Menyamakan Soeharto dengan Jokowi Itu Halusinasi

publicanews - berita politik & hukumSoeharto. (Foto: Istimewa)
Oleh: Suprianto Antok

PERNYATAAN Andi Arief yg menyamakan Jokowi dg Soeharto karena memobilisasi dukungan kepala daerah dg ancaman hukum itu tidak relevan. Andi arief sepertinya berhalusinasi, faktanya ketum n sekjend parpol pendukung jokowi saja bisa diciduk KPK belum lagi kepala daerah dari kader partai pendukung yg salah ya dihukum, yg korupsi ya ditangkap, artinya tidak ada n tidak bisa kekuasaan eksekutif mengintervensi yudikatif.

Coba bandingkan dg masa rezim Soeharto apa ada kepala daerah atau elit parpol pendukungnya diproses hukum? Saya rasa Andi Arief yg pernah sama2 aktif di gerakan mahasiswa melawan Orde Baru tidak lupa bagaimana Soeharto melindungi pendukung n kroninya meskipun jelas2 bersalah.

Kita sebagai pendukung Jokowi bukan alergi kritik ya, perlu ada sikap kritis untuk tegaknya demokrasi, tapi sikap kritis yg berdasarkan fakta. Dulu jaman Soeharto mahasiswa demo kedung ombo karena faktanya ada korupsi pembebasan tanah yg merugikan rakyat, tapi kalo sekarang lihat jaman Jokowi saya baru pulang dari Lampung orang suka tanahnya kena jalan tol karena diganti untung bukan ganti rugi, bahkan tiap batang tanaman di atas tanahnya juga dibayar pemerintah, trus kalo kita gak demo jokowi dikatakan gak kritis? Saya rasa itu tidak relevan. Itu seperti halusinasi.

Demikian pernyatan ini saya sampaikan.

Suprianto Antok
Eksponen Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi 1998
Koordinator Komite Pemuda dan Olah Raga DPP PDI Perjuangan

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top