari struktur bawah negara, yakni kalangan menengah ke bawah bahkan potensi dan sikapnya secara politik dapat dianggap otonom.

Oleh karena itu ciri politik dari gerakan akar rumput adalah gerakan yang menggunakan kekuatan dan menguatkan basis di wilayah teritori dan kelas sosial bawah, atau komunitas di sektor-sektor tertentu sebagai basis gerakan politik, sosial, budaya dan ekonomi.

Ciri lainya yaitu menggunakan aksi kolektif dari tingkat lokal untuk melakukan perubahan, menggunakan kekuatan pengorganisasian politik, mendorong anggota masyarakat untuk berkontribusi dengan mengambil tanggung jawab dan tindakan untuk komunitas mereka, memanfaatkan berbagai strategi dari bawah ke atas.

Itulah sebabnya partisipasi gerakan akar rumput selalu diimpikan dalam demokrasi, karena gerakan dan partisipasi politik akar rumput merupakan kontrol dari elitisme elit dalam politik kekuasaan.

Politik Elektoral

Untuk memahami pengorganisasian akar rumput dalam politik elektoral, penting untuk mendefinisikan dan membedakannya dari kapasitas advokasi lainnya. Sebab karakteristik dan ekspektasi akar rumput dalam politik elektoral cenderung beragam.

Proses membangun kekuatan dengan melibatkan konstituen dalam mengidentifikasi dan mencari solusi untuk target tertentu dalam elektoral menjadi sangat penting, sebab salah satu karakteristik dari gerakan politik akar rumput ialah, lebih eksistensial dengan bottom-up, daripada pengambilan keputusan dari atas ke bawah.

Gerakan politik akar rumput juga, menggunakan self-organizing, mendorong komunitasnya untuk berkontribusi dengan mengambil tanggung jawab dan tindakan untuk komunitas mereka.

Merebut suara akan rumput juga tidak semata-mata hanya untuk meraup suara, namun hal yang paling penting bagi rakyat akar rumput adalah terhadap pemilu dan demokrasi yaitu impian besar merubah pemilu yang elitis menjadi pemilu partisipatif dan inklusif.

Oleh karena itu secara elektoral, ekspektasi akar rumput terhadap politik elektoran berbeda dengan perjuangan politik mereka yang bersifat idiologis, namun pada komunitas akar rumput tertentu, politik elektoral dijadikan sebagai posisi tawar untuk perjungan agenda politik mereka.

Aktivisme akar rumput adalah tentang memobilisasi sekelompok orang, yang bersemangat tentang penyebab dan memanfaatkan kekuatan keyakinan mereka untuk mendorong hasil yang berbeda.

Gerakan semacam ini bergantung pada individu yang bersedia mendorong perubahan yang mereka khawatirkan dari dasar. Seringkali, penyebabnya adalah sesuatu yang sangat mendasar dan terjadi di komunitas aktivitas produksi mereka.

Pendidikan adalah tulang punggung dari setiap kampanye akar rumput karena, orang tidak dapat berpartisipasi dalam sesuatu yang mereka tidak mengerti. Oleh karena itu penting untuk meningkatkan kesadaran akan suatu masalah dan untuk mengkomunikasikan secara efektif mengapa hal itu menjadi perhatian.

Organisasi dan kelompok yang menggunakan strategi mobilisasi dan glorivikasi umumnya menggunakan taktik jangka pendek yang dirancang untuk mempengaruhi opini atau kampanye untuk saat tertentu.

Tidak seperti gerakan akar rumput sejati, strategi mobilisasi dan glorivikasi umumnya tidak mewakili keterlibatan otentik aktivis yang mengorganisir atas nama mereka sendiri, dan taktik ini tidak membangun basis dukungan yang dapat dilibatkan dalamk perubahan politik jangka panjang.

Paling tidak ada tiga karakteristik dan prilaku politik akar rumput dalam menyikapi dan berpartisipasi dalam politik alektoral, pertma: sikap pragmatis, sikap rasional dan sikap idilogis.

Pragmatisme politik dikalangan akan rumput disebabkan oleh pengaruh liberalisasi dan industrialisasi pemilu, dimana suara akar rumput oleh kontestan peserta pemilu hanya dijadikan sebagai komoditas kemenangan semata dengan menggunakan praktik transaksional.

Sikap politik rasional lebih banyak dilatarbelakangi kesadaran sektoral mereka, dimana elektoral dijadikan sebagai media politik untuk menitip dan memperjuangkan kepentingan sektoralnya, karena politik elektoral bagi mereka hanyalah jalan perjuangan jangka pendek.

Sementara sikap politik idiologis, umumnya berada pada organisasi akar rumput yang sejati, komunitas mereka menyikapi politik elektoral dengan perangkat yang kritis, bahkan dalam menjatuhkan sikap politik pun mengunakan agenda-agenda politik yang jelas.

M Ridha Saleh
Direktur Rumah Mediasi Indonesia

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top