Oscar Bohemian Rhapsody, Peneguhan Invasi Budaya Inggris?

publicanews - berita politik & hukumPostel film Bohemian Rhapsody. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bambang Sumarley

SANGAT jarang film biografi musik berhasil menyabet Oscar. Dan itu pun terjadi sudah lama. Terakhir sekitar 15 tahun lampau, lewat Ray dan Walk The Line.

Ray, film rilisan 2004 tentang Ray Charles, beroleh 3 penghargaan Oscar. Selain untuk aktor utamanya (Jamie Foxx), film ini juga beroleh Oscar untuk editing dan sound mixing. Sementara Walk the Line, film diproduksi 2005 yang mengangkat kehidupan Johny Cash, meski beroleh 5 nominasi, 1 Oscar saja yang berhasil digondol.

Lalu kemarin, 25 Februari 2019, setelah bertahun-tahun absen, lewat Academy Award yang berlangsung di Dolby Theatre, Los Angeles, California, Amerika --daftar film biografi musik peraih Oscar bertambah, lewat Bohemian Rhapsody.

Film ini beroleh 4 Oscar, 1 Oscar lebih banyak ketimbang Ray. Tapi persis Ray, aktor utama Bohemian Rhapsody (Rami Malek) juga beroleh Best Actor. Lainnya, film ini terbaik di sound mixing, sound editing & film editing. Hebatnya lagi, dengan 4 Oscar itu, Bohemian Rhapsody menjadi film peraih Oscar terbanyak di Oscar Award kali ini.

Adakah kesuksesan film ini merebut Oscar menjadi pengukuhan invasi budaya Inggris atas Amerika?

Benar, film ini bikinan Amerika. Malah bisa dibilang 'Holywood banget'. Tapi adalah benar pula, bahwa film ini bercerita tentang band Inggris, yakni Queen plus Freddie Mercury-nya. Malah film ini tak sekadar bercerita tentang Queen, tapi lebih tepatnya: merayakannya.

Lalu perayaan atas band Inggris itu beroleh sekian Oscar. Ini bisa dipakai sebagai indikasi invasi budaya Inggris ke Amerika (untuk kesekian kalinya) dikukuhkan?

Konon serbuan budaya Inggris sudah terjadi sejak ahkir 50-an/awal 60-an, yang dikenal sebagai British Invasion. Ini adalah fenomena budaya ketika rock & pop yang berkembang di Inggris, juga berbagai aspek budaya Inggris lainnya, melanda dan menjadi tren di Amerika.

Waktu itu, band-band Inggris utamanya Beatles, selain The Who, Rolling Stones, The Animals dll, bisa dikatakan, menyerbu Amerika dan menjajah selera. Sampai-sampai Ratu Inggris menggaggap The Beatles sebagai duta budaya, dan menganugerahkan 'medali' MBE (Member of the Most Excellent Order of the British Empire) pada John Lennon dkk.

Memang paska Elvis Presley, Amerika juga punya Bob Dylan, Chuck Berry, Velvet Underground, The Doors, Grand Funk Railroids, CCR dll –yang bisa dimaknai sebagai 'penahan' invasi band-band Inggris.

Malah yang luar biasa terjadi di tahun 1991.

Di tahun itu, gempuran Inggris bisa dibilang beroleh lawan tanding yang seimbang. Gara-garanya, munculnya 3 band Amerika 'menguak takdir' lewat masing-masing albumnya yang menghentak (kuping) dunia.

Yakni, Nirvana dengan album Nevermind, Perl Jam dengan Ten, dan Red Hot Chili Peppers dengan Blood Sugar Sex Magix.

Lewat 3 album yang sama-sama dirilis pada 1991 itu, 'suara' Amerika mendadak jadi berjaya. Band-band Inggris kalah pamor. Kiranya, kalau boleh diibaratkan, tak ada tempat di bumi ini yang bisa menghindar dari kedahsyatan ke-3 band dengan album-albumnya itu.

Belakangan, suara Amerika juga muncul, selain lewat rap dan hiphop, juga lewat artis/band metal dan progresif metal yang menggelegar.

Namun demikian, sekali pun ditangkal oleh artis/band-band lokal, toh serbuan budaya Inggris yang sudah terjadi sejak The Beatles, terus dan tetap berlangsung. Malah konon serbuan Inggris itu terbagi atas beberapa gelombang.

Gelombang pertama The Beatles dkk. Gelompang kedua adalah serbuan aneka band Punk Inggris (The Sex Pistols, The Clash dll). Gelombang berikutnya adalah serbuan artis/band semacam The Smiths, Oasis, Blur, Radiohead dll.

Lalu kini, ketika ada sekian Oscar & tepuk tangan membahana di Academy Award atas Bohemian Rhapsody, film yang nyata-nyata merayakan band Inggris (Queen dan Freddie-nya), apakah ini hanya berarti takdir British Invasion atas Amerika makin diteguhkan?

Is this the real life? Is this just fantasy...?

Bambang Sumarley
Pemerhati musik, tinggal di Jakarta

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top