SBY: Kepemimpinan Melodramatik dan Politik Dua Kaki

publicanews - berita politik & hukumSusilo Bambang Yudhoyono. (Foto: istimewa)
Oleh: Muhammad Yamin

BEBERAPA waktu lalu, saya menulis tentang tipe kepemimpinan baru yang "melampaui" teori tiga tipe kepemimpinan kepemimpinan Max Weber: tradisional, kharismatik, dan rasional. Itulah tipe kepemimpinan melodramatik. Pelopornya tak lain Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY, Presiden Keenam RI.

Tipe kepemimpinan melodramatik bisa jadi hanya muncul di Indonesia. Pemimpin tipe ini berusaha meraih simpati rakyat dengan cara memerankan diri seakan sebagai korban (playing victim), serta kerap menampilkan diri sebagai figur yang baperan alias membawa-bawa perasaan dalam ranah politik. Seorang pemimpin melodramatik mendasarkan sumber otoritasnya berdasarkan rasa kasihan dan terharunya rakyat.

Baru-baru ini gaya melodramatik ini muncul kembali. Menyusul artikel Asia Sentinel, situs berita berbasis di Hongkong, berjudul SBY Government: Vast Criminal Conspiracy, sang mantan presiden ini merasa menjadi korban fitnah. Artikel yang ditulis Jon Berthelsen itu mensinyalir pemerintahan SBY secara konspiratif dan sistematis telah meraup sekitar USD 12 miliar atau setara Rp 177 triliun, termasuk dari skandal Bank Century. Lantas, semua anak-buah SBY pun melantunkan koor yang sama seperti bosnya. Padahal, kalau mau mengklarifikasi berita yang dituduh fitnah itu, SBY dan barisan anak-buahnya tinggal melakukan upaya hukum, tidak cuma berkoar-koar di media massa. Apa susahnya melakukan upaya hukum atau klarifikasi? Alamat redaksi Asia Sentinel jelas adanya, begitu pula si penulis berita.

Dalam pidato politik peringatan ulang tahun Partai Demokrat kemarin, SBY masih melantunkan lagu melow yang sama, sambil mengatakan bahwa akan memastikan mengambil langkah hukum terhadap para pengedar berita fitnah tersebut. Ya...kita tunggu saja sejauhmana langkah hukum yang akan diambil SBY, dan bagaimana hasilnya nanti.

Tak lupa dalam pidato politik yang sama, SBY mengumbar berbagai pencapaian selama masa sepuluh tahun masa pemerintahannya. Mungkin saja sebagian pencapaian itu ada benarnya. Tapi, pencapaian itu tidaklah membekas kuat dalam memori kolektif rakyat Indonesia.

Dengan pencapaian tak berbekas dan gaya kepemimpinan melodramatik yang masih dianut dan dijalankannya, terus terang saya meragukan SBY mampu membawa Partai Demokrat mencapai kejayaan di masa depan.

Mengapa saya katakan begitu? Karena karakter kepemimpinan SBY yang tidak mengusung nilai-nilai utama dalam berpolitik. Salah satunya adalah karakter SBY yang tidak setia. Rekam jejak ketidaksetiaan itu paling nyata terlihat saat ia bermain politik "dua muka" menjelang pilpres 2004. Meski kemudian SBY berhasil menang dalam pilpres masa itu, politik "dua muka" itu telah meninggalkan bekas yang tak mudah terhapus. Masih banyak lagi jejak ketidaksetiaan SBY, tapi karena akan terlalu panjang untuk ditulis dalam kesempatan ini, kita lewatkan saja.

Nah, jika belakangan ini muncul pula berita-berita tentang politik "dua kaki" yang dilakukan Partai Demokrat, yang notabene dipimpin SBY dan keluarganya, makin menegaskan lagi karakter tidak setia dalam berpolitik. Meski dengan dalih macam-macam dari sejumlah petinggi Partai Demokrat, rakyat sudah mahfum politik "dua kaki" dalam Pilpres kali ini nyata adanya.

Mungkin SBY dan anak buahnya merasa yakin strategi "dua kaki" akan menuai sukses sebagaimana politik "dua muka" dulu. Tapi, sejatinya mereka sedang mempersiapkan kuburan bagi Partai Demokrat. Tanda-tanda ke arah itu sudah terlihat. Dan ketika itu tragedi SBY dan Partai Demokrat itu terjadi, nyaris tak ada rakyat Indonesia yang akan menangisinya.

Muhammad Yamin
Ketua Umum DPN Seknas Jokowi

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top