Merayakan Rode, Merayakan Pergerakan Mahasiswa 1980-an

publicanews - berita politik & hukumFoto aksi mahasiswa 1980-an yang dipajang di Rumah 610, Gang Rode, Yogyakarta. (Foto: suara)
Oleh: Imran Hasibuan

TERUS terang, ingatanku tentang sebuah rumah di Gang Rode, Yogyakarta, itu sudah sayup-sayup. Salah satu ingatan yang masih tersisa --juga sayup-sayup-- aku ikut dalam sebuah diksusi kecil, tapi serius, tentang reforma agraria. Pembicaranya seorang kandidat doktor antropologi dari Jepang, kalau tak salah Hiroyoshi Kano.

Ketika itu, aku masih seorang mahasiswa semester lima di FISIP Universitas Nasional Jakarta. Keberadaanku di Yogyakarta gara-gara bertugas sebagai 'asisten' Amir Husin Daulay (AHD), senior di kampus yang paling berjasa menceburkanku di dunia pergerakan pers mahasiswa masa itu. Di akhir tahun 1980-an itu, AHD tengah sibuk mengurus persidangan karibnya, Bonar Tigor Naipospos, yang dituduh rezim Orde Baru menjadi dalang distribusi buku-buku Pramoedya Ananta Toer --terutana tetralogi Pulau Buru-- yang sudah dinyatakan terlarang beberapa tahun sebelumnya.

Begitu Cok i--nama panggilan Bonar Tigor-- ditangkap aparat di Jakarta, AHD memutuskan tinggal di Yogyakarta selama persidangan. Nah, untuk membantunya menangani urusan-urusan sepele --membawa buku titipan dari PSH dan Kompas Gramedia, pakaian, dan sebagainya-- tentu ia perlu 'asisten'. Sialnya, anak bawang yang tinggal seatap di rumah kontrakan sekaligus markas 'Kandang Sapi' di gang sempit Jl. Siaga Pasar Minggu, tinggal saya. Maka terpaksalah aku, yang jadi 'asisten', kerap bolak-balik Jakarta-Yogyakarta. Kelak komunitas pergerakan 'kandang sapi' ini menjadi Pijar Indonesia.

Nah, seingat ku, ada beberapa kesamaan antara Pijar dan Rode. Misalnya, para.pentolannya sama-sama anak-anak perantau: Pijar didominasi anak-anak Medan, sedangkan Rode lebih beragam-- anak Aceh, Palembang, dan Sulawesi.

Kesamaan lain, tentu saja, anak-anak Pijar dan Rode adalah elemen penting dalam pergerakan mahasiswa masa itu. Di Yogyakarta sendiri ada elemen pergerakan lainnya, seperti anak-anak Balairung UGM, anak-anak pers mahasiswa "Arena"" IIAIN Sunan Kalijaga , dan kelompok mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI).

Sedangkan di Salatiga ada anak-anak Geni yang kebanyakan mahasiswa UKSW. Di Bandung juga cukup.banyak kelompok elemen gerakan mahasiswa, terutama mahasiswa dari ITB, Unpad, dan Unisba.

Yang juga aku ingat tentang kawan-kawan Rode, juga kawan-kawan pergerakan lainnya, adalah menggalang jaringan kerjasama menggerakkan kasus-kasus ketidakadilan yang dialami rakyat Indonesia. Beberapa kasus bahkan kemudian menjadi "isu nasional", seperti "Kasus Kedung Ombo" dan kasus konflik tanah/agraria lainnya.

Bagusnya, perkawanan antar aktivis pergerakan 1980-an itu masih terjalin hingga hari ini. Tentu dengan intensi personal masing-masing.

Kini, sebagian aktivis Rode sudah jadi "orang penting". Muhammad Yamin saat ini menjadi Ketua Umum DPN Seknas Jokowi, salah satu elemen penting relawan Jokowi. Ifdal Kasim, pernah menjabat Ketua Komnas HAM. Dan Abdul Haris Semendawai, sudah dua periode menduduki jabatan Ketua LPSK.

Yang juga pantas diberi tabik adalah hingga hari ini Rode masih eksis, semangat dan kaderisasi. Pertengahan November nanti anak-anak Rode akan merayakan 30 tahun eksistensinya. Perayaan ini juga merayakan pergerakan mahasiswa 80-an.

Serpong, 11 Oktober 2018
Imran Hasibuan

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top