Gus Dur Teladan yang Mengalir dalam Relung Hati

publicanews - berita politik & hukumAbdurrahman Wahid atau Gus Dur. (Foto: Istimewa)
Oleh: Abidin Fikri

SEMBILAN tahun sudah K. H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kembali kepangkuan Allah SWT. Anugerah terindah bagi bangsa Indonesia telah berada di alam kesejatian, di alam damai nan mulia seperti selayaknya Gus Dur selalu merahmati jagad alam semesta. Gus Dur adalah hadiah yang istimewa dan bermanfaat bagi keutuhan Keindonesiaan kita.

Gus Dur merupakan pribadi yang ajaib, terlalu besar jasa yang bisa ditorehkan untuk ukuran satu manusia. Pemimpin negara yang merangkul semua komponen keindonesiaan, ia tetapkan Konghucu sebagai agama resmi, ia hapus diskriminasi warisan Orde Baru tentang pembatasan agama kepercayaan dan istiadat Tionghoa. Gus Dur hadir untuk melawan ketidakadilan. Baginya Indonesia adalah rumah yang nyaman untuk melindungi seluruh tumpah darah Indonesia. Pasca transisi kekuasaan di era reformasi, Gus Dur lah orang yang berani menabrak arus diskriminasi. Ialah sang pengobat luka yang bertenaga bagi kemanusiaan.

Gus Dur sosok kontroversial dan legendaris, tokoh yang mewariskan apa itu esensi kemerdekaan tanpa memandang garis politik, suku, golongan, agama dan ras. Yang ia pegang hanya keyakinan bahwa kemerdekaan adalah hak bagi semua manusia ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa. Pemikiran Gus Dur yang mencintai keberagaman, kerukunan dan pendamba kedamaian sungguh kian dirindukan di tengah era darurat narasi kebencian saat ini.

Dari Gus Dur kita belajar menghargai kebhinekaan. Karena perbedaan sejatinya adalah ciptaan Allah SWT yang mesti disyukuri dan dirawat di bumi Indonesia. Gus Dur mengajar kita memahami, bahwa eksistensi Indonesia sebagai suatu negara dan bangsa tak ternilai harganya. Sikap legowo, tidak mendendam dan pemaaf adalah sikap Gus Dur dalam menghindari perpecahan dan mengatasi ketegangan politik sesama anak bangsa. Karena Gus Dur begitu mencintai Kemanusiaan, perdamaian dan kerukunan.

Gus Dur menyimpan keindahan hidup di berbagai sisinya – bagian indah itu bernama moral kesederhanaan. Ia tidak pernah merasa paling terhormat, paling mulia dibanding siapapun. Gus Dur dicintai sebagai sosok yang tanpa pamrih untuk mengabdikan pada kebaikan. Ia memberikan kebaikan untuk kebaikan itu sendiri bukan untuk dirinya. Itulah Moral Gus Dur. Kesetimbangan Al-ukhuwah al-islamiyyah (persaudaraan Islam) dan al-ukhuwah insaniyah (persaudaraan manusia) mendarah daging dalam sikap. Laku hidup demikian itu jadi langka di era kekinian.

Sebagai Pemimpin organisasi Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU) ia tak risih jika harus tidur beralas tikar di lantai dalam perjalanannya wara-wiri membesarkan NU, membesarkan pondok pesantren, mengajar santri sekaligus sebagai pejuang demokrasi. Bahkan ketika ia kesulitan keuangan saat harus mendaftarkan salah satu anaknya masuk SMA - ia tunjukkan kelas intelektualnya menjadi penulis pengantar sebuah buku - Agar ongkos dari penerbit buku dapat menjadi bekal anaknya bisa sekolah. Cara hidup demikian mengingatkan kita pada gubahan puisi dari Mesir, pengarang Kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah As-Sakandari yang sering dikutip Gus Dur dalam banyak kesempatan: Idfin wujudaka fil ardhil khumuli, fama nabata mimmaa lam yudfan laa yutimmu nitaa juhu yang artinya “Tanamlah wujudmu/kebaikan mu di tanah kerendahan/ ketersembunyian, karena sesuatu yang tumbuh dari benih yang tak ditanam, buahnya tidak sempurna. Tanamlah kebaikan sedalam-dalamnya”.

Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang humoris dengan gayanya yang santai dan jenaka, Humornya sangat mengena dan tetap blak-blakan. Rasa humor yang cerdas ia gunakan sebagai alat diplomasi membangun perdamaian, melontarkan kritik sosial hingga jadi alat penerang kesadaran rakyat.

Cara beliau dalam menanggapi suatu masalah dengan kepala dingin patutlah dipuji. Menurut prolog yang ditulis Greg Barton dalam Autobiografi Gus Dur, diceritakan pada saat pembacaan pidato di sidang MPR pada Agustus tahun 2000, di mana Gus Dur disebutkan sebagai “penguasa tiran yang jahat”, Gus Dur pun mencoba menanggapi dengan santai dan cenderung menerima segala kritikan, bahkan dengan rendah hati ia mengakui segala kekurangannya.

Saat meninggalkan istana pada Juli 2001, Gus Dur dengan tenang mengendalikan diri, ia tak biarkan kesatuan bangsa rusak karena urusan kekuasaan, baginya politik tak boleh jadi alat pemecah belah bangsa. Pelajaran yang diberikan oleh Gus Dur adalah tidak ada satu perpecahanpun yang sebanding dengan suatu jabatan. Gus Dur tidak menyerah tapi dia telah menang dengan cara lain. Dia hanya meninggalkan Istana, namun berhasil masuk ke dalam setiap hati masyarakat karena sikapnya yang ksatria dan legowo.

Semua nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur kini membuka mata, pikiran dan hati kita bahwa urusan perbedaan bukanlah hal yang mesti direpotkan. Gus Dur seumpama Qurban bagi pencerahan Bangsa Indonesia agar tidak makin rusak karena ancaman perpecahan. Karena Gus Dur, Sabang sampai Merauke tetap utuh, NKRI tetap ada seperti semangat Proklamasi 17 Agustus 1945. Sikap, laku dan prinsip hidup beliau patut jadi pelita bagi generasi pelurus bangsa. Bagai sungai yang mengalir, Ia jadi teladan yang tak pernah kering mengalir dalam relung hati kita semua. Gus Dur telah memenangkan pertandingannya secara gagah berani. Kini Gus Dur mungkin telah mendoakan Indonesia dari alam kedamaian di sisi Allah SWT. Al Fatihah.

Yogyakarta, 18 Desember 2018
H. Abidin Fikri, S.H., M.H
Pimpinan Fraksi PDI Perjuangan MPR

#haulgusdur9

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Idna Maulidia @maulidiaidna21 Desember 2018 | 23:11:43

    semoga beliau sudah tenang disisi Allah SWT.. aamiin

Back to Top