Membumikan Pancasila Bersama Hima PKnH Universitas Negeri Yogyakarta

publicanews - berita politik & hukumSuasana seminar membumikan Pancasila di Universitas Negeri Yogyakarta, Kamis (22/11). (Foto: Sabit Irfani)
Oleh: Sabit Irfani

HIMPUNAN Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum (Hima PKnH) Universitas Negeri Yogyakarta melalui Seminar Nasional, Kamis 22 November 2018, berupaya membumikan Pancasila. Hal tersebut dilatarbelakangi adanya berbagai isu yang menjadi asumsi publik akhir-akhir ini. Banyaknya paham kebangsaan yang masuk menjadikan paham kebangsaan Indonesia akhir-akhir ini dianggap meredup.

Seminar yang mengusung tema 'Membumikan Pancasila Sebagai Upaya Merawat Kebhinekaan & Menjaga Jati Diri Bangsa di Tengah Redupnya Paham Kebangsaan' ini menampilkan pembicara yang ahli dalam bidangnya. Mereka adalah Prof Dr Kaelan (Guru Besar Filsafat Universitas Gadjah Mada), Halili MA (Direktur Riset Setara Institute), Maskur Hasan (Koordinator Jogja-Jateng The Asian Muslim Action Network Indonesia), dan Dilla Fadiella (Putri Indonesia Perdamaian 2018)

Dalam narasinya Maskur Hasan mengutarakan persoalan-persoalan yang berkembang terkait Pancasila. Indikator dari masalah yang berkembang yaitu intoleransi berbasis agama masih sangat tinggi, radikalisme dan ekstrimisme menggerogoti semua lini, meningkatnya korupsi, lemahnya penegakan hukum, penyakit hoaks semakin akut, dan minimnya peran permpuan dalam pembangunan.

Dilla Fadiella mengajak generasi millenial untuk menjaga Pancasila dengan mempraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Dilla juga menceritakan pengalamannya sebagai Putri Perdamaian Indonesia 2018 tentang bagaimana bertoleransi terhadap teman-temannya yang berbeda suku, agama, ras, dan antargolongan.

Halili menunjukan data hasil temuan lembaganya terkait bebagai permasalahan diskriminatif dan intoleransi yang ada di Indonesia. Halili juga mengajak untuk merefleksikan permasalahan-permasalahan dengan meningkatkan imunitas dan ketahanan masyarakat (social resellience and immunity) melalui peningkatan literasi politik dan penguatan kapasitas masyarakat.

Prof Kaelan yang menjadi pembicara pamungkas membedah heterogenitas kehidupan berbangsa berdasarkan Pancasila. Hal yang tidak dimiliki oleh ideologi lain negara di dunia ini berupa etika kebangsaan yang lahir dari nilai-nilai adat istiadat, kebudayaan, dan agama sebagai pembentuk bangsa yang kemudian menjadi philosofische grondslag. Negara-Kebangsaan berdasar Pancasila yang merupakan sintesis persatuan dan kesatuan yang dituangkan dalam suatu asas kerokhanian yang merupakan suatu kepribadian jiwa bersama, yaitu Pancasila. Oleh karena itu prinsip-prinsip nasionalisme Indonesia berdasarkan Pancasila adalah bersifat majemuk tunggal.

Melalui seminar yang dihadiri oleh berbagai elemen, mulai dari mahasiswa, dosen, jurnalis, tersebut sepakat untuk bersama-sama membumikan Pancasila di tengah redupnya jati diri bangsa saat ini.

Dari Yogyakarta untuk Indonesia, Salam Pancasila.

Sabit Irfani
Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum
Universitas Negeri Yogyakarta

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top