Perahu Retak, Penumpang Resah

publicanews - berita politik & hukumKetua Umum DPN Seknas Jokowi, Muhammad Yamin
Oleh: Muhammad Yamin

AMSAL seperti judul tulisan di atas, tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi di kelompok Capres/Cawapres 02 Prabowo-Sandiaga Uno.

Kita sudah tahu kalau capres/cawapres 02 sudah tidak akur lagi. Di acara 212, misalnya, Sandi tidam kelihatan batang hidungnya. Ini karena Prabowo sudah lama kesal dan marah, sebab Sandi tidak mengucurkan dana sesuai yang dijanjikan saat ia minta untuk dijadikan cawapres. Soal sulit dana kampanye ini kelihatan dari tim sukses Prabowo-Sandi yang tidak banyak menggelar kegiatan. Bahkan seakan absen berbulan-bulan tanpa ada kegiatan. Berbeda banget dengan pilpres 2014, dimana kegiatan kampanye mereka seperti tak ada hentinya.

PKS, sebagai partai pendukung setia, juga kabarnya ngambek. Janji-janji dana kampanye sampai sekarang masih belum turun. Selain itu, "jatah" kursi wagub DKI Jakarta yang seharusnya milik PKS, malah diambil Genndra untuk M. Taufik. Kabarnya lagi, keputusan sudah final!

Partai Demokrat juga merasa galau, karena AHY sebenarnya minta kampanye bareng dengan Sandi justru ditolak. Sandi tidak mau karena takut kalah bersaing dengan AHY. Padahal, maksud AHY kampanye keliling bareng cawapres 02 itu dalam rangka persiapan pilpres 2024.

Sampai sekarang banyak kader dan caleg Partai Demokrat beralih mendukung Jokowi-Maruf Amin. Sebenarnya ini operasi senyap Partai Demokrat sendiri lagi mengkalkulasi kemungkinan memindahkan dukungan ke capres 01, dengan imbalan satu kursi menteri untuk AHY. Kader kader elit Partai Demokrat setiap hari lagi mencari celah merapat ke tim elit capres/cawapres 01.

Lantas bagaimana dengan PAN? Sebagai partai, PAN yang kadernya mengandalkan rasionalitas dalam bermain politik, sudah lama main dua kaki. Para kader PAN sadar betul, tidak ada keuntungan sama sekali ikut barisan 02. Dari segi logistik nol. Dari segi popularitas, hampir di semua dapil kalau caleg memasang gambar bersama Capres/cawapres 02 malah merosot dukungan masyarakat. Dengan santai Eddy Suparno, Sekjen PAN, pernah mengatakan bagi PAN yang penting pileg bukan pilpres.

Bagaimana dengan internal Gerindra? Apakah masih solid? Saya dengar dari kalangan dalam, soliditas di tubuh partai inipun sejatinya sudah rapuh. Tapi soal ini kita bahas dalam tulisan selanjutnya.

Muhammad Yamin
Ketua Umum DPN Seknas Jokowi

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. Arif K Wibisono @arifkwibisono07 Desember 2018 | 10:43:42

    Analisa yg gamblang. Menerjemahkan tebak2an dan desas desus yg selama ini beredar. Politik transaksional emang gampang kisruh. Apalagi niatnya cuma ingin berkuasa.

  2. Iis_osya @iis_osya06 Desember 2018 | 10:35:25

    Sudah jelas, siapa yg profesional dan siapa yg cuma mengejar hawa nafsu.

    Masyarakat awam jg bisa menilainya.

Back to Top