Silakan Menjual Soeharto, Tapi Jangan Bangunkan Macan Tidur

publicanews - berita politik & hukumHutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto dalam acara 'Mata Najwa di Trans 7. (Foto: Youtube/@NajwaShihab)
Oleh: Karyono Wibowo

PERNYATAAN Wasekjen PDI Perjuangan Ahmad Basarah yang menyebut Soeharto sebagai guru korupsi merupakan respon dari ucapan Prabowo Subianto yang menyebut korupsi di Indonesia sudah seperti kanker stadium empat.

Pernyataan yang menyebut korupsi di Indonesia seperti kanker stadium empat terlalu hiperbola, bombastis, tidak disertai fakta yang akurat dan terukur. Makna kanker stadium empat itu jika diibaratkan penyakit, sangat kecil kemungkinan bisa disembuhkan, Berarti sama saja Prabowo ingin mengatakan korupsi di Indonesia sangat parah nyaris tidak tidak bisa diberantas.

Tujuan dari pernyataan Prabowo mudah ditebak, yakni untuk mendelegitimasi pemerintahan Jokowi sekaligus membangun image negatif. Pernyataan Prabowo itu sama saja tidak menghargai kerja keras KPK yang gigih memberantas korupsi.

Mengetahui pernyataan Prabowo yang menyerang Jokowi seperti itu, maka Ahmad Basarah sebagai juru bicara Tim Koalisi Nasional pasangan Jokowi – Kyai Ma’ruf Amin sudah semestinya menanggapi pernyataan Prabowo dengan cara membangun argumen yang membalikkan logika Prabowo dengan menyebut bahwa guru korupsi Indonesia itu adalah Soeharto mertuanya Prabowo. Dalam perspektif psikologi politik, antara pernyataan Prabowo dan Basarah sama sama mengekspresikan perasaan dan pikiran yang didorong oleh naluri sebagai politisi.

Dalam konteks ini, posisi Prabowo bisa dikatakan sebagai pihak pertama yang melempar isu, sedangkan Basarah berada pada posisi menahan serangan isu, lalu mencoba membalikkan serangan. Akibat umpan balik akhirnya menimbulkan efek serangan dari berbagai penjuru; mulai dari pihak keluarga Soeharto, elit partai pendukung Prabowo-Sandiaga.

Terkait ancaman Partai Berkarya melalui sayap partai yang mengancam akan melaporkan Ahmad Basarah ke pihak berwajib, saya tidak yakin hal tersebut akan dilakukan oleh anak buah Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto). Yang terjadi, justru pernyataan Wasekjen PDI Perjuangan Ahmad Basarah yang menyebut Soeharto sebagai guru korupsi justru dimanfaatkan Partai Berkarya untuk mendompleng popularitas.

Dalam konteks strategi politik, Partai Berkarya memang perlu memanfaatkan masalah ini untuk menaikkan popularitas dengan cara memelihara polemik ini dengan memainkan psikologi politik agar isu ini direspon dan menggelinding terus. Karenanya, belum tentu upaya membawa kasus ini ke ranah hukum dilakukan secara serius, meskipun Tomy Soeharto sudah angkat bicara.

Bahwa pada prinsipnya sah-sah saja menjual nama Soeharto untuk meraup dukungan publik dalam kontestasi pemilu 2019.

Kalau mau menjual Soeharto sebagai strategi marketing politik silahkan saja, tetapi jangan sampai membangkitkan macan tidur. Karena sebagian besar masyarakat masih mengingat rekam jejak rezim Soeharto. Kekuatan silent majority ini sewaktu-waktu bisa terbangun kesadaran kolektif untuk melawan kebangkitan orde baru.

Karyono Wibowo
Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top