Bahaya Politik Dengki

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi
Oleh: M Ridha Saleh

SALAH satu sifat tercela dan sangat berbahaya menurut Agama adalah dengki (hasad). Penyakit dengki tidak hanya buruk bagi pelakunya, tetapi juga berbahaya bagi orang lain. Sifat ini jelas-jelas merupakan kondisi psikologis negatif yang dimiliki sekelompok yang bisa merusak relasi sosial.

Menurut kamus Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko (2006) persamaan arti dengki adalah bingit, cemburu, hasad, iri hati, keki, khisit, resan, sirik, timburu, benci. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat (2014) menjelaskan arti kata dengki, yaitu menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada prestasi orang lain.

Skenario politik yang terjadi hari ini dalam kalangan komunitas politik bahkan semakin meresahkan, posisi oposisi sudah bergeres ke politik dengki, membuat persatuan semakin terbelah, tardisi substatif menjadi pragmatis. Fitnah menjadi pendekatan popular sedangkan hoaks dijadikan sebagai mesin dan industri politik.

Dalam Jangka panjangnya, politik dengki bakal merugikan persatuan umat dan akan menyebabkan tumbuhnya politik delegitimasi tanpa syarat politik

Jiwa politik dengki itu selalu menderita dan resah karena tidak pernah merasa ada manfaat ketika penguasa berprestasi dan bekerja nyata. Oleh karena itu politisi dengki juga sering kali gagal dan tidak mau memberikan apresiasi dan berterima kasih karena kerja nyata yang dilakukan pihak lain itu, menurutnya, tidak ada yang benar. Kelompok pendengki cenderung egois karena merasa kelompoknya yang paling pantas dan benar berbuat.

Politik dengki menghasilkan pengikut yang skeptis dan sempit pemikiran dengan melihat kelompok sendiri saja yang betul dan kelompok lain semuanya zalim.bahkan tidak sportif dan obyektif.

M Ridha Saleh
Direktur Rumah Mediasi Indonesia

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. shes one the @siswandi07 Januari 2019 | 18:08:06

    Saya setuju dg pendapat penulis, karena kl ngomong soal politik, ujung2x nya fitnah yg disebarkan, karena akal sehat tdk digunakan.

    Lama2x masyarakat juga akan mendapatkan pencerahan dan pintar menganilasa, mana yg benar dan salah.

    Akhirnya yg menang adalah bisa membuktikan kerja nyatanya.

Back to Top