HTI Membakar Benderanya Sendiri

publicanews - berita politik & hukumBendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)
Oleh: Mixil Mina Munir

HTI bukan politisi kemarin sore, mereka sudah malang melintang di pelosok Indonesia. Satu-persatu masjid dikuasai, kantor-kantor pemerintah mulai direbut, mereka mengajarkan Khilafah, mengkafirkan Pancasila.

HTI bukan Politisi Karbitan, mereka aktif di kampus-kampus, menguasai masjid-masjid kampus, mendoktrin mahasiswa dengan khilafah Islamiyah, merangkul mahasiswa baru untuk masuk dalam organisasi underbouw mereka, Gerakan Mahasiswa Pembebasan.

HTI bukan gerakan sporadis. Mereka mendoktrin Jama’ahnya lewat pengajian-pengajian kecil yang tertutup, juga melalui bulletin Jum’at KAFFAH. Sebelum HTI dibubarkan, Buletinnya bernama AL-ISLAM. Isinya tidak berubah, 50 % ajakan mengganti Pancasila, 30% kebencian terhadap pemerintah, 20 % sisanya Khilafah Islamiyah.

Tidak ada yang berubah pasca dibubarkannya HTI. Kaderisasi masih berjalan, perekrutan anggota masih massif, gerakan masih eksis, media propaganda masih terbit, hubungan dengan Hizbut Tahrir Internasional juga normal-normal saja. Ini yang harus tetap kita waspadai.

Dengan masih eksisnya HTI maka peristiwa pembakaran bendera HTI di Garut bukan tanpa desain, bukan tanpa skenario, dan bukan terjadi tiba-tiba. Pembakaran bendera HTI oleh Banser sebenarnya justru skenario HTI sendiri, umpannya dimakan oleh keluguan Banser. HTI tidak tampak sedih, mereka menikmati Irama permainannya karena dengan itu sel-sel tidurnya tetap aktif dan jaringan internasionalnya tetap support dana.

Mereka tahu cara mengelola emosi massa yang anti terhadap khilafah. JIka ada yang membakar benderanya, mereka langsung menuduh bahwa pelakunya anti Islam, bendera kalimat tauhid telah dinistakan, playing victim dimainkan, media social akan gaduh dan segera saja HTI cuci tangan.

Lihat saja, Ismail Yusanto, sang jubir HTI langsung cuci tangan, dia mengatakan bahwa yang dibakar Banser bukan bendera HTI, HTI tidak punya bendera dan yang dibakar adalah bendera kalimat Tauhid. Dengan pernyataan itu ia berusaha menggiring opini untuk menjadikan Banser sebagai musuh umat Islam serta membentur Banser dengan ormas Islam lain.

Namun dibalik itu, sesungguhnya dia juga sedang membakar kemarahan massa Islam, Setelah massa tersulut, setelah negara gaduh, setelah Banser Ansor dibully, setelah umat Islam berhasil diadu domba segera ia pergi. Polanya persis seperti di Suriah, ia pergi meninggalkan jejak konflik dan kemarahan.

Gus Yaqud Cholil Qoumas, Ketua Umum saya di PP GP Ansor sudah minta maaf atas kegaduhan kecil Banser di Garut, TAPI TIDAK ATAS PEMBAKARAN BENDERA HTI. YES !!!


Mixil Mina Munir
Wakil Sekjend PP GP Ansor


*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top