Seri Reflektif

Diskursus Ekologis

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Foto: Ecologiapolitical)
Oleh: M Ridha Saleh

SUMBER daya alam adalah segala sesuatu yang berasal dari alam yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, tergolong di dalamnya tidak hanya komponen biotik, seperti hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme, tetapi juga komponen abiotik, seperti minyak bumi, gas alam, berbagai jenis logam, air, dan tanah. Inovasi teknologi, kemajuan peradaban dan populasi manusia, serta revolusi industri telah membawa manusia pada era eksploitasi sumber daya alam sehingga persediaannya terus berkurang secara signifikan, terutama pada satu abad belakangan ini.

Frase 'Ekologi politik' menggabungkan antara keprihatinan ekologi dan analisis ekonomi politik secara luas, secara bersamaan meliputi perkembanganya secara diealektik yang terus berubah antara dominasi manusia terhadap sumberdaya alam, dan juga dalam kelas dan kelompok masyarakat itu sendiri.

Dengan kata lain, ekologi politik adalah studi tentang struktur, organ, sistem dan relasi kekuasaan, lingkungan hidup dan sumberdaya alam. Konsisten dengan pendekatan ekologi politik, bahwa kerusakan dan/atau kejahatan lingkungan hidup (ecocide) belum tentu disebabkan oleh niat aktor tertentu, akan tetapi dapat disebabkan oleh efek dari struktur dan sistem kekuasaan yang mendasari industri ekstraktif termasuk didalamnya industri agrobisnis.

Ecocide harus dipahami sebagaimana fungsi dan struktur modal bekerja, dengan menggunakan kekuasaan negara secara kejam untuk menumpuk dan merusak siklus alam serta mengubahnya menjadi sebuah proses deplesi terhadap sumberdaya alam yang terakibat secara linear, melebihi kendala dan batas-batas alam dan menyebabkan apa yang Marx gambarkan sebagai 'celah metabolisme' antara modal dan alam

Metabolisme manusia dan alam seharusnya terjadi secara wajar, dimana kemampuan alam mengasupi kehidupan manusia secara alamiah mempunyai batas natural, konsep celah metabolisme antara modal dan alam, memandang alam sebagai komuditas modal yang dapat diakumulasi secara berlebihan.

Politik etik sumberdaya alam, telah menempatkan manusia dan sumberdaya alam sebagi subyek, sepertinya setara, bahkan saling menghargai, namun struktur modal bekerja tadak ada yang disebut sebagai subyek, sumberdaya alam tetap sebagai obyek dari modal bekerja dengan prinsip dasar akumulasi.

Bukti sederhana yang kita bisa saksikan sekarang yaitu peristiwa alam seperti bencana yang melanda di sejumlah daerah, banyaknya korban jiwa tidak hanya disebabkan oleh kelalaian namun hal yang juga sangat penting adalah karena telah terjadi penurunah eksistensi dan esensi alam secara natural yang menyebabkan interaksi alam tidak lagi seimbang.

Keretakan celah metabolisme antara modal dan alam, digambarkan misalnya, tanah yang membutuhkan nutrisi seperti fosfor, nitrogen dan kalium untuk memfasilitasi pertumbuhan tanaman, tetapi karena prioritas akumulasi modal, terjadi over ekploitasi terhadap tanah yang menyebabkan krisis terhadap pertanian Krisis ini dicontohkan kecenderungan kapitalisme melanggar batas alam dan ritme alami dan terjadi pelanggaran yang mendasar terhadap kondisi alam yang dikernakan ekploitasi alam.

Demikian pula yang terjadi pada industri ekstraktif dimana sekitar 29% lahan bumi telah mengalami penyimpangan alamiah, 6% lainnya dikategorikan mengalami penggurunan yang parah. Hutan tropis yang mencakup 6% luas permukaan kini 7,6 sampai 10 juta hektar pertahunnya menjadi musnah.

Gong Xi Fa Cai

M Ridha Saleh
Direktur Rumah Mediasi Indonesia

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top